Gurutta’ Sade’, Ulama Bugis Perintis Pendidikan Islam di Sulawesi Selatan

Gurutta’ Sade’, Ulama Bugis Perintis Pendidikan Islam di Sulawesi Selatan

AGH. Abdurrahman As’ad atau Gurutta’ Sade’ bukan hanya seorang ulama, melainkan juga tokoh perintis pendidikan Islam di Sulawesi Selatan

Gurutta’ Sade’, Ulama Bugis Perintis Pendidikan Islam di Sulawesi Selatan
Sosok AGH. Abdurrahman As’ad atau Gurutta’ Sade’.

Provinsi Sulawesi selatan adalah provinsi dengan jumlah muslim terbanyak ke-8 di Indonesia, dengan jumlah sebanyak 8,26 juta jiwa. Banyaknya jumlah muslim di provinsi ini membuat dinamika keislaman di provinsi ini cukup menarik untuk diperhatikan. Dinamika keislaman tersebut sedikit banyaknya dipengaruhi oleh lebih dari 300 pesantren yang tersebar di jazirah selatan Pulau Sulawesi ini. Sebagaimana persebaran pesantren di Pulau Jawa, persebaran pesantren di Sulawesi Selatan memiliki keterkaitan satu sama lain.

Figur yang menjadi kunci keterkaitan pesantren di Sulawesi Selatan adalah Anre Gurutta’ Haji (AGH.) Abdurrahman As’ad yang kerap disapa sebagai Gurutta’ Sade’ atau Puang Haji Sade’. Gurutta’ adalah gelar yang disematkan oleh masyarakat Sulawesi Selatan kepada ulama berpengaruh yang mengasuh sebuah pesantren. Sedangkan Puang adalah gelar yang diberikan kepada sosok figur yang dihormati dan disegani oleh masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan.

AGH. Abdurrahman As’ad lahir di Makkah 12 Rabiul Akhir 1326 H atau bertepatan pada 13 Mei 1908 M. Ayahnya adalah seorang ulama Bugis yang merantau ke Mekkah bernama Syekh Abdul Rasyid, sedangkan ibunya bernama Hj. Sitti Salehah. Pamannya juga adalah seorang ulama Bugis bernama Syekh Ambo Wellang. Tidak diketahui secara pasti kepada siapa Syekh Abdul Rasyid al-Bugisy dan Syekh Ambo Wellang al-Bugisy berguru dan mendalami ajaran Islam. Namun, kedua figur ini diduga berguru kepada ulama ternama Haramain pada abad ke-19, seperti Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi. Belakangan, terkuak bahwa Syekh Abdul Rasyid al-Bugisy cukup sering berinteraksi dengan Syekh Ahmad Surur al-Bugisy al-Pammani yang juga belajar mendalami ajaran Islam di Mekkah.

Dari ayah dan pamannya, Gurutta’ Sade’ mendapat pondasi keilmuan Islam saat beliau masih kanak-kanak. Atmosfer keilmuan Islam Kota Mekkah sangat mendukung perkembangan keilmuan Islamnya. Ia kemudian mendalami ajaran Islam langsung dari berbagai ulama ternama, seperti al-‘Allamah Syekh Abdul Jabbar, Syekh Jamal al-Makki, Syekh Hasan al-Yamani, Syekh Umar bin Hamdan, dan Syekh Muhammad Said al-Yamani, yang menjadi simpul keilmuan Gurutta’ Sade’ dengan ulama Nusantara lainnya, seperti KH. M. Hasyim Asy’ari dan KH. Ali Maksum.

Pada usia remaja, Gurutta’ Sade’ berkesempatan menjadi imam salat tarawih di Masjidil Haram dan mengimami ratusan ulama senior di masanya. Pada 1920-an, sampailah informasi padanya mengenai kondisi kampung halamannya yang saat itu marak terjadi penyimpangan terhadap ajaran Islam. Informasi itu ia terima melalui orang Bugis yang berbondong-bondong menunaikan haji. Ia pun memutuskan untuk pulang ke tanah kelahirannya di Wajo pada tahun 1928. Sebelum pulang ke tanah kelahirannya, Gurutta’ Sade’ juga sempat memperdalam ilmunya ke beberapa ulama di Madinah, seperti Syekh Abrar dan Sayyid Ahmad al-Syarif al-Sanusi, bahkan sempat menjadi sekretaris pribadi bagi gurunya yang menjadi Qadli Madinah saat itu.

Setibanya di Wajo, Gurutta’ Sade’ kemudian menggelar halaqah (dalam bahasa Bugis disebut dengan Mangaji Tudang) di rumah pribadinya. Kabar bahwa AGH. Abdurrahman As’ad yang baru saja pulang dari Mekkah menggelar halaqah kemudian tersebar ke berbagai penjuru di Sulawesi Selatan. Murid-muridnya meningkat pesat, sehingga rumah pribadinya tidak memadai untuk dijadikan tempat halaqah.

Pada saat yang sama, Arung Matoa Wajo (gelar penguasa lokal saat itu) berkonsultasi dengan Gurutta’ Sade’ mengenai pembangunan kembali Masjid Jami’ di Sengkang yang saat itu sudah tua. Setelah bermusyawarah dengan tokoh masyarakat Wajo, pada 1929 dimulailah pembangunan kembali Masjid Jami di Sengkang dan selesai pada 1930. Pengelolaan Masjid Jami’ tersebut kemudian diserahkan pada Gurutta’ Sade’ untuk digunakan sebagai tempat halaqah.

Sekitar bulan Mei 1930, Gurutta’ Sade’ mendirikan lembaga pendidikan Islam yang bernama Madrasah al-Arabiyah al-Islamiyah (MAI). Madrasah itu terletak di samping Masjid Jami’ Sengkang. Pengabdian dan dakwah dilakukan sepanjang hidupnya hingga beliau wafat pada 1952. Tepat setahun setelah kepergiannya, MAI berubah nama menjadi Pondok Pesantren As’adiyah untuk menghargai upaya Gurutta’ Sade’ dalam memberikan pendidikan Islam bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Nama As’adiyah sendiri diambil dari nama belakangnya (Adurrahman As’ad). Hingga saat ini, Pondok Pesantren As’adiyah memiliki 400 cabang yang tersebar di seluruh penjuru tanah air.

Gurutta’ Sade’ bukan hanya seorang ulama, melainkan juga tokoh perintis pendidikan Islam di Sulawesi Selatan. Pendidikan dan pengajaran Islam yang dirintis olehnya melahirkan figur-figur intelektual baru yang mumpuni, berkualitas dan kompeten dalam keilmuan Islam. Setelah mendapat pengajaran dan pendidikan Islam, figur-figur intelektual ini kemudian kembali ke kampung halamannya dan mendirikan pesantren di kampung halamannya. Di antara figur-figur intelektual tersebut adalah:

  • AGH. Abdurrahman Ambo Dalle (1900-1996), pendiri Pesantren Darud Da’wah wal Irsyad, Kab. Barru.
  • AGH. Daud Ismail (1908-2006), pendiri Pesantren Yasrib di Kab. Soppeng.
  • AGH. Muhammad Yunus Martan (1906-1986), Pimpinan Pesantren As’adiyah; AGH. Abduh Pabbajah (1908-2009), Pendiri Pesantren Al-Furqan, Kota Pare-Pare.
  • AGH. Abd. Kadri Khalid, Pendiri Pesantren MDIA Taqwa, Kota Makassar.
  • AGH. Ahmad Marzuki Hasan (1917-2006), Pendiri Pesantren Darul Istiqamah, Maros.
  • AGH. Abd. Muin Yusuf (1920-2004), Pendiri Pesantren Al-Urwatul Wuthqo, Kab. Sidenreng Rappang.
  • AGH. Abd. Malik Muhammad (1922-2000), Pimpinan As’adiyah, Sengkang.
  • AGH. Muhammad Said, Pendiri Pesantren Tahfidz Tuju-Tuju, Kab. Bone.
  • AGH. Muhammad Hasyim, Pendiri Madrasah Al-Fakhriyah di Belopa Kab. Luwu.
  • AGH. Abd. Aziz, Pendiri Pesantren Tahfiz Junaidiyah di Luwu.
  • AGH. Harisa H.S., Pendiri Pesantren An-Nahdhah di Kota Makassar.

Pesantren yang didirikan oleh murid-murid Gurutta’ Sade’ juga berkembang pesat, seperti Pesantren Darud Da’wah Wal Irsyad yang telah memiliki 800 cabang dan tersebar di seluruh Indonesia. Selain itu, dari pesantren-pesantren tersebut lahir pula figur-figur intelektual yang berpengaruh bagi dinamika keislaman dan kebangsaan tanah air. Di antaranya adalah:

  • KH. Ali Yafie (Alumni Pondok Pesantren Darud Da’wah Wal Irsyad Pare-Pare, Mantan Ketua Umum MUI dan Mantan Rais ‘Aam PBNU, Anggota DPR RI 1977-1987).
  • KH. Sanusi Baco (Alumni Pondok Pesantren Darud Da’wah Wal Irsyad Barru, Mustasyar PBNU).
  • Prof. Dr. Nasaruddin Umar (Alumni Pondok Pesantren As’adiyah, Imam Besar Masjid Istiqlal).
  • Ustadz Nur Muhammad Maulana (Alumni Pondok Pesantren An-Nahdlah, Pendakwah).
  • Prof. Kamaruddin Amin (Alumni Pondok Pesantren As’adiyah, Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI).

Peran dan jasa AGH. Abdurrahman As’ad atau Gurutta’ Sade’ bisa dirasakan hingga saat ini. Sumbangsihnya bagi perkembangan pendidikan Islam di Sulawesi Selatan sangat besar. Mannfaatnya tidak hanya bisa dirasakan oleh masyarakat Sulawesi Selatan, melainkan juga masyarakat Indonesia hingga Internasional. [NH]

 

Sumber:

Arief, S, “Aktor Pembentuk Jaringan Pesantren di Sulawesi Selatan (1928-1952)”, Lentera Pendidikan : Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, (2007).

Darlis, “Peran Pesantren As’adiyah Sengkang dalam Membangun Moderasi Islam di Tanah Bugis”, Al-Mishbah: Jurnal Ilmu Dakwah dan Komunikasi, (2017).

 

Penulis:

Ahmad Amirul Sir, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar. Duta Moderasi Beragama Kementerian Agama RI tahun 2021. Fokus pada isu toleransi, literasi, anti-kekerasan, dan perlindungan anak.