Abiy Ahmed Ali, Nobel Perdamaian dan Konflik Perbatasan

Abiy Ahmed Ali, Nobel Perdamaian dan Konflik Perbatasan

 

Abiy Ahmed Ali dinobatkan menjadi penerimah hadiah Nobel Perdamian 2019. Perdana Menteri Ethiopia ini adalah aktor utama penyelesaian konfilk antara negaranya tetangganya Eritrea. Salah satu kemenangan terbesar Abiy sejak berkuasa April tahun lalu adalah mengakhiri kebuntuan militer hampir 20 tahun dengan Eritrea menyusul perang di perbatasan sejak 1998-2000.

“Saya sangat rendah hati dan tergetar….. terima kasih banyak. Ini adalah hadiah yang diberikan kepada Afrika, yang diberikan kepada Ethiopia , dan saya dapat membayangkan bagaimana para pemimpin Afrika lainnya akan mengambilnya secara positif untuk bekerja pada proses pembangunan perdamaian di benua kita, ” katanya seperti dikutip laman theguardian.

Read More

Pria 43 tahun ini secara agresif mengejar kebijakan yang membentuk kembali dinamika politik di perbatasan negeranya. Hanya dalam waktu enam bulan setelah disumpah, Abiy berdamai dengan musuh bebuyutannya negara  Eritrea. Ia juga membebaskan para pembangkang dari penjara, meminta maaf atas kebrutalan negara, dan menyambut pulang kelompok-kelompok bersenjata di pengasingan yang dicap “teroris” oleh para pendahulunya.

Kesepakatan damai dengan Eritrea mengejutkan dan menyenangkan puluhan juta orang di seluruh Afrika Timur. Konflik berkepanjangan itu telah merugikan kedua negara dalam hal biaya hidup dan sumber daya. Bahkan baru-baru ini Abiy memainkan peran penting dalam menjembatani kesepakatan politik di negara tetangganya, Sudan, setelah jatuhnya diktator veteran Omar al-Bashir.

Dia adalah pemimpin Organisasi Demokrasi Rakyat Oromo (OPDO), salah satu dari empat partai etnis yang membentuk koalisi Front Demokrasi Revolusioner Rakyat (EPRDF) berkuasa Ethiopia. Pria 42 tahun, yang lahir di kota Agaro di Oromia dan berasal dari keluarga campuran Kristen-Muslim campuran. Abiy bergabung dengan OPDO pada akhir 1980-an.

Kala masih remaja mendaftar di angkatan bersenjata hingga berpangkat letnan kolonel. Dia juga memiliki gelar doktor dalam studi perdamaian dan keamanan.Setelah menjalankan tugas intelijen cyber Ethiopia, ia memasuki dunia politik. Kariernya di politik kemudian melesat. Para analis mengatakan latar belakang campuran Kristen dan Muslim membuat  Abiy membantunya pemimpin yang menjembatani perpecahan komunal dan sektarian di Ethiopia. Terlebih dirinya didukung dengan kefasihan tiga bahasa etnik di negera itu menjadikannya sebuah nilai tersendiri.

Reformasi dalam negeri yang dicanangkannya membuat Ethiopia lebih demokratis dengan mencabut larangan terhadap munculnya partai politik, membebaskan jurnalis yang dipenjara dan memecat serangkaian pejabat yang dituduh melakukan penyiksaan. Disamping itu dibolehkannya para pembangkang pulang dari pengasingan. Warga tidak takut lagi berbicara politik di depan umum. Ia juga mempunyai inisiatif dalam kegiatan pelestarian lingkungan seperti penanaman jutaan pohon.