Sentimen Agama dalam Pilkada Jakarta

Sentimen Agama dalam Pilkada Jakarta

Sentimen Agama dalam Pilkada Jakarta

Dengan berbagai cara, banyak orang berjuang tanpa lelah untuk menumbangkan Ahok dalam pilkada. Tentu yang paling fenomenal adalah menyerang Ahok dari sudut agama dan etnisnya.

Merujuk kitab suci, mereka menolak Ahok sebagai gubernur karena Ahok adalah Kristen. Dan kristen adalah kafir. Dan kafir tak boleh menjadi pemimpin Jakarta yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Tak hanya soal agamanya. Ahok juga disoal ke-China-annya. Menurut mereka, orang China itu bukan pribumi. Dan non pribumi adalah warga negara “kelas dua” sehingga tak boleh menjadi pemimpin masyarakat pribumi.

Berbagai lembaga survei menginformasikan bahwa serangan melalui agama ini dianggap senjata paling mematikan buat Ahok. Ditambah lagi soal Chinanya itu.

Jika tanggal 19 April nanti Ahok betul-betul berhasil bisa dilumpuhkan melalui agama dan etnisnya, maka pilkada Jakarta akan memberi “inspirasi” bagi daerah lain di Indonesia.

Di daerah-daerah yang mayoritas penduduknya non-Islam, maka kandidat pemimpin yang muslim akan disoal karena keislamannya. Di luar Jawa, bisa saja kandidat yang bersuku Jawa, Sunda, Madura akan disoal karena kejawaan, kesundaan dan kemaduraannya.

Sekiranya sentimen agama, etnis, dan suku ini terus meluas dan berkembang menjadi kelaziman politik di Indonesia, maka saya belum bisa membayangkan tentang keberadaan “Indonesia” sebagai negara plural di masa depan.

Apakah Indonesia akan lolos dari tantangan ini? Atau Indonesia akan terbelah berdasarkan agama bahkan etnisnya? Saya tidak tahu. Wallahu a’lam bis shawab.

Ahad, 2 April 2017
Salam,

Abdul Moqsith Ghazali