Ideologi Keluarga Diwariskan dari Ibu ke Anak-anaknya

Ideologi Keluarga Diwariskan dari Ibu ke Anak-anaknya

Kata Peter Carey, beginilah ideologi keluarga bisa diwariskan turun temurun

Ideologi Keluarga Diwariskan dari Ibu ke Anak-anaknya

“Ideologi keluarga diwariskan dari seorang Ibu ke anak-anaknya.”

Kalimat di atas dilontarkan Peter Carey di tahun 2016.  Ia adalah sejarawan &  Indonesianis terkemuka, serta sudah menghabiskan 7 dekade dalam hidupnya untuk menyelami sejarah Indonesia.

Apa yang dikatakan Peter Carey ini begitu menarik. Kita bisa mengambil garis tentang peran vital perempuan-perempuan Indonesia  dalam sebuah keluarga. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa perempuan Nusantara, terutama pada era kesultanan, memiliki kedudukan yang cukup penting dalam segala lini kehidupan, bukan hanya sektor domestik, tetapi bidang ekonomi, kemiliteran, dan spiritual.

Dalam sejarah, kedatangan Islam beserta undang-undangnya juga memberikan hak setara kepada perempuan, misal hak mendapatkan warisan dikontekstualisasikan dengan adat suatu daerah.

“Islam datang dengan salah satu napas baru, dan boleh dikatakan cukup demokratis dan mempermudah situasi,” terang Carey dalam laman  National Geographic Indonesia.

Porsi yang Sama

Penjelasan di atas, sekali lagi, membawa kita untuk lebih mampu memahami peran perempuan dan begitu vital peran sosok ini, tidak hanya untuk ketahanan keluarga, namun juga masyarakat luas.

Di titik ini, sebaiknya kita mulai melangkah dari perdebatan tentang perempuan yang hanya dilihat dari persoalan akhlak dan moral semata seperti aurat, berhijab, solehah/enggak dan lain-lain, menuju diskusi yang lebih progresif terkait kontribusi perempuan masa kini kepada masyarakat.

Faktanya, perempuan hari ini telah berkontribusi setara dengan laki-laki. Nyaris tidak ada bedanya. Tapi, harus diakui, sekat-sekat ketidaksetaraan itu masih ada, khususnya di ruang publik.  Perempuan tetap menjalankan peran di tengah masyarakat, tanpa mengesampingkan tugas yang sama pentingnya, yaitu seorang ibu bagi anak-anaknya. Begitu pula laki-laki.

Saya rasa sudah tidak etis bila kita melakukan perdebatan tentang siapa yang lebih baik dan superior. Semua setara.  Islam pun tidak pernah melarang hal tersebut, bahkan sejarah mencatat ada peran perempuan dalam misi dakwah nabi.

Lihatlah Sayidah Aisyah binti Abu Bakar, yang sungguh sweet Nabi mencintainya hingga Nabi minum di bekas bibirnya, ternyata juga ikut bertempur bersama Nabi. Beliau tercatat ikut serta dalam peperangan, termasuk perang Badar sebagaimana sebuah hadist Muslim di Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, Bab karahiyati’l-isti`anah fi’l-ghazwi bikafir.

Memahami Ayat dengan Sisi Kesetaraan

” Ar-rijaalu qawaamụna ‘alan-nisaa`i bimaa faḍḍalallaahu ba’ḍahum ‘alaa ba’din… (An Nisa 34)

Dalam beberapa hal, ayat di atas bisa dipahami secara tekstual, seperti posisi laki-laki lebih berperan dalam beberapa hal praktis keagamaan; soal shalat berjamaah, perwalian nikah, dan beberapa ritual bersifat ibadah lainnya. Namun ayat yang sama pun bisa dipahami secara kontekstual. Pemaknaan laki-laki dan perempuan adalah sebuah majas untuk menggambarkan karakter maskulin dan feminin.

Bila kita memaknai pria dan perempuan dalam ayat tersebut sebagai majas, maka kata ‘rijal’ merupakan perumpamaan sifat maskulin yang kuat, yang mampu melindungi, mengayomi, dan tegas. Kata ‘Nisa’ kita pahami sebagai bentuk sifat feminin yang lembut, penuh kesabaran dan mengasihi.

Bila ini adalah majas, maka majas dalam surat An Nisa ini sungguh dahsyat, karena membuat kita bisa dengan mudah menilai wajar-wajar saja semua gander bisa memiliki karakter apapun. Inilah keadilan dalam pikiran dan tidak membangun stigma ukuran standar kepada sesama manusia.

Penutup, sekarang kita memahami laki-laki  bisa menjadi seorang yang lembut dan perempuan bisa menjadi pemimpin yang tegas. Pada sisi yang lain, perempuan boleh saja menjadi lembut, namun menanamkan perinsip tegas kepada anaknya. Persis seperti yang dilakukan Ibunda pangeran Diponegoro kepada anak-anaknya.

“Ingat Nak, darah biru tidak akan berarti apa-apa di zaman ini selama tidak berjuang bersama masyarakat,” tutup Carey.

Jadi, bagaimana ideologi sebuah keluarga bisa diwariskan? Ternyata, jasa besar seorang Ibu.

 

 

*Analisis ini hasil kerjasama Islami.co dengan RumahKitab