Sabar Separuh dari Iman, Bagaimana Maksudnya?

Sabar Separuh dari Iman, Bagaimana Maksudnya?

Sabar Separuh dari Iman, Bagaimana Maksudnya?

Apa yang diajarkan oleh Islam tatkala menghadapi musibah? Ya, bersabar. Hal ini sering ditemui saat menyinggung tentang cobaan atau ujian hidup. Baik itu terkait masalah keluarga, atau interaksi sosial bersama orang lain. Atau, menderita suatu penyakit, mengalami kecelakaan serta kehilangan benda berharga.

Salah satu hadis terkait sabar adalah sabda Nabi Muhammad bahwa sabar adalah separuh dari iman. Imam al-Hakim dalam kitab al-Mustadrakdan beberapa ulama’ rawi lain meriwayatkan dari Ibn Mas’ud:

“الصَّبْرُ نِصْفُ الإِيمَانِ”

Sabar adalah separuh dari iman

Hadis ini menunjukkan begitu berharganya sabar. Sebab pondasi paling penting dari agama Islam adalah persoalan iman. Dimana ini mencakup iman kepada Allah, Malaikat Allah, Kitab Allah, Nabi Allah, hari kiamat serta taqdir Allah. Pernyataan sabar separuh dari iman sama saja pernyataan bahwa sabar separuh dari agama. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya sabar dalam agama Islam.

Lalu bagaimana kejelasan tentang sabar adalah separuh iman? Bukankah selain sabar masih ada akhlak-akhlak lain yang tak kalah penting. Seperti jujur, adil dan qanaah? Serta perintah-perintah Allah yang lain seperti puasa, solat dan zakat? Imam al-Ghazali mengulas hadis ini dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin, pada Bab Sabar dan Syukur. Ulasan beliau terangkum pada beberapa poin di bawah ini:

Pertama, sabar separuh dari iman dapat dimaknai bahwa, ajaran Islam mencakup hal-hal yang bermanfaat serta merugikan di dunia dan akhirat. Hal yang bermanfaat dihadapi dengan syukur, dan yang merugikan dihadapi dengan sabar. Misalnya, memperoleh rizki perlu disikapi dengan syukur, bila tidak akan terperosok pada sikap sombong yang dilarang oleh agama. Ditimpa kecelakaan perlu disikapi dengan sabar, agar tidak terperosok pada sikap putus asa pada rahmat Allah yang dilarang agama.

Kedua, ibadah seperti zakat dan puasa merupakan perwujudan sifat sabar juga. Zakat adalah wujud sabar atau menahan diri dari sifat dasar manusia yang tak suka memberikan apa yang ia miliki secara cuma-cuma. Sedang puasa adalah wujud sabar dalam menahan diri dari makan, minum dan berhubungan suami-istri.

Ketiga, pada dasarnya banyak akhlak-akhlak Islami yang berangkat dari sikap dasar berupa dasar. Sabar atas syahwat perut dan kemaluan disebut iffah (menjaga diri dari hal yang diharamkan). Sabar atas perasaan dendam dan rasa marah disebut hilmu (bijaksana). Sabar dalam memperoleh kebutuhan hidup yang sedikit disebut qanaah (menerima apa adanya). Dan sabar atas menjalani hidup hanya melalui kebutuhan-kebutuhan utama manusia disebut zuhud.

Keempat, sabar pada dasarnya adalah menghadapi dengan baik hal-hal yang tak disukai oleh hawa nafsu. Umumnya hal-hal yang dianggap baik adalah hal yang berlawanan dengan sifat manusia yang cenderung ingin bermalas-malasan serta hanya melakukan sesuatu yang disenangi. Maka sabar tidaklah hanya dibutuhkan saat tertimpa musibah. Tapi juga saat melakukan hal-hal baik atau menghindari hal-hal buruk, yang diri manusia cenderung menginginkan sebaliknya.

Sabar harus dipraktikkan tidak hanya tatkala tertimpa musibah. Tapi, juga saat semisal belajar, bekerja atau menolong orang lain. Sabar saat belajar adalah tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Sabar saat bekerja adalah ulet dan telaten, tidak tergesa-gesa ingin segera kaya sehingga terdorong ingin mencuri. Sabar saat menolong adalah ikhlas dalam membantu orang lain serta tak mengharapkan imbalan, juga tak kecewa bila tak menerima balasan meski hanya ucapan terima kasih.

Kelima, sabar merupakan pertarungan dalam diri manusia antara melaksanakan perintah agama serta menuruti keinginan sesaat manusia. Dalam Bahasa Imam Al-Ghazali, antara ba’isuddin (dorongan agama) dan ba’isulhawa (dorongan nafsu). Manusia terbagi pada yang dikusai secara menyeluruh oleh salah satunya, atau dalam satu waktu oleh salah satunya dan di waktu lain oleh yang lainnya. Untuk memenangkan pertarungan ini perlu ada strategi menguatkan dorongan agama serta melemahkan dorongan nafsu. Bersabar atas prilaku zina dapat terlaksana dengan menguatkan dorongan agama dengan cara menikah, dan melemahkan dorongan nafsu dengan menjaga mata.