Alasan Kenapa Kita Sebaiknya Berhenti Menganggap Bencana sebagai Azab

Alasan Kenapa Kita Sebaiknya Berhenti Menganggap Bencana sebagai Azab

Alasan Kenapa Kita Sebaiknya Berhenti Menganggap Bencana sebagai Azab
Suasana pagi ini di tol, hari kedua banjir di Jakarta.

Memahami geliat alam memang rumit. Kerumitan itu bahkan melebihi teka-teki duluan mana telur atau ayam. Sejak dulu manusia cukup dipusingkan oleh hal ini. Tapi mereka selalu punya cara unik untuk mengatasinya.

Beberapa menciptakan mitos-mitos. Beberapa lainnya mungkin mencoba memahami berdasarkan  observasi tanda alam atau spekulasi “kalau gini-pasti gitu” yang dalam istilah Jawa disebut ilmu titen.

Namun, seiring pesatnya laju zaman tidak sedikit juga yang melakukan kajian ilmiah dengan melibatkan kecanggihan teknologi. Hasil dari upaya ini umat manusia jadi tahu apa yang harus dan mendesak untuk dilakukan sehingga kemungkinan terburuk dari gejala alam dapat diantisipasi, jika tidak diminimalisir.

Perhatian terhadap gejala alam dan dampaknya bagi keberlangsungan hidup manusia merupakan fenomena global. Greta Thunberg, umpamanya, lewat aksi bolos sekolahnya mampu menggemparkan dunia.

Pasalnya, bolosnya gadis 16 tahun ini bukan bolos-sekolah biasa. Dengan aksi bolos sekolah, ia merespon perubahan iklim. Intinya, Greta hendak menampar UN Climate Summit lewat pidatonya yang menganggap bahwa para pemangku kebijakan dan korporasi hanya membual dan tidak memberi aksi nyata untuk perubahan iklim.

Tak ayal, aksinya pun menginspirasi jutaan kaum muda lainnya dan pada klimaksnya adalah aksi global perubahan iklim medio September 2019. Aksi tersebut bahkan tercatat sebagai aksi perubahan iklim terbesar sepanjang sejarah manusia, dengan melibatkan sedikitnya 4 juta demonstran yang tersebar di berbagai negara. Terang saja, nama Greta dinobatkan menjadi Person of The Year tahun 2019 versi majalah Time.

Ringkasnya, perubahan iklim dan isu lingkungan lainnya telah menjadi ancaman bersama. Lebih-lebih Indonesia, tanpa campur tangan serta keserakahan penghuninya pun bumi pertiwi kita sudah dihantui oleh ancaman bawaan. Ada yang bisa diramalkan, ada yang tidak.

Gempa akibat pergeseran lempeng bumi, misalnya, belum ada alat yang secara akurat mampu meramalkannya. Begitupun Tsunami—sebagai efek domino gempa—, juga masih serupa, kendati bisa diupayakan mitigasinya, salah satunya lewat adanya sistem peringatan dini.

Di samping itu, terdapat pula banjir. Banjir bisa dibilang termasuk salah satu bencana yang memungkinkan dicegah, kendatipun ada pula jenis banjir yang tidak dapat dicegah, yaitu ketika curah hujan cukup ekstrem.

Banjir di Mekah tahun 1941, misalnya, penyebabnya diduga tidak hanya karena lokasi kota yang terletak di tengah cekungan, tetapi juga karena hujan yang tidak biasa. Selain itu, batu dan tanah kota yang padat mengakibatkan air sulit terserap sehingga tertahan di permukaan.

Kejadian banjir ini dicatat dunia setelah beredar sebuah foto yang terhitung langka. Dikutip dari Saudi Gazette, foto tersebut menunjukan seorang anak laki-laki yang masih melakukan tawaf dengan berenang mengelilingi Ka’bah.

Banjir tersebut diceritakan sangat parah hingga melumpuhkan seluruh kota. Hal serupa juga terjadi di masa Nabi Muhammad sebelum menerima wahyu. Kabarnya, akibat dari banjir itu Ka’bah rusak parah. Dan, sewaktu proses renovasi itulah Muhammad muda mendapat julukan al-Amin karena telah mempersatukan bangsa Arab lewat aksi mengembalikan Hajar Aswad ke tempat semula.

Kiwari, banjir di sejumlah pemukiman warga wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) di penghujung 2019 dan awal 2020 juga diperkirakan oleh para pakar sebagai efek langsung dari lebatnya curah hujan yang ekstrem.

Meski begitu, banjir di Jabodetabek ini cukup unik. Ia seperti agenda tahunan saja. Dan, banjir di perkotaan biasanya terjadi akibat air hujan tidak tersalur dengan baik. Sementara, Jabodetabek adalah wilayah perkotaan. Artinya, ia sebetulnya bisa dicegah.

Ironisnya, tidak sedikit masyarakat yang kemudian menyederhanakan bencana banjir laksana apa yang dialami Nabi Nuh. Yang lebih menyedihkan lagi, narasi azab atau hukuman Tuhan ini lebih laris dikonsumsi masyarakat di tengah lusinan penjelasan ilmiah tentang musabab bencana. Tsunami Aceh (2004), Gempa Jogja (2006), Gempa NTB (2018), dan Tsunami Palu (2018) merupakan sederet tamsil dari bencana alam yang tidak selamat dari simplifikasi toxic itu.

Malahan, baru-baru ini warga Bekasi dikabarkan telah melakukan razia minuman keras (Miras) karena menganggap Miras sebagai biang kerok banjir yang melawat Jabodetabek. Adalah sebuah toko miras di Perumahan Mutiara Gading Timur, Mustikajaya, Kota Bekasi yang terkena razia tersebut (11/1). Pasalnya, warga setempat merasa keberadaan dan kegiatan ekonomi di warung itu menjadi penyebab banjir.

Padahal, Miras atau apapun namanya, kalau kata Raja Dangdut Rhoma Irama, sebatas membuat orang menjadi gila, putus sekolah, edan, dan kehilangan masa depan. Ini faktual dan bukan omong kosong. Adalah munafik, saya kira, menganggap banjir sebagai murka Tuhan, sedangkan di saat yang sama disiplin buang sampah pada tempatnya tidak ditegakkan segalak disiplin anti-Miras, atau maksiat apapun itu.

Lagi pula, terminologi azab tidaklah sesederhana itu. Menyadur keterangan Kiai Bahauddin Nur Salim (Gus Baha) di salah satu forum diniyah-nya, bahwa Tuhan itu kuasa mendatangkan azab dari sisi atas, atau dari bawah, atau—dan ini sering terjadi— Dia menjadikan kita saling tidak cocok sehingga baku hantam dan bunuh-bunuhan satu sama lain.

Pendeknya, azab adalah wilayah Allah. Titik. Manusia, dengan demikian, tidak punya hak untuk mencampuri atau malah menghukuminya.

Bahkan, demikian kata Gus Baha, kalau kita perhatikan pola-pola yang ada di dalam al-Qur’an itu selain azab masih ada rohmat (kasih sayang) Allah. Dan, kalau rohmat itu pasti redaksi di Qur’an itu bi shighat al-jazmi, atau dengan shigat kepastian: …kataba rabbukum ala nafsi rohmah… (bahkan tuhanmu memastikan dirinya pelaku pemberi cinta-kasih), Q.S. al-An’am [6]: 54.

Sebaliknya, kalau Allah menceritakan azab itu redaksinya hanya “Saya mampu memberi azab”. Artinya, bisa “iya” bisa “tidak”. Dan, namanya mampu kan tidak harus melakukan, meski tetap potensi melakukan. Yang jelas Allah itu kuasa, misal, menjadikan bumi likuefaksi (Q.S. al-Mulk [67]: 16).

Maka, azab hanyalah potensi, sedangkan cinta kasih Tuhan itu faktual, atau pasti. Oleh karena itu, sombong sekali kalau ada manusia yang sok suci dengan ikut-ikutan memberi vonis sebuah peristiwa yang menjadi otoritasnya Allah!!