Jabal Rahmah atau Jabal Arafah: Ekspresi Kebudayaan Islam di Tanah Suci

Dua penamaan dan satu tempat, ekspresi kebudayaan islam sejatinya tidak melulu kaku. Pict by Kang Jamal

Jabal Rahmah atau Jabal Arafah: Ekspresi Kebudayaan Islam di Tanah Suci

Jabal rahmah atau Jabal Arah, kita sering bertanya tentang in, tapi sejatinya itu ekspresi kebudayaan islam

Sebuah bukit kecil di Arafah, sekitar 22 kilometer dari Makkah. Konon, di bukit ini Adam dan Hawa dipertemukan dan dikenalkan kembali [taarruf] sejak keduanya terpisah setelah terusir dari Sorga.

Karena peristiwa itulah bukit ini dinamakan “Arafah” [taarruf berasal dari akar kata A-Ra-Fa mengikuti wazan Ta-Fa-A-La]. Juga dinamakan “Rahmah” [welas asih, kasih sayang] untuk mengenang cinta dan kasih sayang mereka berdua. Di tempat ini pula Jibril mengajari [arrafa] Ibrahim manasik haji.

Untuk mengenang dan mengabadikan peristiwa bersejarah itu, pemerintah Arab Saudi membangun sebuah tugu tepat di puncak bukit ini.

Read More

Orang-orang yang berziarah ke tempat ini biasanya menuliskan sesuatu di dinding tugu ini. Entah nama kekasihnya, keluarganya, teman-temannya, atau orang-orang yang menurut mereka spesial.

Meskipun dari mulut speaker [TOA] yang terpasang di setiap sudut di puncak bukit ini tak henti-hentinya mengeluarkan ultimatum atau pengumuman yang kurang lebih begini:

“… tempat ini, sebagaimana tempat-tempat lain di dunia, sama sekali tak memiliki nilai keberkahan. Nabi dan para sahabatnya tak pernah mengistimewakan atau mengkramatkan tempat ini. Karena itu, dilarang mengambil tanah, berdoa, atau meminta berkah di tempat ini…”

Semua orang yang berkumpul di bukit ini seolah tak mendengar, tak mau tahu, pura-pura tak mengerti, atau bahkan menanggapinya masa bodoh atas ultimatum ini.

Orang Wahabi takkan bisa memahami fenomena seperti ini. Mereka memang sudah bermasalah sejak dalam pikiran. Struktur berpikir mereka sudah dirusak oleh konsep tauhid yang dibuat mereka sendiri [tauhid rububiyah, uluhiyah, asma wa sifat].

Akibatnya, mereka gagal paham menilai fenomena kebudayaan ini. Karena semuanya dibaca, dipahami, dan dinilai menggunakan kaca mata tauhid yang kaku dan rigid itu.

Sebetulnya, ekspresi kebudayaan seperti ini juga banyak terjadi di beberapa negara meskipun mengambil bentuk berbeda. Di Korea Selatan, tepatnya di Seoul Tower, terdapat pagar yang dipenuhi ribuan gembok. Sepasang kekasih yang berkunjung ke sini biasanya memasang gembok yang mereka beri nama “love lock” dengan harapan cinta mereka abadi.

Gembok cinta juga banyak terpasang di jembatan Pont des Arta di Kota Paris – Prancis. Sepasang kekasih yang sedang dimabok cinta akan menulisakn nama pasangan dan mengunci gembok ke pagar jembatan ini.

Wahabi akan menilai ini sebagai “bidah” atau perbuatan “syirik” karena dianggap meminta kepada selain Allah atau karena “bertawasul” pada gembok.

Konsep tauhid yang “bermasalah” menyebabkan mereka buta dan tidak bisa membedakan budaya dan agama; ekspresi keagamaan dan agama itu sendiri.

Akibatnya, sejak Wahabi bercokol dan menguasai Tanah Haram [Makkah-Madinah] banyak tempat-tempat sejarah tak terurus atau bahkan sudah lenyap sama sekali. Wahabi tak pernah menghargai warisan sejarah. Mereka tak lebih berharga dari berber sekalipun.

Alhamdulillah—saya tak henti-henti berayukur—saya lahir di Nusantara dan islam saya Islam Nusantara, Islam Indonesia…