Jalan Budaya ketika Langit tak Lagi Sama (Bag-1)

Jalan Budaya ketika Langit tak Lagi Sama (Bag-1)

Jalan Budaya ketika Langit tak Lagi Sama (Bag-1)

Oleh: Arswendo  Atmowiloto

Kebenaran, juga kebebasan,disampaikan melalui sapa,juga melalui media sosial.

                Juga kalau ingin menyangkalnya.

Bagian Pertama : Jalan Budaya

Begitulah peristiwa berlangsung secara terus menerus, tanpa ada libur atau cuti, di saat kita tidur atau terjaga. Kebenaran dirumuskan, disampaikan, didesakkan, sebagai bagian dari tanggung jawab sebagai manusia untuk kesetaraan dan keadilan. Dan sesungguhnya kemerdekaan menjadi syarat untuk terjadinya komunikasi ini.

Tak penting apa pun agama atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu

                yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya agamamu.”

Ini barang kali contoh kata sakti yang disampaikan oleh Sang Guru Gus Dur, mengenai kebenaran baru  menjawab kegamangan mengenai rumusan apa itu agama, apa itu suku. Yang ternyata pada satu titik tertentu dalam kebersamaan kita pernah dan masih menjadi titik rawan.  Bahkan sampai hari inji pun, ada elite politik yang bertanya : apa agamamu, sebelum mulai pembicaraan. Sesuatu yang sungguh mencemaskan, karena bahwa tawaran pendekatan yang pernah dirumuskan dengan bijak seakan tak pernah didengar.  Agaknya perlu disuarakan kembali, disapakan kembali.

Peristiwa menyapakan dengan cara ini saya istilahkan dengan Jalan Budaya, yaitu pendekatan dengan unsur-unsur budaya dengan segala dinamikanya.  Kita akan mengenali Jalan Budaya dari ciri-cirinya, atau unsur-unsurnya, yang antara lain :

Unsur pertama, kreativitas. Daya kreatif adalah menciptakan sesuatu yang baru dan atau memperbarui ciptaan lama. Hampir semua karya seni memerlukan kreativitas dalam ciptaannya, dan karenanya membedakan diri dengan apa yang dihasilnya melalui insting pada binatang.

Ini contoh-contohnya:

  • Seekor itik, begitu menetas dari telornya, langsung bisa berenang. Insting alamiah menyimpankan kemampuan itu. Tapi dari sejak dulu tak ada itik yang berenang gaya dada, gaya kupu-kupu atau gaya punggung atau gaya katak.
  • Seekor kumbang bisa membangun tempat tinggalnya sangat efisien, pertukaran udaranya keluar masuk dengan bagus, berbentuk segi delapan. Tapi dari dulu tak ada kumbang membangun sarangnya sebagai rumah susun sederhana, model apartemen, mal, dan lain sebagainya.
  • Juga dalam berhubungan intim pun, binatang memakai cara yang sama gayanya.

Ini terbedakan dengan manusia yang kreatif ; banyak gaya , banyak modus, banyak alasan.

Unsur kedua yang menjadi sifat Jalan Budaya adalah : mengedepankan dialog dan bukan

kekerasan. Dan sesungguhnyalah dialog dalam bentuk budaya mendapat tempat yang utama. Dalam perwayangan, Bharata Yuda dari kisah Mahabarata, bahkan ada episode khusus yang mengutamakan dialog sebelum perang besar, yaitu Kresno Duta—atau Kresno yang menjadi duta perdamaian. Dalam pentas wayang orang pun bahkan sebelum adegan peperangan satu lawan satu, melalui tahap dengan bernyanyi. Beberapa bentuk lamaran, atau perkawinan—di Betawi misalnya, diawali dengan dialog bersahut-sahutan . Dari sinilah kekayaan seperti berbalas pantun, menembang dengan “tembang ageng”, diplomasi berbahasa menemukan bentuk kreatifnya.

Dengan tradisi berdialog—dengan segala bumbu humor, kritik pasemon, termasuk ke luar dari tata krama kalau kini cepat terjadi tawuran atau keroyokan, bahkan kadang sebelum ada percakapan apa yang menyebabkan tindak kekerasan.

Jadi sebenarnya kalau kita sering gaduh, itu tidak mengherankan.Yang mengherankan karena pembuat  gaduh tak tahu bahwa dialog itu termasuk kemampuan mendengar. Bukan terus berkoar sampai memar.

Unsur ketiga adalah : ada tanpa meniadakan yang lain. Dalam Jalan Budaya tak ada klaim sebagai satu-satunya kebenaran. Jalan Budaya karenanya mengakui  adanya pendekatan-pendekatan dari disiplin lain,  dan menerima bentuk-bentuk budaya yang berbeda. Dengan demikian tak perlu peniadaan satu capain budaya karena adanya capaian budaya lain atau budaya baru.

Contoh-contoh :

  • Penemuan nasi goreng tidak meniadakan adanya nasi uduk, nasi liwet, nasi begono, atau jenis nasi apapun.
  • Penemuan nasi goreng tak perlu dibatasi bentuk ragamnya. Ia bisa dikombinasikan dengan daging kambing, ikan teri, sea food, siput, atau bahan atau bumbu lain yang dikehendaki.
  • Nasi goreng juga bisa menggunakan nasi  basi, atau nasi hangat.  Beras putih atau merah.
  • Nasi goreng mencerminkan open ended, terbuka penafsiran untuk terus dikembangkan, dan tak masuk penjara definisi yang membatasi.
  • Hal yang kurang lebih sama pada kebedaraan musik dangdut, atau satu gaya tertentu dalam tampilan dangdut, yang tak meniadakan  musik  jenis lain dan atau pilihan cengkok yang berbeda.  Juga film, atau novel, atau lukisan, atau tarian, atau acara atau program.
  • Telah terbukti dan teruji ketika Sardono W. Kusuma mencptakan koreografi baru untuk tari Jawa, atau Bali  yang mencengangkan dunia, tidak menghilangkan tari klasik atau semi klasik. Juga ketika Butet Kertarajasa  bermonolog dan menciptakan pencarian baru,atau Sudjiwo Tejo yang mendalang dengan wayang atau orang, tidak menggusur tokoh atau garapan yang ada. Bisa terus disusun daftar aktor Reza Rahardian di dunia film, atau juga Cak Lontong di dunia komedi, Dee Lestari sebagai penulis perempuan,atau puisi-puisi . Khrisna Pabichara lewat @a1bichara yang dalam disiplin masing-masing tetap hadir dan terus berkarya, tanpa meniada yang ada. Justru kehadirannya memperkaya bentuk, memperluas jangkauan garapan sebelumnya.
  • Begitulah proses dinamis dalam budaya yang tak mengenal close caption,tafsiran yang tertutup. Tak ada tafsiran tunggal, tak ada monopoli kebenaran. Proses kreatif bukan berhenti pada seniman, melainkan proses terus berlangsung di  tengahmasyarakat, atau diantara

 

Unsur keempat, adalah daya berkarya . Jalan Budaya dibuktikan dengan karya, bukan rencana, bukan hanya wacana. Daya berkarya, need for achievement, adalah dorongan untuk membuat sesuatu tanpa disuruh, tanpa diminta atau diiming-imingi. Dorongan untuk berbuat yang akhirnya melahirkan suatu karya, suatu bentuk jadi.

Sesekali bolehlah contohnya karya saya sendiri, seperti  Keluarga Cemara, misalnya. Ketika menuliskan saya tidak menerima honor khusus, gaji  juga tidak naik karenanya. Daya berkarya membuahkan hasil ketika akhirnya cerita pendek itu dikumpulkan, dibukukan dan diterbitkan, kemudian diproduksi sebagai sinetron seri.  Sebetulnya masih ada beberapa contoh lain, tapi cukup satu itu saja.

Daya berkaya, atau dorongan berbuat sesuatu inilah atau “semangat pembebasan “  ini bisa diteruskan. Gethok tular di antara para murid—langsung atau tidak, para santri, para cantrik,  atau mereka yang terinspirasi, terpesona oleh Gus Dur, melakukan secara bersama atau sendiri-sendiri. Akan menjadi luar biasa dalam arti sebenarnya, karena boleh dikatakan beberapa generasi  adalah murid—kalau boleh menyebut diri sebagai murid,  Gus Dur.Wilayah dan ruang keberadaan Gus Dur melipui dunia sebagai  intelektual,politikus,budayawan, presiden, penulis,kiai, sang zahid, pemimpin, “ dewa yang menyamar sebagai kiai”, yang mengilhami tiada henti. Sampai detik ini.

Sedemikian luas ruang-ruang yang terciptakan sehingga merupakan perwujudan berbagai disiplin yang lintas batas, melalalui sekat. Para  murid ini menjadi bagian yang bukan hanya belajar bersama, melainkan juga berani bertindak, berani meneladani.

Unsur kelima, silahkan diisi sendiri. Apakah soal religiusitas atau mungkin soal humor.

Dengan demikian Jalan Budaya barang kali bisa melengkapi pendekatan yang selama ini lebih dikenal  yaitu Jalan Politik, Jalan Hukum, Jalan Keamanan, Jalan Ekonomi, Jalan Pembangunan….. Barang  kali Jalan Budaya memungkinkan penyampaian kebenaran, juga kebebasan lebih beragam…

Barang kali  kita perlu jeda sejenak…. [bersambung]

Arswendo Atmowiloto adalah seorang penulis dan budayawan. Tulisan ini adalah pidato beliau dalam Orasi Budaya Forum Jumat  GusDurian,  6 Mei 2016 di Griya Gus Dur Jakarta.