Viral Foto Ma’ruf Amin & Kakek Sugiono Itu Tanda Bahwa Komunikasi Kita Tidak Lagi Primitif

Viral Foto Ma’ruf Amin & Kakek Sugiono Itu Tanda Bahwa Komunikasi Kita Tidak Lagi Primitif

Foto Ma’ruf Amin itu satu hal, sedang foto Kakek Sugiono itu hal lain. Oleh eks Ketua MUI Tanjungbalai keduanya disejajarkan untuk menunjukkan sebuah pesan.

Viral Foto Ma’ruf Amin & Kakek Sugiono Itu Tanda Bahwa Komunikasi Kita Tidak Lagi Primitif

Ketika viral kolase foto Wapres Ma’ruf Amin dan seorang bintang porno Jepang Shigeo Tokuda alias Kakek Sugiono, seketika itu juga ingatan saya mendarat pada seorang pemikir bernama Marshall McLuhan: selamat datang di electronic age.

Tapi sebelum itu, marilah kita sepakati bersama bahwa atasnama apapun, merendahkan martabat orang yang tidak dikenal adalah sebuah bentuk tindakan yang tidak dapat dibenarkan.

Mula-mula, McLuhan melihat semua teknologi termasuk media elektronik sebagai sebuah lingkungan. Dia lalu menciptakan sebuah istilah bernama “desa global” (global village) sebagai visi awal era internet.

“Kami melihat masa sekarang melalui kaca spion. Kami berbaris mundur ke masa depan,” begitu kira-kira kata McLuhan.

Lebih jauh, lewat teori masyhurnya mengenai era sejarah manusia, McLuhan membagi teknik komunikasi manusia menjadi empat: kesukuan (tribal), aksara (literal), cetak (print), dan elektronik. Gagasan tersebut tertuang dalam sebuah buku berjudul “The Gutenberg Galaxy”.

Pada yang pertama (the tribal age), teknik komunikasi diandaikan masih mengandalkan indera pendengaran, penuturan, bahkan penciuman. Dan, menurut McLuhan, itu semua terjadi dalam situasi yang kelewat kompleks. Oleh sebab itu, tidak heran jika di masa lalu produksi dongeng, mitologi, dan kisah-kisah dengan kearifan lokal lainnya begitu massif.

Lalu, gaya komunikasi era tribal itu secara perlahan menjadi sepi peminat seiring dengan hadirnya alfabet atau huruf . Maka, era ini ditandai sebagai the age of literacy, di mana fonetik alfabet menjadi bagian utama dalam perkembangan komunikasi manusia.

Lebih jauh, McLuhan mengklaim bahwa di periode aksara itu, fonetik alfabet menjadi bahan yang cukup penting bagi perkembangan matematika, sains, maupun filsafat pada masa kejayaan Yunani.

Di masa-masa ini, indera pengelihatan manusia menjadi lebih dominan ketimbang era sebelumnya yang lebih primitif. Manusia berkomunikasi tidak lagi menggunakan tuturan, pendengaran, atau penciuman, melainkan dengan tulisan yang sudah barang tentu mengandalkan pengelihatan.

Kemudian, peradaban manusia memasuki era baru bernama the print age. Ini ditengarai oleh revolusi industri yang terjadi di berbagai belahan dunia dan dipercaya sebagai prototipe dari the print age.

Ya, sejak Gutenberg menemukan mesin cetak, kemajuan peradaban adalah niscaya, bil khusus di bidang (media) komunikasi manusia. Di masa ini, kekuatan kata-kata melalui mesin cetak mengagresi seantero dunia. Maka, tak terhindarkan lagi jika dengan hadirnya mesin cetak, dan kemudian media cetak, manusia jadi lebih bebas berkomunikasi dan bertukar informasi satu sama lain.

Kiwari, kita telah berada di era baru. Medio 1960-an, McLuhan memprediksi bahwa dunia akan memasuki era keempat, yaitu era elektronik. Ini ditandai dengan terbentuknya sebuah komunitas yang disatukan oleh teknologi. Orang-orang pun bisa mengakses informasi yang sama dengan memanfaatkan teknologi.

Meski begitu, demikian McLuhan, masing-masing era itu masih terus berkelindan satu sama lain. Artinya, kendati hari ini telah berada di era elektronik, nyatanya tetap memungkinkan kita untuk berkomunikasi secara tribal. Kalau tidak percaya, lihatlah betapa Jenderal Gatot Nurmantyo dapat mencium keberadaan dan/atau kebangkitan PKI.

Dan, itulah sialanya. Kemudahan akses informasi hari ini ternyata berbarengan dengan mimpi buruk peradaban. Bagi McLuhan, era elektronik jauh lebih berpotensi menjadi zaman kekacauan ketimbang zaman keemasan.

“Ketika orang-orang saling berdekatan, mereka menjadi semakin biadab, dan tidak sabar satu sama lain. Desa global adalah tempat berkomunikasi antar-muka yang sangat menyulitkan karena situasinya yang sangat kompleks,” tulis McLuhan.

Di titik ini, munculnya kolase foto Ma’ruf Amin-Kakek Sugiono adalah wajar belaka, atau bisa dibilang sebagai efek samping “global village” itu tadi. Apalagi jika motif si pelaku adalah politis. Dengan kata lain, “kreativitas” si pelaku itu sengaja diperagakan dengan maksud merendahkan sosok Ma’ruf Amin.

Masalahnya, apakah si pelaku memiliki problem personal atau kesumat dengan Ma’ruf Amin?

Wah, kalau itu tanya Bareskrim saja, dan bukan urusan saya. Yang jelas, belakangan diketahui bahwa si pelaku adalah eks Ketua MUI Tanjungbalai. Dan, jangan lupa, Ma’ruf Amin sendiri juga pernah berada di puncak kekuasaan MUI. Maka, menjadi semakin jelas bahwa terdapat aspek yang sangat politis di sini.

Karenanya, fenomena itu juga menjelaskan bahwa kolase foto Ma’ruf-Kakek Sugiono tidak saja merupakan efek samping dari global village, tetapi juga mengafirmasi apa yang disebut Walter Benjamin sebagai “fungsi politis” karya seni.

Dalam sebuah esai terkenal berjudul The Work of Art in The Age of Mechanical Reproduction, Benjamin menulis bahwa teknik reproduksi mekanik memungkinkan salinan (copy) dari yang asli (the original) ditempatkan dalam berbagai konteks. Ini memungkinkan dua hal: pertama, misi emansipatoris/aktivisme politik; atau kedua, penyimpangan (abuse of art).

Pada yang pertama, poster-poster Paslon (fiktif) Nurhadi-Aldo di Pilpres 2019 adalah tamsil paling konkret. Orang jadi begitu gampang menyandingkan gambar Nurhadi-Aldo dengan tokoh-tokoh sekaliber Karl Marx, misalnya, atau bahkan di tengah-tengah dua Paslon yang sedang bertanding, antara Jokowi-Ma’ruf dengan Prabowo-Sandi. Dan, tentu saja, ini dimengerti dalam tataran positif, yakni untuk mendobrak dominasi dua Paslon yang dinilai publik sebagai itu-itu saja. Ringkasnya, Nurhadi-Aldo dipersonakan sebagai Paslon alternatif.

Sementara itu, contoh paling dekat dari fenomena abuse of art adalah film G-30S/PKI. Tidak perlu berkepanjangan kiranya (kecuali kalau Anda adalah Jenderal Gatot) untuk mengatakan bahwa film tersebut tidak lebih dari sekadar alat propaganda rezim Orba dalam memanipulasi apa yang terjadi.

Meski begitu, politisasi seni dalam film juga tidak melulu tentang penyimpangan. Terkadang, sebuah film (jika dimengerti sebagai produk seni) bisa juga menjadi alat penyadaran publik atau sebagai medium pembebasan yang emansipatoris.

Contoh teranyar adalah film kolaborasi Narasi TV dan Paramadina tentang generasi ketiga PKI dan eksekutor 65. Di sana benderang sekali bilamana ada kontras yang ingin diperlihatkan dari G30S/PKI: bahwa semua kita hanyalah korban dari eksploitasi segelintir elit politik waktu itu, dan karenanya sekarang adalah waktu untuk move on.

Nah, persoalnnya, kolase foto Maruf Amin dan Kakek Sugiono itu apakah masuk dalam kategori aktivisme politik, atau sebaliknya, sebuah penyimpangan karya seni? Butuh diskusi lanjut untuk menjawab ini.

Yang jelas, foto Ma’ruf Amin adalah satu hal, sedangkan foto Kakek Sugiono merupakan hal lain. Dan, dari dua hal yang berbeda itu, oleh eks Ketua MUI Tanjungbalai disejajarkan untuk menunjukan sebuah pesan: bahwa menjadi Ketua MUI itu ternyata tidak melulu bicara tentang kesalehan belaka.