Sepertiga Akhir Ramadhan: Meneguhkan Komitmen di Jalan Kebaikan

Ramadhan adalah waktu terbaik bagi muslim untuk meningkatkan diri

Sepertiga Akhir Ramadhan: Meneguhkan Komitmen di Jalan Kebaikan

Yuk bermuhasabah, menjadi lebih baik lagi dengan di akhir Ramadhan

Tak terasa kita memasuki sepuluh hari akhir bulan Ramadhan. Sebagaimana keterangan yang sering kita dengar, sepertiga akhir Ramadhan adalah waktu bagi kaum beriman untuk mendapatkan pembebasan dari neraka (‘itqun min al-nar). Kabar ini tentu membuat kita menjadi bersemangat dalam menjalani ibadah puasa sampai sebulan penuh.

Tentu, untuk mendapat surga adalah kewenangan penuh dari Allah. Amal perbuatan bukanlah jaminan yang menyebabkan seseorang masuk surga, tapi semata rahmat dari Allah SWT. Sehingga setiap kali kita beribadah atau berbuat kebaikan, selalu dianjurkan untuk memurnikan niat semata karena Allah. Selalu membarengi setiap perbuatan dengan mengharapkan rahmat dan ridla-Nya.

Hanya dengan bersandar kepada Allah, iman dalam diri kita menjadi senantiasa hidup; tidak redup. Dan dengan terus-menerus menyalakan harapan terhadap rahmat Allah, potensi kebaikan yang kita miliki akan menjadi terbuka. Potensi kebaikan inilah yang perlu terus diasah dan ditingkatkan. Caranya dengan melatih kesalehan ritual dengan menjalankan ibadah pokok (seperti: shalat, puasa, haji, dan seterusnya), serta kesalehan sosial melalui pergaulan masyarakat dengan baik. Kesalehan ritual dan sosial akan membentuk spiritualitas yang kokoh dalam diri orang beriman.

Read More

Ramadhan adalah momentum untuk mematangkan mental, mendewasakan diri dalam menjalankan agama Allah. Puasa dengan menahan makan dan minum dari terbit fajar hingga maghrib merupakan latihan untuk mengendalikan nafsu, serta menahan perbuatan yang ditimbulkan oleh nafsu seperti marah, iri-dengki, dan segala keburukan. Sementara di malam hari, kita melatih batin untuk mendekatkan diri kepada Allah, menggerakkan hati untuk memupuk kecintaan kepada Allah, mengalahkan panggilan syaitan.

Dengan membuka potensi kebaikan, maka kita akan diliputi cara pandang kebaikan dalam melihat sesama manusia atau makhluk yang lain. Akan selalu berpikiran positif, berperasaan positif, serta mengambil makna baik dari setiap peristiwa ataupun masalah yang kita hadapi. Dari kacamata kebaikan, seorang muslim akan mengembangkan sikap  pemaaf dan pemurah. Sikap ini merupakan pancaran dari sifat Allah yang maha pemaaf atas dosa yang diberbuat oleh hamba-Nya, dan maha pemurah dengan memberikan pertolongan kepada makhluk.

Tidak ada manusia yang tidak melakukan kesalahan. Bagi orang yang melakukan dosa, pintu taubat selalu terbuka. Karena itu kita harus sungguh-sungguh melakukannya. Agama memberikan harapan kepada para hamba untuk melakukan taubat dan memohon ampunan atas dosa-dosa. Hanya  Allah yang memiliki otoritas untuk menerima taubat. Manusia atau rahib  tidak bisa menebus dosa. Mengakui kesalahan yang diperbuat, berkomitmen untuk tidak mengulanginya, dan berniat kuat dan konsisten pada jalur kebaikan.

Allah memerintahkan kepada kita semua untuk berbuat dengan adil dan ihsan (kebaikan). Syeikh Izzuddin Abdul Aziz ibn Abdussalam (w.660 H) dalam al-Qawa’id as-Shughra menjelaskan bahwa ihsan mencakup tiga hal. Pertama; Ihsan dalam hal ibadah, yang berarti penghambaan manusia secara total kepada Tuhannya seakan-akan dia menyaksikan Tuhan, disertai keyakinan bahwa segala perbuatan hamba itu tidak lepas dari pengawasan-Nya.

Kedua, berbuat kebaikan (ihsan) kepada sesama makhluk ciptaan Allah, yakni dengan memperlakukan makhluk secara baik. Ihsan di sini bertujuan untuk mengambil manfaat atau menghindari mudarat yang ditimbulkan oleh makhluk tersebut. Bentuk paling sederhana dari ihsan kategori ini misalnya kita senantiasa berwajah tersenyum ketika bertatap muka dengan sesama manusia.  Sedangkan ihsan terhadap hewan, misalnya, kita menghindari penyiksaan kepada hewan. Bahkan terhadap hewan sembelihan yang akan kita makan dagingnya, kita dianjurkan untuk melakukan pemotongan dengan sekali potong untuk menghindari derita sakit sang hewan tersebut.

Ketiga, ihsan terhadap diri sendiri dengan menjalankan perintah Allah, dengan mengambil kemaslahatan perkara diwajibkan maupun yang disunnahkan. Serta menghindari apa yang diperintahkan untuk kita hindari atas mafsadah yang ditimbulkan oleh perkara yang dilarang (haram) maupun yang dimakruhkan. Terlepas perkara itu hal kecil maupun besar, kita akan mendapatkan balasannya.

Manusia adalah makhluk spiritual yang mampu menangkap sinyal untuk mengenal dan mengagungkan sang pencipta. Banyak pencarian yang dilakukan dengan mengarahkan potensi nalar dan batin manusia berujung pada kesimpulan akan adanya Tuhan yang adikodrati. Manusia pada gilirannya akan merefleksikan jati dirinya sebagai ciptaan, menangkap sinyal-sinyal kekuasaan Tuhan, dan merenungkan makna di balik peristiwa yang dialaminya.

Puasa ibarat tanaman tebu, makin usia bertambah, makin tua akan berasa manis. Sepertiga akhir Ramadhan akan memberikan potensi kita untuk mampu merasakan manisnya iman. Membuka diri terhadap kebaikan, kembali kepada jalan Allah, dan sekuat tenaga menghindari keburukan, dan kerusakan.