Tafsir Surat Al-A’raf Ayat 10 Tentang Penyebab Manusia Tidak Bersyukur

Tafsir Surat Al-A’raf Ayat 10 Tentang Penyebab Manusia Tidak Bersyukur

Pernahkah kita menghitung betapa banyak nikmat yang diberikan Tuhan? Sungguh manusia tak akan mampu menghitungnya. Betapa luas kasih sayang Allah kepada manusia. Dia menganugerahkan segela hal untuk manusia, terutama nikmat akal agar menjadi pembeda dengan makhluk lainnya. Dalam surat Al-A’raf ayat 10, Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ ۗ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ

Artinya:

Read More

”Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.”

Menurut Sahabat Ibnu Abbas yang dikutip oleh al-Fairuzzabadi dalam Tafsir Tanwir al-Miqbas menjelaskan bahwa Allah telah memberikan nikmat banyak sekali kepada manusia berupa segala makanan, minuman serta pakaian, tapi kenapa banyak manusia yang tak bersyukur?

Imam al-Asfihani dalam Makarim as-Syariah menjelaskan bahwa ada dua hal yang menjadikan manusia kurang bersyukur, yaitu:

Pertama, faktor ketidaktahuan atau kebodohan dirinya akan nikmat-Nya. Hal ini sesuai dengan yang terdapat dalam surat Thaha ayat 115, yang berbunyi:

وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَىٰ آدَمَ مِن قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا

Artinya:

”Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.”

Kedua, faktor Lupa. Hal ini seperti Syair yang dikutip oleh Imam al-Munawi dalam Faidhul Qadir, beliau mengatakan:

ﻭﻣﺎ سمي الإنسان  ﺇﻻ ﻟﻨﺴﻴﻪ. . . ﻭﻻ اﻟﻘﻠﺐ ﺇﻻ ﺃﻧﻪ ﻳﻨﻘﻠﺐ

Artinya:

Dinamakan manusia karena sering pelupa, serta dinamakan hati karena selalu berubah-ubah.

Dari penjelasan ini dapat dipahami bahwa manusia akan tersadar bila nikmat itu tercabut dari dirinya. Seseorang akan merasakan nikmatnya sehat bila ia sedang sakit, ia merasakan nikmatnya masa muda tatkala ia sudah mulai tua, serta akan tersadar akan nikmat kekayaan setelah ia jatuh dalam kefakiran.