Belajar Tauhid Melalui Nahwu Eksoterik dan Esoteris

Belajar Tauhid Melalui Nahwu Eksoterik dan Esoteris

Dalam disiplin ilmu nahwu eksoterik, bila isim (kata benda), fiil (kata kerja), dan huruf (perangkat bahasa terkecil) dikolaborasikan maka akan membentuk “kalam”. Kalam sendiri berarti suatu rangkaian kalimat (kata) yang terdiri dari isim, fiil, dan huruf yang kemudian menghasilkan suatu makna tertentu.

Para pakar nahwu konvensional (gramatika eksoterik) mendefinisikan kalam sebagai susunan kata yang dapat memberi pesan memahamkan (lafdzun mufidun), sehingga pendengarnya langsung diam (paham) tidak lagi menanyakan pesan yang terkandung di dalam susunan kata yang disampaikan (yuhsanu as-Sukut ‘alaiha). Susunan kalam minimal terdiri dari dua rangkaian kalimat (kata) yang memiliki arti, seperti “Zaid hadir” atau “Majid seorang yang mulia”. Dua atau lebih dari rangkaian kalimat (kata) itu bisa berupa dua isim atau gabungan dari satu fiil dan satu isim.

Secara bahasa, nahwu eksoterik berarti sebuah cara menuju suatu tujuan, yaitu mampu mengucapkan kalimat dengan baik dan benar dalam kerangka disiplin bahasa Arab (al-Qashdu ila shawab al-Kalam). Bila nahwu eksoterik bertujuan untuk menjaga kefasihan ucapan lisan dengan berdasarkan kaidah dan logika bahasa yang bersifat material, maka nahwu esoteris (sufistik) melatih seseorang berbicara dengan bahasa hati (intuisi), yang tujuannya senatiasa mengingat Allah (dzikrullah) dengan perkataan terpuji berdasarkan hati (al-Qashdu ila hamid al-Qaul bi al-Qalb).

Read More

Istilah “kalam” dalam dalam disiplin nahwu eksoteris memang secara substansial cukup berbeda dengan “kalam” dalam terminologi nahwu esoterik. Kalam dalam nahwu esoteris sangat bernuansa sufistik sekaligus bernuansa teologis. Dalam ilmu kalam (teologis), kata “kalam” merupakan salah satu sifat Dzat yaitu sifat ilahiah qadim yang melekat pada Dzat Allah. Seperti halnya sifat Maha Esa, Mendengar, Menghendaki, Mengetahui, dan Hidup.

Selain sifat Dzat, Allah juga memiliki sifat al-Fiil, yakni sifat yang berkaitan erat dengan kehendak dan perbuatan-Nya dalam relasi-Nya dengan alam semesta, seperti Maha Pencipta, Maha Pemberi Karunia, Maha Pemberi Rizki, dan lain-lain. Sifat-sifat ini ber-tajali (manifestasi) dalam alam semesta dan pada diri makhluk. Sementara nama Allah adalah nama Dzat Allah, hanya Allah yang disebut dengan nama Allah dan tidak ada satu pun makhluk yang dapat menyandang nama ini.

Oleh karenanya, dalam nahwu esoteris, isim adalah Allah, fiil adalah segala sesuatu yang berasal dari Allah, dan huruf adalah sesuatu yang melekat pada isim. Melekatnya huruf pada isim akan menetapkan suatu hukum bagi isim. Sementara dalam nahwu eksoterik, ketika huruf melekat pada isim, maka berlaku hukum nashab, jar, atau yang lainnya bagi isim. Selain itu, ada huruf yang khusus melekat pada fiil. Melekatnya huruf pada fiil akan menetapkan suatu menisbahan bagi fiil. Dengan demikian, huruf dapat menetapkan hukum nashab dan jazm pada fiil.

Sementara itu, dalam nahwu esoteris, sifat ‘ilm (huruf) yang melekat pada Allah (isim) akan menetapkan sifat “al-Alim” bagi-Nya. Begitu juga sifat qudrah, hayat, dan sifat-sifat Dzat Allah yang lain (sifat Dzat) dalam relasi-Nya dengan makhluk (alam raya), segala perbuatan-Nya merupakan keniscayaan dari sifat-sifat-Nya dan akan menetapkan isim sifat bagi-Nya. Bila dijabarkan lebih lanjut, isim adalah segala informasi yang datang dari Allah, fiil adalah keinginan yang disampaikan oleh seorang hamba kepada Allah, sedangkan huruf adalah ikatan yang menyempurnakan makna pada bahasa hati.

Dalam nahwu eksoterik, isim adalah sesuatu yang menunjukkan makna dirinya yang tidak berkaitan dengan salah satu dari tiga pembagian waktu, masa lampau, sekarang, dan yang akan datang. Sedangkan fiil adalah sesuatu yang menunjukkan makna dirinya yang berkaitan dengan salah satu dari tiga pembagian waktu, yakni masa lampau, sekarang, dan yang akan datang.

Hubungan antara isim dan fiil adalah hubungan antara akar dan cabang, di mana fiil merupakan cabang dari isim. Adapun huruf merupakan sesuatu yang tidak menunjukkan makna pada dirinya sendiri. Huruf justru menunjukkan makna yang bukan dirinya, dalam pengertian ia melekat pada isim dan fiil.

Dalam nahwu esoteris, isim dinisbatkan kepada Dzat Allah. Isim menegaskan bahwa Dzat Allah tidak didahului oleh apa pun dan tidak berkaitan dengan waktu, baik masa lampau, sekarang, dan yang akan datang. Dia bahkan melampaui waktu itu sendiri. Sementara fiil adalah representasi dari perbuatan Allah dalam konteks relasi-Nya dengan makhluk, yakni alam semesta dan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Relasi ini merupakan relasi Allah dan manifestasi-Nya dalam tataran alam material yang berkaitan dengan waktu. Relasi Allah dengan manifestasi-Nya dilandasi oleh kehendak dan pengetahuan-Nya.

Karenanya, fiil menegaskan bahwa Allah adalah akar dari segala sesuatu di alam semesta ini. Adapun huruf, ia ikatan yang bertujuan agar misi dari perbuatan terpuji yang objeknya tiada lain adalah Allah bisa tercapai secara sempurna. Ketika hati seorang hamba mengatakan bahwa hanya Allah yang berhak mengklaim, seperti “segala sesuatu adalah dari-Ku, demi Aku, dan atas nama-Ku”, maka dia telah mencapai misi dari bahasa hati secara sempurna.

Dengan demikian, nahwu esoteris merupakan suatu cara agar dapat mengucapkan perkataan terpuji berdasarkan hati, di mana pengertian isim, fiil, dan huruf yang dipahami secara transendental dapat mengantarkan seorang hampa untuk mengenal Allah dan berkomunikasi secara vertikal dengannya melalui jalan mistik atau rohani. Dengan perkataan terpuji yang berasal dari hati itulah, seorang hamba dapat berdialog dengan Allah, dengan cara memanggil-manggil Allah melalu zikir, atau melalui cara merasakan langsung atas kehadiran-Nya.

Wallahu A’lam.

 

Tulisan ini Disarikan dari bab pertama karya Imam al-Qusyairi berjudul “Nahwul Qulub al-Kabir” terbitan Darul Kutub al-Ilmiah, 2001.