Konsep Sedekah Menurut Abu Dzar al-Ghifari

Konsep Sedekah Menurut Abu Dzar al-Ghifari

Abu Dzar memiliki beberapa ekor unta yang digembalakan oleh seorang laki-laki tua dan lemah. Suatu ketika, seorang laki-laki Bani Sulaim datang kepadanya dan menyampaikan keinginannya, “Aku ingin berkhidmat kepadamu agar dapat mengambil manfaat dan pelajaran darimu. Aku siap menggembalakan unta-untamu agar aku dapat mengambil berkah darimu.”

Jawab Abu Dzar, “Temanku adalah yang siap mentaatimu. Jika engkau bersedia mentaatiku, tinggalah bersamaku. Jika engkau tidak mendengar ucapanku, aku tidak memerlukanmu.” Lelaki dari Bani Sulaim itu bertanya, “Ketaatan manakah yang Anda maksudkan?.” Beliau menjawab, “Jika aku menyuruhmu menyedekahkan hartaku, hendaklah engkau langsung memilih hartaku yang terbaik.” Kata laki-laki itu, “Aku siap menerimanya.” Maka tinggalah pemuda itu bersamanya.

Selanjutnya pemuda itu bercerita, “Pada suatu hari, seseorang memberitahukan bahwa ada beberapa orang yang tinggal di dekat mata air dalam keadaan darurat dan sangat membutuhkan makanan. Maka beliau menyuruhku, ‘Ambilkan seekor unta!.’ Setelah itu, aku pergi melihat unta yang terbaik.

Read More

Ternyata ada seekor unta yang sngat bagus, harganya mahal dan sangat penurut ditunggangi. Sesuai dengan janjiku bahwa aku akan memilihkan pemberian yang terbaik, maka aku bawakan unta itu untuknya. Namun kemudian hatiku mengatakan bahwa unta ini terlalu bagus untyk diberikan kepada orang-orang miskin sebagai makanan.

Majikanku dan orang-orang yang berhubungan dengannya sangat membutuhkan unta itu. Aku segera mengembalikannya dan aku ambil seekor unta betina yang kualitasnya di bawah unta tadi dan merupakan unta terbaik. Lalu aku bawa unta betina itu kepadanya. Setelah melihat unta yang aku bawa kepadanya, beliau berkata, ‘Engkau telah menghianatimu.’

Aku memahami maksudnya, maka aku segera kembali mengambil unta yang terbaik tadi. Lalu aku bertanya kepada orang-orang yang di sebelahnya, ‘Apakah ada dua orang di antara kalian yang siap bekerja karena Allah?.’ Dua orang berdiri menyatakan kesediaannya. Abu Dzar berkata kepada mereka, ‘Sembelihlah unta ini dan potong-potonglah sebanyak rumah warga di sekitar mata air, lalu bagikanlah ke setiap rumah, dan rumah Abu Dzar termasuk dalam hitungan yang memerlukan, memperoleh bagian yang sama dengan yang lain.’”

Setelah memberi petunjuk pembagian daging tersebut, beliau memanggilku, ’Aku telah menyuruhmu agar memilih sesuatu yang terbaik untuk disedekahkan, tetapi engkau dengan sengaja atau tidak telah mengingkarinya. Tidak apa-apa jika engkau memang lupa.’ Jawabku, Sebenarnya aku tidak lupa. Awalnya aku telah memilih unta yang terbaik tadi, tetapi hatiku berkata bahwa unta itu paling baik dalam bekerja dan Anda sangat memerlukannya. Karena itulah aku tinggalkan unta itu.

Ia berkata, ‘Benarkah engkau meninggalkannya untuk keperluanku?.’ Aku menjawab, ‘Ya, sengaja aku tinggalkan untuk keperluan Anda.’ Beliau berkata, ‘Tidakkah engkau ingin mengetahui kapan hari keperluanku?. Hari keperluanku adalah adalah ketika aku akan diletakkan dalam kubur seorang diri. Itulah hari keperluanku yang sebenarnya.

Dalam harta itu ada tiga pemilik; pertama adalah takdir. Ia begitu saja mengambil hartamu yang baik maupun yang buruk tanpa menunggu apa pun. Kedua, pewaris yang menanti hartamu. Jika engkau mati, mereka akan mengambilnya. Dan yang ketiga adalah dirimu sendiri. Jika bisa, jangan menjadi yang paling lemah di antara ketiganya. Allah berfirman, ‘Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebaktian (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang paling kamu sukai.’ Oleh sebab itu, infakkan harta yang paling engkau sukai sehingga akan menjadi tabunganku di akhirat kelak.’”