Melacak Rujukan Keagamaan Sugi Nur dalam Ceramah-ceramahnya

Melacak Rujukan Keagamaan Sugi Nur dalam Ceramah-ceramahnya

Seberapa dalam wawasan keagamaan Sugi Nur, yuk kita lacak rujukan keagamaan dalam ceramah-ceramahnya.

Video viral Sugi Nur saat menjawab pertanyaan-pertanyaan jamaahnya di Sumatera Utara menimbulkan pertanyaan di benak banyak orang. Teman serumah saya ketika melihat video ini agak jengkel, bahkan ia sempat bertanya-tanya bagaimana bisa banyak orang fanatik membela pendakwah seperti Sugi.

Karena itu, saya mencoba melakukan penelitian media untuk menelisik seberapa dalam rujukan keislaman Sugi Nur dalam membangun arugumentasi-argumentasi saat ceramah. Temuan-temuan ini sedikit banyak bisa dijadikan pedoman untuk menilai seberapa dalam wawasan keislaman seorang Sugi Nur.

Saya mencoba meniliti video-video ceramah yang diunggah pada kanal Youtube Sugi Nur yang bernama MUNJIAT Channel. Kanal Youtube tersebut telah aktif sejak empat tahun yang lalu, tepatnya pada bulan Desember 2014. Hingga tulisan ini diunggah, kanal tersebut telah memiliki 196.363 Subscriber.

Read More

Aktifitas Sugi Nur di Channel Youtubenya: Dari seminar motivasi, ceramah agama, lagu religi, hingga jualan.

Video pertama yang diupload hanya sekedar slide foto aktivitas Sugi Nur yang mengisi seminar spiritual di sebuah gedung, tidak ada materi ceramah atau seminar yang ditampilkan, hanya foto-foto kegiatan Sugi mengisi seminar. Di tahun pertama ini, aktifitas channel juga tidak seberapa aktif. Terhitung hanya satu video yang diunggah.

Di tahun 2015, video yang diupload mulai banyak dan beragam, terhitung sebanyak 14 video diupload pada tahun 2015, mulai video seminar motivasi hingga lagu religi. Kemudian di tahun 2016, channel ini sangat stagnan, hanya upload dua video, video baca Al-Quran yang dilantunkan seorang anak kecil perempuan dan lagu religi lantunan Sugi sendiri.

Setelah di tahun 2016 hanya mengunggah dua video, di tahun 2017 channel ini mulai mengunggah banyak video, hampir 250an video. Di tahun 2018, video yang diunggah mencapai 400an.

Video-video yang diunggah bermacam-macam, selain ceramah dan lagu religi, Sugi juga mulai menjawab isu-isu keagamaan. Di awal-awal, Sugi intens menjawab pertanyaan-pertanyaan keagamaan yang berkaitan dengan wahabi, mulai tuduhan bidah, syirik, barakah air minum, hingga isbal.

Tidak hanya itu, Sugik juga menawarkan beberapa promosi dagangan, dari kopi hingga umrah bersama. Bahkan beberapa klarifikasi ceramahnya juga diunggah di channel ini.

Video tanggapan terhadap pernyataan Khalid Basalamah tentang barakah menjadi video yang cukup banyak dibagikan. Bahkan saya sendiri pernah melihat video ini bertebaran di time line Facebook saya.

Namun, beberapa bulan belakangan, video Sugi lebih sering membahas tema-tema politik dan menyudutkan beberapa kelompok.

Rujukan Keagamaan: Hampir tidak pernah mengutip kaul ulama dengan jelas.

Tulisan ini hendak menelisik lebih dalam argumentasi-argumentasi yang digunakan Sugi Nur dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan keagamaan yang sedang dibahas. Seberapa akurat data atau dalil yang digunakan, buku apa yang sering digunakan dan siapa ulama yang sering dikutip.

Saya tidak ingin membahas video-video Sugi tentang politik karena akan berpotensi bias. Selain itu, video politik juga sarat kepentingan, baik kepentingan Sugi sebagai pendukung calon tertentu, juga kepentingan penulis.

Sebagai sampel, saya memilih sepuluh video Sugi Nur yang khusus membahas pertanyaan-pertanyaan keagamaan. Video-video ini dipilih secara acak dan merata dari awal channel ini dibuat hingga beberapa bulan belakangan.

Di antara Video yang dijadikan sampel adalah: 1) wahabi jiancok jaran | hatimu hitam sehitam jidatmu | yg mrasa paling suci jgn lihat video ini, 2) isbal | kain panjang menutup mata kaki | tidak akan membuat engkau masuk neraka.3) hukum bisnis online | sangat mengerikan…!!! | engkau akan hancur, 4) baca al-quran salah – salah ?? nggak masalah.. tetap sah, 5) kencing berdiri | takbir | gusnur, 6) hukum mencintai suami orang, 7) cerai | seminggu kemudian langsung nikah lagi | nashoro itu bukan musuh, 8) belajar tanpa guru apa bisa sesat, 9) gus nur | tidak boleh men-sholatkan pendukung penista agama ?? 10) tidak boleh mengagumi orang kafir walaupun pemain bola.

Dalam beberapa ceramah di atas, Sugi memang menggunakan beberapa istilah keagamaan yang cukup tepat. Namun ada beberapa istilah yang menurut saya agak aneh, yaitu sering mengulang beberapa kata yang tidak ada kaitannya dengan argumen yang ia ucapkan, di antaranya, naqliyah, aqliyah, tekstual, kontekstual. Ia bahkan menyamakan antara tekstual dan kontekstual, padahal keduanya berbeda.

Ada yang menarik dalam ceramah-ceramah Sugi, saat ia berceramah menggunakan layar proyektor, rujukan keagamaannya lumayan jelas, seperti ketika ia menjelaskan hukum isbal. Ia menyebutkan berbagai hadis dan Al-Quran yang berkaitan dengan permasalahan tersebut.

Saya mencatat ada beberapa sumber hadis yang cukup otoritatif, seperti Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim tentang isbal. Selain itu, ia juga mengutip beberapa kaul ulama dalam khazanah kitab keislaman. Seperti, Iqna, al-Mughni, Bazlul Majhud, Al-Minhaj. Namun ternyata saat dilakukan cek plagiasi, materi ceramah Sugi ini sangat mirip dengan salah satu artikel di Muslim.or.id, baik susunan katanya maupun rujukan kitab yang digunakan.

Namun, ketika ia berceramah secara langsung, tanpa menggunakan proyektor, sesekali ia mengutip ayat Al-Quran, namun lebih sering mengutip nama surat dan nomer ayatnya saja. Bahkan, ia beberapa kali salah mengutip ayat Al-Quran dan tidak tuntas. Salah satunya an-Nisa ayat 29. Seharusnya ayat yang benar adalah amwalakum tapi ia membaca ainakum. Mungkin kesalahan penyebutan ayat ini tidak disengaja, tapi kesalahan seperti ini tidak sekali dua kali.

Saat mengutip hadis, ia juga tidak pernah membacakan lafaz hadisnya. Ia hanya menyebutkan maksud dari hadis tersebut, bahkan terkadang ia lupa substansi hadisnya seperti apa, pokoknya ia sebut jawabannya ada dalam hadis.

Beberapa permasalahan yang seharusnya ia jawab dengan menggunakan argumentasi yang otoritatif malah dijawab dengan retorika yang memusingkan. Kata-kata “dalil aqli dan naqli” yang sering ia sebut, tidak dimanifestasikan dalam berargumen, ia cukup menjadikannya pembuka sebelum retorika njelimet-nya diutarakan.

Seperti saat menyebutkan bahwa wajib hukumnya menyolatkan jenazah seorang muslim, walaupun ia memilih Ahok, namun di sisi lain, ia membolehkan untuk tidak menyalati orang yang tidak melakukan shalat.

Pun saat membantah argumen Khalid Basalamah tentang barakah. Ia hanya berkutat pada ad hominem. Ia sama sekali tidak menyentuh dalil dan argumen nash yang telah diberikan oleh Khalid. Justeru hanya cacian terhadap pribadi Khalid dan beberapa orang yang sefaham dengan Khalid. Hal yang sama juga bisa kita lihat saat Sugih menjawab masalah-masalah keagamaan yang lain.

Dalam ceramahnya yang tidak menggunakan proyektor, ia hampir tidak pernah menyebut kaul ulama atau kitab-kitab keislaman yang biasa digunakan untuk mendukung argumen. Ia selalu puas dengan kutipan ayat dan hadis yang tidak ia sebutkan lafaznya disisipi dengan retorika mbulet-nya, bahkan paling banyak diisi cacian dan makian.

Hal ini tentu berbeda dengan para dai yang terkenal lewat Youtube seperti Ust. Abdul Somad, maupun Ust. Adi Hidayat, yang secara gamblang menjelaskan rujukan-rujukan dan kaul ulama yang mereka gunakan. Sehingga masyarakat bisa mengkroscek langsung argumen ustadz tersebut ke kitab-kitab aslinya.

Dari sepuluh sampel video yang saya teliti saya membuat kesimpulan bahwa Sugi Nur, dalam bahasa mustalah hadis, hanya dhabit fi kitabah, artinya ia ‘sedikit’ bisa dipercaya jika berceramah dengan menggunakan proyektor atau membawa catatan; bukan dhabit fi as-sudur, yakni ketika ia berceramah tanpa teks atau projektor cenderung ngawur dan sering mendahulukan ad hominem dan caci maki, bahkan beberapa kali tidak mengetahui dan salah mengucapkan ayat Al-Quran.

Kesimpulan saya ini bisa dicek langsung melalui sepuluh sampel video yang saya sebutkan di atas. Bagi anda yang objektif, saya yakin akan sependapat dengan saya.

Wallahu A’lam.