Pentingnya Menjaga Keluarga dari Api Neraka

Pentingnya Menjaga Keluarga dari Api Neraka

Setiap muslim diwajibkan untuk membantu dan mendorong saudaranya untuk sama-sama taat dan takwa kepada Allah SWT.

Pentingnya Menjaga Keluarga dari Api Neraka
Foto: Shutterstock

Ada banyak dalil di dalam al-Qur’an dan hadis yang menjelaskan keharusan dakwah bagi umat Islam. Dakwah tidak hanya diharuskan untuk para ulama, tetapi juga menjadi keniscayaan bagi setiap muslim. Dakwah berati mengajak manusia pada kebaikan dan jalan yang benar dengan cara yang baik dan bijak.

Dakwah tidak selalu dalam bentuk ceramah atau khutbah, namun juga bisa melalui tindakan. Rasulullah SAW sudah mencontohkan ragam cara dalam berdakwah, seperti dakwah dengan lisan, tindakan, surat-menyurat, dan seterusnya.

Tujuan dari dakwah sebenarnya adalah untuk mengajak manusia bersama-sama mencari ridha Allah SWT dan menjauhkan mereka dari murka Allah SWT. Apalagi antara satu orang dengan yang lainnya di dalam Islam diibaratkan seperti saudara dan keluarga, sehingga setiap muslim diwajibkan untuk membantu dan mendorong saudaranya untuk sama-sama taat dan takwa kepada Allah SWT.

Dalam surat al-Maidah ayat 2, Allah SWT berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Artinya:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam [mengerjakan] kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS: Al-Maidah ayat 2)

Ayat ini mengajak seluruh manusia untuk sama-sama mengingatkan dan mengajak saudaranya pada kebaikan dan ketakwaan pada Allah, serta mengingatkan manusia untuk tidak berbuat buruk, terutama orang yang kita kenal atau lingkungan terdekat, seperti keluarga, tetangga, teman, dan seterusnya.

Sebelum terlalu jauh mengingatkan dan mengajak orang lain, keluarga merupakan pihak terdekat yang mesti dijadikan sasaran utama dalam dakwah. Apalagi sebagai kedua orang tua yang diberikan amanah oleh Allah SWT untuk menjadi pemimpin dalam keluarga dan mendidik anaknya kepada jalan yang benar. Rasulullah dalam banyak riwayat sudah mencontohkan bagaimana beliau tidak hanya berdakwah untuk kalangan luar, tetapi juga mengajarkan dan mendidik keluarganya.

Saking pentingnya untuk mendidik keluarga ini, Allah SWT berfirman dalam surat al-Tahrim ayat 6:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ

Artinya:

“Wahai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” [QS: Al-Tahrim ayat 6]

Ketika ayat ini diturunkan, Umar bin Khatab bertanya kepada Rasulullah:

يا رَسُولَ اللَّهِ نَقِي أنْفُسَنا فَكَيْفَ لَنا بِأهْلِينا ؟ فَقالَ عَلَيْهِ الصَّلاةُ والسَّلامُ: تَنْهَوْهُنَّ عَمّا نَهاكُمُ اللَّهُ عَنْهُ وتَأْمُرُوهُنَّ بِما أمَرَكُمُ اللَّهُ بِهِ فَيَكُونُ ذَلِكَ وِقايَةً بَيْنَهُنَّ وبَيْنَ النّارِ

“Wahai Rasulullah kami menjaga diri kami, dan bagaimana cara kami menjaga keluarga? Rasulullah SAW menjawab, laranglah mereka untuk melakukan apa yang sudah dilarang Allah SWT dan perintahkan mereka untuk mengerjakan apa yang diperintahkan Allah SWT. Hal ini menjaga mereka dari api neraka.”

Kedua orang tua menjadi pemimpin dalam keluarganya. Mereka bertanggung-jawab penuh untuk mengenalkan agama kepada anak-anaknya, khususnya yang berkaitan dengan hal-hal yang wajib. Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menerangkan, di antara yang wajib dipelajari setiap muslim adalah memahami makna “la ilaha illallah, muhammad rasulullah”. Minimal kita paham maksudnya secara umum, dan meyakini kebenaran Allah dan Rasulullah, tanpa ada keraguan sedikit pun. Setelah itu, kita mesti memahami bagaimana cara shalat, mulai dari waktunya, tata cara bersuci, dan aturan-aturannya. Kemudian kita mengerti bagaimana mengerjakan puasa Ramadhan, membayar zakat kalau ada kelebihan rezeki, dan melaksanakan ibadah haji bila diberi kelapangan oleh Allah SWT.

Setiap muslim mesti mengerti kewajiban mendasar di dalam Islam, seperti syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji, supaya dia bisa mengamalkan dan mengajarkannya kepada keluarganya. Kalau itu tidak dilakukan, kita misalnya tidak peduli dengan keluarga dan anak-anak selama masa hidup di dunia, ketahuilah bahwa hal itu kelak akan menjadi beban di akhirat nanti. Dalam sebuah riwayat disebutkan:

إنَّ أشَدَّ النّاسِ عَذابًا يَوْمَ القِيامَةِ مَن جَهِلَ أهْلَهُ

Artinya:

“Sesungguhnya adzab yang paling berat nanti di akhirat adalah orang yang tidak tahu-menahu tentang keluarganya.”

Karenanya, sebagai kepala keluarga kita tidak boleh masa bodoh dengan anak-anak. Jangan pernah bosan mengajak mereka kepada kebaikan. Sekalipun tidak mudah, kenalkanlah agama sejak dini kepada anak-anak. Sebab mendidik mereka dari kecil tentu lebih mudah, ketimbang pada saat dewasa. Rasulullah mengingatkan:

مُرُوا أَبْنَاءَكُمْ بِالصَّلَاةِ لِسَبْعٍ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا لِعَشْرٍ

Artinya:

“Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat ketika umur tujuh tahun. Pukullah mereka [kalau tidak mau shalat] pada saat umur sepuluh tahun.”

Hadis ini mengajarkan pentingnya mengajak anak shalat sejak dari kecil, apalagi pada saat usia tujuh tahun. Bahkan, kalau sudah berumur sepuluh tahun, masih tidak mau shalat, orang tua dibolehkan untuk memukulnya. Tentu bukan dengan pukulan yang menyakitkan, tetapi pukulan kasih sayang, atau menggunakan cara-cara lain yang dianggap lebih efektif.

Allah merahmati keluarga yang saling mendorong untuk bersama-sama pada kebaikan dan ketakwaan. Rasulullah SAW bersabda:

 رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى فَأَيْقَظَ أَهْلَهُ فَإِنْ لَمْ تَقُمْ رَشَّ وَجْهَهَا بِالْمَاءِ

“Allah memberi rahmat kepada orang yang bangun di malam hari untuk melakukan shalat dan membangunkan keluarganya. Dia memercikkan air di wajah mereka kalau tidak bangun [untuk membuatnya bangun].”

Mendidik keluarga tidak cukup hanya dengan kata-kata, atau menitipkan mereka pada guru agama. Pendidikan itu mesti dimulai dari diri kita sendiri. Orang tua mesti mencontohkan bagaimana cara mendekatkan diri kepada Allah SWT, minimal dengan membiasakan ibadah-ibadah wajib bersama keluarga di rumah, seperti shalat, puasa, zakat, dan seterusnya.