Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat 74-75: Nabi Khidir Menghilangkan Nyawa Seorang Remaja, Nabi Musa Protes

Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat 74-75: Nabi Khidir Menghilangkan Nyawa Seorang Remaja, Nabi Musa Protes

Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat 74-75: Nabi Khidir Menghilangkan Nyawa Seorang Remaja, Nabi Musa Protes

Setelah Nabi Khidir memaafkan Nabi Musa atas sikap protesnya, keduanya berjalan menuju suatu wilayah, setelah turun dari perahu. Dalam kisah dua ayat ini, Nabi Khidir lagi-lagi melakukan hal yang di luar nalar. Ia membunuh remaja yang tak diketahui apa kesalahannya oleh Nabi Musa. Terkait hal ini, Allah SWT berfirman menceritakan kisah di atas:

فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا لَقِيَا غُلَٰمًا فَقَتَلَهُۥ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةًۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ لَّقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا نُّكْرًا () قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِىَ صَبْرًا

Fantholaqo hatta idza laqiya gulaman faqotalah. Qola aqotalta nafsan zakiyyatam bi ghoiri nafsil la qod ji’ta syai’an nukro () qola alam aqul laka innaka lan tastathi‘a ma‘iya shobro

Artinya:

“Lalu keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak remaja, maka ia (Khidir) segera membunuhnya. Dia (Musa) memprotes, “Engkau itu telah membunuh jiwa suci tanpa bersalah. Engkau itu benar-benar telah melakukan kemungkaran!” (Khidir) menjawab, “Saya bilang juga apa. Kamu (Musa) pasti tak akan sabar (belajar) bersama saya.” (QS: Al-Kahfi Ayat 74-75)

Pada kisah sebelumnya, Nabi Khidir merusak perahu yang berpotensi terhadap tenggelamnya perahu yang akan menewaskan banyak penumpang. Namun, hal tersebut tidak terjadi. Perahu hanya rusak, dan dapat menepi di pinggir pantai. Semua penumpang pun selamat. Kali ini, Nabi Khidir benar-benar menghilangkan nyawa manusia, seorang remaja. Oleh karena itu, Nabi Musa protes kepada Nabi Khidir tidak dalam keadaan lupa bahwa dirinya sedang belajar dan tidak perlu protes. Demikian jelas Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah yang mengutip Sayid Qutub.

Menurut Ibnu ‘Athiyyah dalam al-Murarrar al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-‘Aziz, remaja yang dibunuh Nabi Khidir itu belum balig. Oleh karena itu, Al-Qur’an menceritakan ungkapan Nabi Musa dengan diksi zakiyyah, yang berarti ‘belum berdosa’. Akan tetapi, sebagian mufasir lain beranggapan bahwa remaja yang dibunuh Nabi Khidir itu sudah dewasa. Al-Qur’an tidak menjelaskan bagaimana Nabi Khidir membunuh remaja tersebut. Quraish Shihab lebih memilih pendapat pertama dengan alasan melihat spontanitas Nabi Musa as. itu.

Imam al-Syaukani dalam Fathul Qadir menyebutkan bahwa jika remaja itu dibiarkan sampai besar, ia akan menyusahkan kedua orangtuanya yang saleh. Nabi Khidir langsung diberitahu oleh Allah bahwa anak tersebut akan menjadi perampok jika nanti besar. Selain itu, menurut al-Qurthubi dalam al-Jami‘ li Ahkamil Qur’an, hanya Nabi Musa yang melihat Nabi Khidir menghilangkan nyawa remaja tersebut. Ia tidak melakukannya di muka umum. Tentu ini berlaku hanya pada masa Nabi Khidir saja. Pada masa saat ini kita tidak dibenarkan melakukan hal yang bertentangan dengan hukum dan agama.