Islam Nyata Versus Islam Gadget, Apa yang Berbeda?

Islam Nyata Versus Islam Gadget, Apa yang Berbeda?

Simbol kesalehan versi “Islam gadget” bisa menjelma dalam sebuah foto yang memotret sekitar masjid atau tempat pengajian, saat seseorang hadir dalam sebuah pengajian atau majelis taklim.

Sekitar seminggu yang lalu, setelah shalat Subuh beberapa orang tetangga saya membincang salah satu warga di sekitar rumah saya yang telah meninggal. Tak berapa lama kemudian, Toa langgar dekat rumah saya mengkonfirmasi kabar duka tersebut. Mungkin tidak luntur dalam ingatan kita, diskusi soal Toa yang menyeret seorang non-muslim hingga ke penjara. Kasus Toa tersebut ada yang kurang diperhatikan saat masih menjadi viral adalah sisi kelindan media sebagai medium dalam agama.

Kehadiran dan kelindan media baru dan agama hanya sering disadari pada sisi kemanfaatan belaka, padahal ada sisi negosiasi yang sering terabaikan, bahkan malah seharusnya mendapatkan perhatian yang lebih. Kehadiran gadget yang berkelindan dengan agama, masyarakat muslim, terutama di wilayah perkotaan, langsung beradaptasi secara cepat dengan teknologi, termasuk media baru.

SMS pernah turut serta mengembirakan dan menghiasi hari raya, baik Idul Fitri dan Idul Adha, yang mengantikan kartu lebaran dan ucapan selamat hari raya antar warga saat berjumpa. Kondisi tersebut memang membuktikan teknologi memperpanjang fungsi organ manusia, walau masih banyak lagi perubahan lagi yang dirasakan.

Read More

Tidak hanya soal SMS di hari raya, teknologi gadget juga memberikan kemudahan kita untuk hadir di majelis taklim atau menonton kembali potongan video ceramah yang telah lama. Membaca Al-Quran tidak perlu mushaf hingga menyetor hapalan hanya lewat aplikasi Whatsapp, dan masih banyak lagi.

Apa yang berubah? Dampak dari perubahan struktur sosial hingga negosiasi ajaran dialami oleh masyarakat muslim mengubah banyak hal dari yang sakral hingga persoalan sehari yang berkelindan dengan agama, seperti infomarsi waktu shalat yang ada di aplikasi telepon pintar hanya salah satu di antaranya.

Pengajian yang tidak lagi harus lewat perjumpaan fisik, cukup via media sosial, atau penunaian zakat tidak lagi harus berjumpa dengan amil karena bisa lewat aplikasi, adalah salah satu contoh bahwa pergeseran yang dialami masyarakat muslim juga memiliki efek domino yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Di antara efek domino yang bisa disadari atau tidak oleh masyarakat muslim dalam perubahan tersebut adalah konsep hubungan guru-murid yang perlu dinegosiasi lagi, kemungkinan munculnya “e-barakah”, atau fatwa yang dilakukan oleh robot atau kecerdasan artifisial (AI).

Kasus terakhir sudah terindikasi muncul di salah satu kota wilayah Timur Tengah, yang mulai merancang kecerdasan buatan dalam memberikan fatwa. Walau masih dalam tahap uji coba, penelitian tersebut menjadikan kesadaran atau pengalaman manusia mulai digeser atau dicerabut perlahan lewat kehadiran teknologi gadget.

Pengalaman kemanusiaan yang dirasakan secara alami oleh masyarakat muslim dalam setiap ritual dalam Islam, bisa saja tercerabut tanpa disadari sedikitpun. Hilang sandal di majelis taklim atau merasakan jajanan jalanan di samping tempat pengajian adalah salah satu pengalaman yang mungkin hilang pertama kali saat pengajian sudah berpindah ke gadget. Berkurangnya intensitas perjumpaan dengan manusia cenderung mengurangi empati pada manusia yang berbeda-beda.

Selain itu, ketika ritual keagamaan berpindah ke gadget. Hal ini bisa disebut juga sebagai pergeseran ide tentang kesalehan, karena kesalehan tidak lagi bagian terdalam dari sebuah ritual yang dilaksanakan seorang hamba atas perintah Tuhannya, tapi kesalehan menjadi sebuah ekspresi keberagamaan simbol dan eksistensi yang jelas berbeda dari konsep pertamanya.

Sekarang, Saleh tidak lagi persoalan kondisi rohani seorang hamba, tapi menjadi ekspresi keberagamaan yang muncul baik di ranah media sosial atau dunia nyata. Simbol kesalehan bisa menjelma dalam sebuah foto yang memotret sekitar masjid atau tempat pengajian, saat seseorang hadir dalam sebuah pengajian atau majelis taklim. Simbol yang menjelma menjadi pakaian atau perjalanan ibadah bisa memiliki makna tambahan dari kesalehan seseorang.

Diskusi soal apakah foto di masjid Haram Mekah itu bisa dimakna sebagai sesuatau yang terpapar riya, adalah persoalan dari sisi lain. Tapi, foto tersebut menjadi simbol sebagai bagian dari eksistensi atau ekspresi keberagamaan seorang hamba adalah hal yang tidak bisa dibantah. Sebab, pemaknaan foto tersebut berkelindan dengan pengalaman atau pengetahuan terhadap kesakralan sebuah tempat. Di titik inilah terjadi pergeseran konsep kesalehan terjadi, karena kesalehan telah memiliki makna baru yang cukup dominan di kalangan muslim sekarang.

Gadget yang dulu dianggap hanya sebuah benda mati, tapi sekarang juga memiliki kemampuan mewarnai, memaknai hingga menegosiasikan terhadap kehidupan atau keberagamaan masyarakat muslim. Dampak yang muncul dari kehadiran gadget masih akan terus dirasakan masyarakat muslim. Oleh sebab itu, kemampuan beradapatasi termasuk memfilter dampak buruk dari kehadiran gadget dalam keberagamaan harus dimiliki masyarakat muslim dengan terus belajar dan mengurangi menghujat.

Fatahallahu alaihi futuh al-arifin

 

Artikel ini diterbitkan kerja sama antara islami.co dengan Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kemkominfo