Ikhlas dan Jujur Menurut Ibnu Ajibah

Ikhlas dan Jujur Menurut Ibnu Ajibah

Ikhlas dan Jujur Menurut Ibnu Ajibah

Ikhlas dan Jujur adalah dua kata yang mungkin sangat sering kita dengar.  Namun, bisa jadi kita tidak memiliki pemahaman yang cukup jelas mengenai dua kata yang sangat sering kita dengarkan atau bahkan kita ucapkan. Artikel ini akan mencoba menjelaskan dua kata tersebut dari penjelasan Syeikh Ibnu Ajibah.

Ibnu Ajibah adalah merupakan salah satu ulama sufi terkemuka di abad ke-18 M. Nama lengkapnya adalah Abu al-Abbas bin Muhammad bin al-Mahdi bin al-Husain bin Muhammad bin Ajibah al-Idrisi al-Hasani. Lahir di desa A’jabisy Tetouan Maroko pada tahun 1161 H/1758 M. Ia adalah salah seorang ulama yang sejak kecil ditempa oleh keluarganya untuk belajar. Di usia tujuh belas tahun ia mulai melakukan pengembaraan intelektual dengan talaqqi kepada sejumlah ulama-ulama kesohor di masanya. Salah satu karyanya dalam bidang tasawuf berjudul “Mi’raj at-Tasyawwuq ila Haqaiq at-Tasawwuf” (Tangga Kerinduan Menuju Hakikat Tasawuf)

Ilmu tasawuf, menurut Syaikh Ibn Ajibah, adalah mahkota ilmu pengetahuan “sayyidul ulum”, intisari syariat sekaligus dasarnya. Bagaimana tidak, ia adalah penjelasan dari maqam ihsan, sebuah maqam persaksian. Sebagaimana ilmu kalam yang merupakan tafsir atas maqam keimanan dan seperti ilmu fikih sebagai tafsir atas maqam Islam. Ketiganya; Islam, Iman, dan Ihsan merupakan pondasi dan pokok ajaran dalam Islam.

Salah satu keunikan dan mungkin bisa dikatakan sebagai kelebihan kitab mungil ini adalah menjelaskan istilah-istilah dan hakikat ajaran dalam tasawuf ke dalam tiga tingkatan: pemula (bidayah), pertengahan (wasath), hingga makna tertinggi (nihayah).

Keikhlasan dan Kejujuran

Ikhlas dalam kamus besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai bersih hati; tulis hati. Mengkikhlaskan berarti memberikan atau menyerahkan sesuatu dengan tulus hati atau merelakan. Lalu bagaimana makna ikhlas dalam tasawuf?

Ibnu Ajibah menjelaskan, bahwa ikhlas adalah mengeluarkan selain Allah dalam berinteraksi dengan-Nya atau mengesakan Tuhan dalam segala ketaatan kepada-Nya. Selanjutnya, menurut Ibnu Ajibah, ikhlas terbagi menjadi tiga: pertama, ikhlas tingkatan awam adalah membersihkan segala perbuatan dari tujuan-tujuan kepada selain-Nya. Kedua, ikhlas tingkatan khusus adalah membersihkan semua perbuatan dari mengharap pahala baik di dunia maupun akhirat. Ketiga, ikhlas tingkatan yang paling tinggi, khashah al-khashah, adalah membebaskan diri dari memandang dan keteguhan hati untuk berpaling kepada selain-Nya. Dalam bahasa lain dapat dikatakan bahwa ikhlas dalam tingkatan ini meyakini bahwa segala amal dilakukan bersama-Nya, datang dan menuju kepada-Nya. Bersama-Nya ia meleburkan dan melenyapkan selain-Nya.

Sedangkan jujur (as-shidqu) adalah menggugurkan bagian-bagian jiwa dalam menuju Allah dengan bergantung kepada keyakinan. Atau pengertian lain dari kejujuran adalah persamaan secara lahir dan batin dalam ucapan, tindakan  maupun keadaan. Buah dari kejujuran adalah pembersihan batin dari sikap berpaling kepada selain-Nya secara total.

Lalu apa perbedaan antara ikhlas dan jujur? Ibnu Ajibah mengemukakan, “Perbedaan antara keduanya adalah bahwa keikhlasan dapat menghindarkan diri dari syirik baik secara terang “jaliy” maupun samar “khafiy”. Sedangkan kejujuran dapat membersihkan diri dari sifat perbuatan munafik dan pengkhianatan secara menyeluruh.

Ibnu Ajibah mencontohkan perkawinan antara sikap kejujuran dan keikhlasan, sebagaimana sebuah alat yang dapat membersihkan emas dari campuran dan kotoran, keduanya dapat membersihkan segala hal yang dapat memunculkan sifat munafik serta menjernihkan segara kotoran prasangka-prasangka.

Tanda kejujuran seseorang adalah kesamaan baik ucapan maupun sikapnya dalam kondisi ramai maupun saat menyendiri. Orang-orang jujur tidak peduli saat sesuatu yang ia benci dibuka di hadapan orang lain dan tidak merasa malu. Ia hanya mencukupkan diri kepada Allah SWT. Dari sini kemudian Ibnu Ajibah membagi kejujuran ke dalam tiga tingkatan: pertama, kejujuran bagi orang awam adalah sikap tanpa pamrih dalam segala perbuatan baiknya. Kedua, kejujuran orang khusus adalah kebersihan hati dari tujuan perbuatannya hanya kepada selain Allah. Ketiga, kejujuran orang istimewa “khasah al-khashah” adalah meng-esa-kan Allah SWT secara total. Oleh Karena itu penamaan bagi tingkatan pertama adalah shadiq (orang jujur) dan untuk tingkatan kedua dan ketiga adalah shiddiq (orang yang sangat jujur sekaligus sangat benar).

 

Wallahu A’lam bis-Shawab