Terkadang, Umat Islam Sukar Jadi Pengayom

Terkadang, Umat Islam Sukar Jadi Pengayom

Terkadang, kita kita umat Islam tidak jadi pengayom

Terkadang, Umat Islam Sukar Jadi Pengayom

Di pelosok Yogya, karena perkembangan keagamaan, lebih khusus lagi keislaman, banyak masjid yang harus diperluas. Tetapi bagaimana dengan masjid yang lahannya sudah mentok? Alternatifnya, merambah ke jalan. Di depan masjid yang sebenarnya jalan umum kemudian dibangun tenda permanen berbahan baja ringan. Jalan ini dipakai terutama untuk jumatan atau pengajian.

Pola seperti ini bermunculan di Yogya dan sebenarnya sudah lama berlangsung di Jakarta. Mungkin juga di kota-kota lain seiring perkembangan kota dan pertambahan penduduk.

Tentu saja, tak ada yang protes dengan gejala ini. Tepatnya tak ada yang berani mempersoalkan. Kecuali dalam bentuk kasak-kusuk. Ia diterima sebagai kelaziman. Wong untuk ibadah dan kebaikan kok.

Ini adalah fasilitas dan priviles umat Islam yang umatnya paling besar. Tidak mungkin dilakukan umat agama lain. Lha di Karimun sana, mereka mau merehab bangunan gereja saja diprotes dan ditolak dengan keras. Sementara di kota pelajar ini, mereka ingin beribadah di mal, yang ruangannya mereka sewa, bukan seperti musala yang menjadi fasilitas resmi mal, juga diprotes dengan keras.

Hal ini membuat saya jadi sedih. Mengapa segelintir umat Islam, saudara-saudara saya seagama, tidak bisa bersikap toleran ya? Mengapa mereka menghalang-halangi sedemikian rupa umat lain untuk dengan tenang menjalankan ibadah agama mereka? Apa yang mereka khawatirkan sebenarnya? Mengapa terhadap keberadaan mal mereka bisa menerima bahkan menjadi pengunjungnya, sementara terhadap rumah ibadah agama lain demikian resisten?

Rasanya hal ini bertentangan betul dengan prinsip Islam sebagai agama damai dan rahmah. Agama yang menunjukkan sikap persahabatan, toleran dan kasih sayang.

Sebagai agama dengan penganut terbesar, sudah semestinya umat Islam bersikap mengayomi, termasuk kepada kalangan minoritas. Didorong oleh nilai-nilai universal Islam, umat Islam bisa ikut menjaga dan menjamin kenyamanan umat lain beribadah. Dan jika umat lain ini, merasa tidak nyaman dan aman, serta merasa terganggu, umat Islam mesti tersinggung. Inilah ukuran kedewasaan dalam beragama. Umat Islam harus percaya diri. Tak ada yang perlu dikuatirkan dengan keberadaan umat lain, termasuk tempat ibadahnya.

Itulah sikap yang ditunjukkan Nabi Muhammad: percaya diri, kasih sayang, toleran, dan mengayomi. Karena itu, sekali lagi, saya merasa sedih, dan tambah merasa sedih, atau tepatnya cemburu, karena rasanya umat lain yang bisa menjalankan prinsip toleransi dan mengayomi ini.

Beberapa tahun lalu, saya pernah melakukan riset di sebuah kawasan perdesaan Tabanan, yang jauh dari kota. Penduduknya bisa dikatakan mayoritas Hindu-Bali. Tapi ternyata saya masih menemukan sebuah masjid dengan penduduk muslim di sekitar. Heran juga saya bagaimana bisa ada komunitas muslim di sini. Setelah beberapa kali mampir, saya jadi kenal pengelolanya dan riwayat masjid tersebut.

Penduduk sekitar masjid itu ternyata keturunan para nelayan Bugis. Berawal dari dua-tiga keluarga mereka kemudian berkembang menjadi beberapa keluarga. Sekarang rata-rata mereka sudah bisa berbahasa Bali dan berinteraksi dengan warga sekitar dengan baik. Yang menarik adalah tanah yang mereka diami dan tempat berdiri masjid itu adalah tanah adat. Tanah yang dipinjami oleh desa adat. Sungguh ini luar biasa sekali.

Pengalaman-pengalaman seperti ini sering saya temui dan dapatkan. Mungkin juga Anda punya cerita semacam itu.

Mengapa orang Hindu-Bali bisa dan mau demikian? Pertama, tentu karena ajaran agama dan budaya mereka yang damai dan toleran. Kedua, mereka merasa bertanggung jawab untuk menjaga dan mengayomi. Mereka tak perlu khawatir dan percaya diri. Nyatanya setelah puluhan tahun, kehidupan di situ baik-baik saja. Damai dan Sentosa.

Menarik bahwa “pengayoman” ini menjadi bagian penting dari perkembangan sejarah Islam awal. Terdesak oleh orang-orang Quraisy, Nabi Muhammad kemudian mengutus dan mengungsikan para sahabatnya ke Habsyah (Ethiopia) yang kala itu dipimpin seorang raja Kristen.

Singkat cerita, orang Quraisy kemudian menyusul ke sana dan meminta orang-orang itu dikembalikan ke mereka Karena menurut mereka orang-orang ini telah mengkhianati adat sukunya. Tapi raja Habsyah menolak menyerahkan, dan dia bilang mereka semua adalah tamunya, ajaran mereka mirip dengan ajarannya yang monoteistis, karena itu di akan melindungi dan menjaga mereka. Orang-orang Quraiys itu pulang dengan tangan hampa. (Setelah Islam mulai berkembang, orang-orang yang dikirim nabi ini kemudian kembali ke Makkah, kecuali satu orang yang memilih terus tinggal di Habsyah dan masuk Kristen).

Para pembelajar sejarah Islam awal pasti tahu episode sejarah ini. Jika si raja itu menyerahkan para tamunya yang Muslim atau si raja yang notebene Kristen itu yang menghabisi para utusan nabi, mungkin sejarah Islam akan lain. Entahlah, tapi sejarah adalah cermin. Dari sana kita mematut sikap dan diri.

Azan Asar baru bergema. Mendung sedari tadi tapi hujan belum juga turun. Doa sore ini, Ya Allah jadikanlah umat Islam pengayom di negeri ini! We