Kisahku KKN di Kamboja dan Bertemu Muslim Minoritas di Sana

Kisahku KKN di Kamboja dan Bertemu Muslim Minoritas di Sana

Setelah kuarang lebih selama sebulan menjalani program KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Cambodia. Kami tinggal di daerah Kandal Province yang kurang lebih 1,5 jam dari Phnom Penh. Lebih tepatnya tinggal di Cambodian Islamic Center (CIC) dan Norol Iman bording school Chroy Metrey.

Di tempat KKN ini kami di dampingi oleh Ustad Ardi yang kebetulan berasal dari Indonesia dan menjadi pengajar di CIC dan Norol Iman. Tidak hanya bersama Ustad Ardi kami juga mendapat pendamping dari orang Kamboja tulen, sebut saja Hasany, begitu kami memanggilnya. Beruntungnya Hasany bisa bahasa Melayu, sehingga memudahkan kami berkomunikasi dengan masyarakat dan juga siswa siswi di sana. Pada akhirnya Hasany lah yang menjadi penerjemah dalam berbagai program-program yang kami laksakan di sana.

Mendengar cerita Ustad Ardi, beliau menceritakan bahwa mayoritas penduduk yang tinggal di Chroy Metrey merupakan muslim keturunan “Champa”. Istilah Champa begitu terkenal terutama di Indonesia, sebab sejarah penyebaran Islam di pulau Jawa berasal dari Kerajaan Champa, sebagaimana kisah Sunan Ampel dan Sunan Gunung Djati yang mempunyai garis keturunan Champa. Hingga ada makam di Gresik Jawa Timur yang itu juga berasal dari Champa.

Read More

Menjadi kaum Minoritas di Kamboja membuat masyarakat muslim di sana menetap dalam satu lingkungan, seperti halnya yang kami tinggali saat ini. Secara tidak langsung menjadi kebanggaan tersendiri menjadi minoritas yang hidup damai dengan mayoritas sekelilingnya. Ini yang patut kita acungi jempol. Perbedaan bukan alasan untuk membenci tapi perbedaan adalah untuk di kolaborasi menjadi hal yang positif, ini yang saya amati di Kamboja.

Dalam kehidupan sehari-hari, mereka menggunakan dua bahasa, yakni bahasa Khmer sebagai bahasa resmi Kamboja, dan bahasa Cham. Uniknya, beberapa bahasa Cham mirip dengan bahasa Indonesia, seperti hitung-hitungan sa (satu), dua (dua), angota tubuh tang (tangan) dung (hidung). Namun untuk bahasa keseharian di kampung ini menggunakan bahasa Cham, dan ada yang tidak bisa bahasa Khmer.

Mata pencaharian mereka ada yang menjadi supir tuk-tuk (kendaraan umum khas Kamboja yang bisa memuat hingga 6-7 orang), penangkap ikan di sungai Mekong, pedagang, guru dan ada juga yang memelihara hewan ternak, ini kami ketahui karena di sekitar rumah di depan, disamping, dibelakang ada hewan ternak sapi.

Adapun mazhab yang dianut oleh muslim keturunan Cham ini hampir semuanya bermazhab Syafi’i, ini seperti yang dijelaskan Ustad Ardi pada kami. Ketika beribadah, mereka sering memakai sarung dan peci putih yang di beri lingakaran pakai kain dikepala, hampir semua menggunakan jubah putih dari anak kecil, pemuda hingga orang-orang tua, namun bawahnya tetap memakai sarung. Sarung mereka tak jauh-jauh seperti Indonesia seperti Gajah duduk, Atlas yang bermotif kotak-kotak.

Secara postur tubuh dan wajah, mereka sangat persis dengan muslim Indonesia. Pernah suatu ketika penulis datang ke warung untuk membeli sabun mandi, tak tahu bahwa yang beli adalah dari Indoensia (mereka menyebutnya Indonisi), penjual itu pun mengajak penulis bicara dengan menggunakan bahasa Cham.

Penulispun sepontan memberi isyarat tubuh bahwa tidak bisa dan tidak paham bahasa tersebut. Ternyata si penjual paham setelah penulis mulai mengajak bicara dengan bahasa Indonesia. Penjual itu pun berkata, “Saya kira orang sini, muka-muka same (dengan logat bahasa malay).” Memang postur tubuh dan warna kulit hampir sama.

Muslim di Kamboja sangat baik, hal ini penulis ketahui saat penulis tinggal di sana. Hampir setiap makan kami diberi makanan untuk santap bersama, walaupun lidah kami kurang cocok, tapi kami berusaha menikmati masakan itu.

Wallahu a’lam.

 

*Penulis adalah Salah satu mahasiswa KKN Internasional UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta di Kamboja