Gambus Sabyan dan Representasi Wajah Islam Indonesia

Gambus Sabyan menjadi fenomena karena mereka tidak hanya bernyanyi, tapi juga menyuarakan islam dengan manis. Pict ny instagram.com/sabyan_gambu

Gambus Sabyan dan Representasi Wajah Islam Indonesia

Sabyan Gambus dicintai sekaligus menebarkan islam yang manis, bagaimana membaca fenomena ini?

Bagaimana Gambus Sabyan bisa menjadi sangat terkenal dan digemari masyarakat muslim kita belakangan ini? Sebelum menjawab pertanyaan ini, kita tampaknya bisa bersepakat bahwa lagu-lagu bernafaskan agama, khususnya Islam, selalu mendapatkan tempat di hati masyarakat. Karena diminati, beberapa band musik pop kemudian mendaur-ulang lagu-lagu Islami dengan meluncurkannya menjelang bulan Ramadhan. Grup band Ungu, Gigi, dan baru-baru ini J-Rock adalah adalah di antara grup band tersebut. Melalui proses arasemen ulang dengan tidak mengubah liriknya sedikit, lagu-lagu Islami, khususnya lagu-lagu yang dibuat oleh Bimbo, menjadi jauh lebih bergairah dan terkesan kekinian.

Jauh sebelumnya, pasca rejim Orde Baru, awal tahun 1999 dan 2000-an lagu-lagu Islami diisi oleh grup nasyid yang berisi puji-pujian kepada Allah, kisah para nabi, dan nilai-nilai keislaman lainnya. Proses bernyanyinya seringkali diiringi dengan musik dan juga akapela, tanpa musik tapi diiringi suara para personelnya sebagai pengganti music tersebut. Grup nasyid ini memiliki kecenderungan ideologi dengan gerakan Tarbiyah, khususnya KAMMI, yang kemudian bermetamorposis menjadi Partai Keadilan Sejahtera. Salah satu grup Nasyid yang terkenal saat itu adalah Snada yang berduet dengan Aa Gym dengan menyanyikan lagu Jagalah Hati.

Dalam kurun waktu tersebut, duet Hadad Alwi dan Sulis yang meluncurkan dua album dalam satu tahun, yang bertajuk Cinta Rasul 1 dan 2 yang diproduksi tahun 1999. Hanya dalam waktu 56bulan, album tersebut laris-manis di pasaran dengan angka penjualan yang cukup fantastis saat itu, 1, 5 juta satu kopi. Sebaliknya, dua album sebelumnya (Nur Muhammad, 1997 dan Ziarah Rasul, 1998), yang merupakan debut pertama Hadad Alwi hanya terjual 300 ribu keeping kopi. Pilihan lagu salawat dari orang dewasa lalu berpindah kepada anak-anak ini sebenarnya diilhami  oleh album Joshua, yang berjudul Diobok-obok. Lagu tersebut tidak hanya mencapai penjualan 1 juta kopi, melainkan juga menjadi arus utama lagu yang paling dikenal oleh anak-anak saat itu (www.cnnindonesia.com, 28 Mei 2017). Pilihan yang diambil oleh Hadad Alwi dengan memilih Sulis sebagai duet nyanyinya ternyata tepat.

Read More

Latarbelakang dan faktor tersebut menjadi dasar yang memungkinkan lagu-lagu Islami tetap tumbuh, meskipun himpitan lagu-lagu pop tetap mendominasi arus utama dalam membentuk kesenangan mendengarkan musik masyarakat Indonesia. Dalam ekosistem semacam ini, lagu-lagu salawat dan Islami di tangan gambus Sabyan kemudian mencuri kembali perhatian masyarakat. Namun, alih-alih menggunakan konsep yang sama seperti digunakan oleh Hadad Alwi ataupun grup nasyid Snada, dengan menggunakan konsep instrumen musik yang jauh lebih modern sekaligus memadukan unsur pop, dengan menyanyikan dan melakukan melakukan arasemen ulang, lagu-lagu salawat dan lagu orang lain, gambus Sabyan ini kemudian menjadi musik keseharian masyarakat Indonesia yang diputar di mana-mana, baik itu di kantor, maupun pusat-pusat perbelanjaan.

Didirikan pada tahun 2015, digawangi oleh Ahmad Fairuz alias Ayus (keyboard),  Khoirunnisa alias Nissa (vokalis), Sofwan Yusuf atau Wawan (perkusi), Kamal (darbuka), Tubagus Syaifulloh alias Tebe (biola), dan Anisa Rahman (backing vokal), grup gambus ini sebenarnya berawal dari pengiring musik untuk acara-acara pernikahan. Meskipun bisa memainkan genre musik yang lain, kesukaan terhadap gambus ini dikarenakan lebih kepada lingkungan yang membentuk grup ini yang akhirnya memilih jalur tersebut.

Baca Juga: Sabyan, Sosok di Balik Cover Sholawat

Di sini, kehadiran media sosial seperti Youtube memberikan ruang seluasnya untuk memperkenalkan talenta grup ini dengan mengunggah lagu-lagu cover salawat. Arasemen musik kekinian, dengan berpaduan kualitas suara vokalis yang prima, didukung dengan kecantikan yang tidak bisa dipungkiri, unggahan lagu-lagu cover mereka yang dimulai pada 4 Januari 2016 dengan cepat mendapatkan perhatian warganet. Dengan hanya mengunggah 8 lagu selama kurang lebih 3 tahun, grup gambus ini telah mendapatkan dengan torehan pelanggan (subcribers) sebesar 2,072,695 orang dan dengan total video-video yang ditonton (viewers) sebesar 368,432,033.

Di antara lagu-lagu tersebut, rata-rata ditonton oleh 48-54 juta orang. Penonton terbanyak mencapai 131 juta orang dengan menyanyikan cover lagu berjudul Ya Habibal Qolbi. Sementara itu, rilis cover lagu terbarunya dengan judul Dien Assalam telah menjadi viral sejak 2 minggu lagu tersebut diunggah dengan pencapaian penonton sebanyak 48 juta penonton.

Jumlah ini akan terus bertambah di tengah momentum bulan Ramadhan sekaligus konteks pasca pengeboman bunuh diri satu keluarga di Surabaya Jawa Timur. Lagu yang awalnya dinyanyikan oleh Sulaiman Al Mughni dengan rumah produksi Alwan Al Taif, bertempat di Dubai, Uni Emirat Arab, berkisah mengenai Islam sebagai agama Perdamaian dengan mensosialisasikan toleransi sebagai dasar untuk kerukunan sesama masyarakat. Dalam terjemahan bahasa Indonesia keseluruhan lagu tersebut memiliki makna yang dalam.

Seluruh bumi ini akan terasa sempit

                                    Jika hidup tanpa toleransi

                                    Namun jika hidup dengan perasaan cinta

                                    Meski bumi sempit, kita akan bahagia

                                    Melalui perilaku mulia dan damai

                                    Sebarkanlah ucapan yang manis

                                    Hiasilah dunia dengan sikap yang hormat

                                    Dengan cinta dan senyuman

                                    Sebarkanlah di antara insan

                                    Inilah Islam agama perdamaian

 

Irisan suara kualitas yang merdu, arasemen musik yang enak didengar, keanggunan Nisa dengan jilbabnya, dan pesan dalam dalam lagu tersebut dengan konteks Indonesia saat ini, lagu tersebut menjawab kegelisahan mengenai apa yang dimaksud dengan berislam. Alih-alih menunjukkan aksi-aksi kekerasan untuk menguatkan identitas diri sebagai seorang Muslim sehingga melakukan pengeboman yang merusak citra Islam dan mengakibatkan sejumlah korban yang tidak bersalah, lagu tersebut seakan mendefinisikan kembali apa itu Islam.

Di sini, Islam diartikan sebagai agama perdamaian dengan mengangkat derajat toleransi sebagai nilai tertinggi dengan balutan cinta dan senyuman.

Tidak hanya umat Islam, lagu ini juga didengarkan oleh warganet yang beragama Katholik dan Hindu. Melalui lagu ini, setidaknya menguatkan mereka kembali bahwasanya Islam itu bukan agama teroris. Sebaliknya, Islam itu mengajak perdamaian dengan nama bangsa Indonesia sebagai sesama saudara di bawah bendera merah putih. Kuatnya pesan dalam lagu ini kemudian dinyanyikan ulang oleh selebriti papan atas, seperti Ria Ricis dan Via Vallen.

Kehadiran Gambus Sabyan ini setidaknya menandakan tiga hal yang saling terkait. Pertama, kemunculan mikro-selebriti dalam media sosial. Berbeda dengan dunia televisi dan rekaman rumah produksi besar, di mana setiap individu yang ingin memperkenalkan karyanya harus melewati proses yang rumit dengan adanya seleksi ketat dan pertimbangan marjin keuntungan yang lebih bersifat komersial, kehadiran media sosial seperti Youtube dan kemudahan untuk membuat sebuah video klip dengan harga yang terjangkau, memungkinkan setiap orang untuk menjual gagasannya di publik.

Jika proses eksperimentasi yang dilakukan ini berhasil, ia akan dihargai sebagai mikro-selebriti, tidak hanya oleh Google Adsense melalui hitungan tersendiri dalam iklan yang dipasang di video tersebut, melainkan juga sejumlah undangan untuk tampil dalam aktivitas offline. Aktivitas offline inilah yang membuat grup ini sekali manggung dibayar sekitar 30-40 juta rupiah dengan jadwal yang padat dengan satu hari libur. Jika dikalkulasikan setidaknya, apabila satu kali manggung sebesar 30 juta dan seminggu mereka 5 kali tampil, sebulan grup ini bisa mendapatkan uang sekitar Rp. 600 juta rupiah.

Kedua, medium dakwah Islam yang ramah dan lembut. Meskipun berkelindan dengan komersil tersebut, dampak ikutannya juga tidak bisa dikesampingkan, yaitu menjadi representasi dakwah Islam yang menyejukkan dengan salawat dan nilai-nilai Islam yang ramah dan mengajak perdamaian. Di sini, melalui lagu-lagu cover dan juga ciptaannya sendiri, Gambus Sabyan menjadi semacam obat penawar wajah Islam di tengah politisasi agama di ranah publik yang membawa kepada perpecahan masyarakat di tengah tahun-tahun politik.

Kondisi ini setidaknya membawa kepada konsekuensi selanjutnya, yaitu faktor ketiga, menunjukkan harapan adanya keharmonisan dalam membangun toleransi di tengah koyakan politik kebencian dan aksi-aksi terorisme. Meskipun sulit diukur, setidaknya alunan covering lagu-lagu yang dibawakan tersebut menciptakan semacam momen hening bagi orang-orang yang mendengarkan untuk memberikan waktu jeda untuk berpikir bahwasanya ada yang salah dengan cara kita berislam yang lebih menunjukkan kekerasan ketimbang welas asih.

Lagu-lagu yang dibawakan oleh mereka setidaknya menunjukkan dimensi kasih sayang dalam Islam yang bisa menjadi cermin, baik personil grup band ini ataupun orang-orang yang mendengarkannya. Namun, jika dari mendengarkan lagu-lagu ini justru makin membuat orang menjadi abai dan lebih menunjukkan semangat kebenciannya atas mereka yang dianggap lain karena perbedaan agama, politik, ataupun afiliasi ideologinya, hal itu memiliki dua kemungkinan; hatinya sudah membatu dengan doktrin agama yang menjadi toksin dan hasrat untuk berkuasa dan menguasai dengan menjadikan agama sebagai dalih atas tindakan yang dilakukan.