Ini Tiga Nasihat Rasulullah yang Paling Berkesan

Ini Tiga Nasihat Rasulullah yang Paling Berkesan

Rasulullah adalah guru besar yang senantiasa mengajarkan umatnya tentang kehidupan. Beliau adalah motivator handal. Setiap kata-kata beliau selalu membangkitkan semangat untuk menjalani kehidupan ini sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Allah SWT. Tak salah banyak orang datang kepada Rasulullah hanya sekadar meminta nasihat.

Suatu ketika ada seorang pemuda datang kepada Rasulullah dengan maksud meminta nasihat. Rasulullah pun hanya memberinya tiga nasihat nanum mencakup seluruh aspek kehidupan anak muda tersebut.

“Wahai rasulullah, berilah aku nasihat,” kata sang pemuda.

Read More

Wahai anak muda, jika engkau hendak melaksanakan shalat, anggaplah itu shalat terakhir yang kamu dirikan.

Dalam nasihat pertama ini, Rasulullah ingin mengajarkan kepada setiap umatnya untuk selalu meningkatan kualitas ibadahnya mulai dari shalat, puasa, zakat, dan ibadah-ibadah lainnya. Yaitu dengan cara menganggap segala sesuatu yang dilakukannya merupakan terakhir baginya. Dengan demikian, setiap orang tidak akan melewatkan waktunya sedikitpun untuk beribadah kepada Allah. Ibarat orang yang akan ditembak mati. Ia sudah tau kapan ajalnya akan tiba. Sehingga sisa hidupnya dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk beribadah kepada Allah SWT. Begitulah seharusnya yang dilakukan seorang hamba agar amal ibadahnya berkualitasdan tak pernah putus.

Wahai anak muda, jangan membicarakan sesuatu yang dapat menggelincirkan lisanmu dalam kesalahan.

Pesan ini menggambarkan pentingnya menjaga lisan. Karena betapa banyak orang yang sudah ribuan tahun berbuat amal kebaikan, dapat habis musnah oleh perkataan yang kotor yang keluar dari lisan. Salah seorang ahlul hikmah pernah berkata, “Barang siapa yang banyak bicaranya, maka akan banyak kesalahannya, dan barang siapa yang banyak kesalahannya, maka akan banyak dosanya.”

Wahai anak muda, bertekadlah untuk tidak menaruh harapan kepada orang lain.

Dalam pesan terakhir ini, Rasulullah ingin menyampaikan kepada seluruh umatnya bahwa manusia tidak bisa dijadikan sebagai tempat untuk menaruh harapan. Karena hati manusia selalu berubah-rubah. Hari ini cinta dan memuji tapi boleh jadi esok hari ia membenci dan memusuhi. Menaruh harapan kepada manusia hanya akan menimbulkan rasa kecewa. Ada Zat Yang Maha Berkuasa yang patut dijadikan sebagai tempat bergantung seorang hamba yaitu Allah. Tanpa bergantung kepada Allah semua akan berakhir pada kekecewaan. Menaruh harapan kepada manusia sah-sah saja, tapi jika sudah berada diluar batas kewajaran sampai menafikan Allah sebagai tempat mengharapkan segala sesuatu, maka hal itu akan membangkitkan kemurkaan Allah.