Maqashid Puasa Perspektif Syekh Izzudin bin Abdissalam

Maqashid Puasa Perspektif Syekh Izzudin bin Abdissalam

Syeikh Izzuddin Abdul Aziz bin Abdussalam (wafat 660 H) dikenal sebagai ulama besar bermadzhab Syafi’i dengan karya-karyanya yang genial. Salah satu karya masterpiece tokoh yang oleh Imam al-Subki dijuluki “pemimpin para ulama” ini adalah “Qawa’id al-Ahkam fi Mashalih al-Anam”. Sebuah kitab kanonik yang mengulas dengan baik tentang tujuan-tujuan hukum.  Selain menulis sejumlah karya lain dalam berbagai tema, salah satu karya Syekh Izzudin yang secara khusus membahas puasa adalah “Maqashid al-Shaum”.

Meskipun tergolong kecil dan tipis, kitab ini sangat baik dan enak untuk dibaca. Terlebih di bulan suci Ramadan yang akan tiba beberapa hari lagi. Dalam kitab tersebut, Syeikh Izzuddin membaginya  menjadi 10 bab.

Pertama: kewajiban puasa

Read More

Dalam bab ini secara singkat Syekh Izzudin mengulas dasar hukum diwajibkannya puasa Ramadan. Ia merujuk kepada sejumlah dalil primer seperti al-Quran dan Hadis.

Kedua: Keuatamaan puasa.

Syekh Izzuddin menyampaikan beberapa faidah berpuasa, di antaranya adalah diangkatnya derajat manusia, diampuninya beberapa kesalahan, mengendalikan syahwat, menggerakkan semangat untuk memperbanyak sedekah, menyempurnakan taat, menyukuri nikmat Allah, menghindarkan diri dari bisikan-bisikan kemaksiatan, membersihkan hati dan menyehatkan badan.

Satu persatu dari beberapa keutamaan puasa tersebut dijelaskan Izzuddin dengan lugas lengkap dengan dalil naqli dan ‘aqlinya.

Ketiga: Adab berpuasa.

Di antara adab berpuasa yang disebutkan Syekh Izzudin adalah menjaga lidah dan anggota tubuh dari kemaksiatan, membaca do’a berbuka puasa yang diajarkan Rasulullah, mengawali takjil berbuka puasa dengan kurma atau air putih, menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan santap sahur.

Keempat: Hal-hal yang harus dihindari orang berpuasa

Di antaranya puasa wishol (berpuasa selama lebih dari satu hari tanpa diselingi berbuka), mencium istri, membekam, memakai celak dan menyemprotkan air ke lubang hidung (istinsyaq) saat berwudlu’.

Kelima: mencari lailatul Qadr.

Dalam bab ini, Syekh Izzuddin menjelaskan keutamaan lailatul Qadr, waktu yang paling diharapkan akan datangnya lailatul Qadr, amaliyyah yang dilakukan bagi yang menemui lailatul qadr dan masih banyak lagi penjelasan terkait malam seribu bulan ini.

Bab Keenam: Keutamaan i’tikaf, bersedekah dan membaca al-Qur’an di bulan Ramadlan.

Beberapa hal tersebut secara gamblang dijelaskan Izzuddin dengan dalil-dalilnya.

Bab Ketujuh: keutamaan meneruskan puasa Ramadlan dengan berpuasa 6 hari di bulan Syawal

Bab Kedelapan, puasa sunah mutlak. Sebagimana salat, dalam berpuasa juga dikenal dengan puasa sunah mutlak. Dalam bab ini, beliau menyampaikan secara singkat keutamaan dalil puasa sunah mutlak.

Kesembilan, puasa-puasa yang disunahkan. Seperti kitab-kitab fikih lainnya, Syekh Izzuddin menyebut beberapa puasa yang disunahkan. Puasa Daud (sehari puasa sehari tidak), Puasa dahr (puasa terus menerus), puasa bulan-bulan mulia, puasa senin-kamis dan lain sebagainya. Yang unik dari bab kesembilan ini, beliau memberi pandangan yang luar biasa tentang beberapa hadits yang terkesan bertentangan mengenai manakah yang lebih utama antara puasa Daud dan puasa Dahr.

Kesepuluh, Dalam bab ini Syekh Izzudin mengulas hari-hari yang dilarang berpuasa. Berpuasa di dua hari raya, hari syak dan lain sebagainya. Bab ini oleh Syekh Izzudin dijelaskan beserta dalil- dalil yang melarangnya dengan sangat brilian.

 

*) penulis adalah pegiat Komunitas Literasi Pesantren (KLP), tinggal di Kediri