Dakwah Jangan Asal-Asalan, Ini Dua Indikator Kesuksesan Dakwah Menurut Prof. Quraish Shihab

Dakwah Jangan Asal-Asalan, Ini Dua Indikator Kesuksesan Dakwah Menurut Prof. Quraish Shihab

Menjadi ustadz, ustadzah, da’i tidaklah mudah. Karena segala kalimat yang diucapkan dalam berdakwah juga menjadi nasihat untuk dirinya sendiri dan orang lain, bahkan lebih besar tanggung jawabnya jika tidak diterapkan dalam kehidupan. Karena Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an surat a;-Shaff  ayat 2 yang artinya “…mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan?”. Pertanyaan tersebut mengandung makna “perintah” untuk menerapkan ilmu agama yang sudah didapatkan sekaligus menjadi sindiran bagi yang tidak menerapakan apa yang sudah disampaikan kepada para jamaah.

Namun saat ini masalah yang dihadapi oleh masyarakat adalah adanya beberapa ustaz, ustazah dan da’i yang memiliki pemahaman keras,cenderung memahami agama dan dalil-dalil secara tekstualis, mudah mengkafirkan, mengharamkan dan cenderung terlalu kaku dalam pemahaman agama. Ciri lain yang sering ditemukan yaitu menyebarkan Islam dengan cara kekerasan, ujaran kebencian terhadap pihak yang berbeda pandangan dan cenderung merasa bahwa pendapatnya paling benar.

Padahal, sejatinya Islam adalah agama yang sangat memprioritaskan kasih sayang dan perdamaian. Bahkan dalam hal Akidah atau keyakinan, Islam tidak memaksa untuk memeluk agama Islam, karena yang paling penting adalah kerukunan dan perdamaian antar umat, khususnya antar umat beragama.

Read More

Bicara hal dakwah dan berdakwah, juga tidak terlepas saat ini dengan istilah “hijrah”, yang bertaubat disebut dengan sudah “berhijrah” hijrah dari hal buruk menuju hal yang lebih baik. Menyinggung hal tersebut, Prof. Quraish Shihab meluncurkan website cariustadz.id yang berprinsip pada Islam ramah dan sesuai kebutuhan. Website tersebut dibuat untuk menangkis sumber-sumber belajar Islam bergenre kaku dan tekstualis, apalagi sumber-sumber tersebut sekarang sudah berbasis teknologi dan dapat diakses secara online oleh masyarakat luas.

Adapun di sini, yang saya tekankan adalah pembahasan terkait indikator kesuksesan suatu dakwah menurut Prof. Quraish. Dakwah yang sukses bukanlah dakwah yang banjir akan like, subscribe, kemeriahan tepuk tangan, ramainya gelak tawa dan penuhnya deraian air mata. Akan tetapi kesuksesan dakwah menurut Prof. Quraish diukur dari dua hal:

Pertama, bertambahnya pengetahuan bagi yang didakwahi. Tidak dikatakan sukses jika dalam proses dakwah tersebut sama sekali tidak mengandung unsur kebaruan pengetahuan. Bagi yang mendengarkan dakwah tersebut, haruslah bertambah pengetahuannya, khususnya dalam ilmu agama. ada pengetahuan dan hal baru yang dapat diaplikasikan oleh yang didakwahi untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, bertambahnya kesadaran bagi yang didakwahi untuk menjalankan ibadah. Jika indikator pertama sudah terdapat dalam diri yang didakwahi, maka step selanjutnya adalah kesadaran dalam diri yang didakwahi untuk menjalankan ilmu dan pengetahuan pendalaman ilmu agama yang baru tersebut. Nah, di sini tidak hanya “SADAR DIRI” saja. Akan tetapi mau dan istiqomah menjalankan kebaikan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Masalah yang sering dijumpai dalam hal ini yaitu, sadar akan kesalahan, lalu berazam memperbaiki diri, akan tetapi kemauan tersebut hilang jika sudah tidak dalam lingkungan pengajian. Hal itulah yang harus ditepis.

Pengetahuan pendalaman agama dan kesadaran untuk memperbaiki diri serta menjalankan kebaikan merupakan indikator kesuksesan dalam berdakwah yang pernah Prof. Quraish sampaikan. Sebagai pendakwah setidaknya tidak hanya menitikberatkan pada humor dan materi yang terlalu kaku dalam dakwahnya dan sebagai yang didakwahi hendaknya sungguh-sungguh dalam mencari dan melaksanakan kebaikan-kebaikan (amal salih). Semoga kita semua dalam lindungan Allah SWT dan dijauhkan dari keburukan yang terlihat maupun tidak.