Kenapa Sebagian Kita Gemar Mengaitkan Bencana Alam dengan Azab?

Warung dan ibu-ibu di Dusun Lendang Bajur. Tampak, warung itu hancur. Foto ini di daerah Lombok Barat. Pict by Antara Foto/Ahmad Subaidi

Kenapa Sebagian Kita Gemar Mengaitkan Bencana Alam dengan Azab?

Mengaitkan bencana dan politik adalah kejahatan atas kemanusiaan dan layak kita bertanya, Anda muslim?

Indonesia sedang ramai dengan pemberitaan musibah. Kali ini gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (5/8) dan sekitarnya dengan kekuatan 7 SR setelah sebelumnya juga terjadi gempa bumi dengan kekuatan 6,4 SR pada 29 Juli 2018. Tapi, ada sebagian dari kita yang tega menggolongkannya sebagai azab Allah hanya karena secara kebetulan Tuan Guru Bajang, pemimpin NTB, mendukung Jokowi. Anda bisa bisa dengan gampang melihat ragam komentar itu di Instagram TGB atau di media sosial lainnya. Lantas, kita bisa bertanya, mengapa begitu tega?

Memang, setiap musibah pasti mengandung hikmah. Dan barangkali salah satu hikmah bencana alam kali ini adalah, akhirnya, linimasa kita maupun media nasional, baik daring atau cetak tidak lagi disesaki oleh sedu-sedan Capres/Cawapres zaman now untuk sementara waktu.

Kendati ada saja yang mengaitkan bencana alam itu dengan isu recehan mengingat ini adalah tahun politik. Sehingga apa-apa yang cenderung menguntungkan akan dipahat sedemikian rupa untuk menusuk lawan politik dengan memonopoli fenomena semesta, dan di atas itu semua dengan sedikit racikan dalil agama.

Read More

Alih-alih memahami jika gempa bumi itu terjadi akibat lempeng tektonik bergerak atau deformasi batuan yang bangkit dengan mekanisme pergerakan Patahan Naik (thrust fault). Penjelasan seperti itu pun nyaris tak masuk akal ketimbang argumen pro-penista agama, rezim anti Islam, kriminalisasi ulama dan segudang tsunami akal sehat lainnya.

Pengertian seputar azab dan cobaan pun akhirnya semakin kabur. Dipikir jika ada gejala alam seperti gempa bumi, kebakaran hutan atau banjir, maka harus diperjelas dulu; apakah saat terjadi bencana, lokasi tersebut dipimpin seorang “pro-rezim anti-Islam” atau tidak. Jika iya, maka itu adalah azab. Jika ternyata yang memimpin adalah jagoan politik yang satu frekuensi ideologis, maka itu adalah ujian.

Di sisi lain, kalau ada umat yang eksploitatif terhadap alam dengan menggunduli lahan, misalnya, sehingga menjadi tandus dan terjadi banjir dianggaap itu adalah mensyukuri nikmat Tuhan. Atau keimanan yang tak bergidik sedikit pun melihat penindasan terhadap mereka yang lemah serta korupsi besar-besaran yang dilakukan oleh kelompok sendiri. Lebih jauh, agitasi kebencian terhadap kelompok minoritas atau menolak mensalati jenazah yang mendukung pemimpin kafir malah dikira itu bagian dari bentuk dakwah islami masa kini.

Pada titik inilah nalar kewarasan kita turut diuji menyambut geliat alam. Padahal, di samping ada banyak penjelasan ilmiah untuk memahami gejala alam dengan rasional, dalam banyak literatur keislaman sendiri juga sangat melimpah ruah dalil yang mengatakan bahwa adanya bencana itu justru membersihkan dosa dan mengangkat derajat di sisi Tuhan. Karena itu di banyak tempat Alquran menyuruh kita agar bersabar.

Bencana bahkan bukan hanya untuk mengingatkan kita pada Dzat Yang Maha Kuasa, tapi juga meneguhkan naluri kemanusiaan. Sehingga dari situ, kepedulian antara satu dengan yang lain menjadi sebuah harmoni kerukunan menuju keterpaduan dengan seluruh umat manusia.

Pendek kata, mereka yang masih saja menanggalkan akal sehat dengan seenak hati memahami peristiwa dengan kacamata oportunis ini, pasti tidak pernah mendengar lagu Untuk Kita Renungkan-nya Ebiet G Ade, bahwa “anugerah dan bencana adalah kehendak-Nya”.

Akhirnya memang, bila kita kaji lebih jauh, dalam kekalutan masih banyak tangan yang tega berbuat nista. Atau jangan-jangan alam mulai enggan bersahabat dengan kita. Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.