Prabowo-Gibran Dibilang Seperti Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib, Buat Apa?

Prabowo-Gibran Dibilang Seperti Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib, Buat Apa?

Wajah politik kita yang meminjam profil para tokoh-tokoh agama, tidak hanya mengubah semakin saleh, namun juga menempatkan kita pada posisi rentan pada klaim-klaim kebenaran.

Prabowo-Gibran Dibilang Seperti Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib, Buat Apa?

Di dunia sepak bola, nama Messi (Lionel Messi) adalah lagenda. Sosok pesepakbola yang masih bermain hingga hari ini sering dikaitkan dengan beberapa atlit sepak bola lainnya, yang dianggap memiliki bakat dan akan menggantikan Messi di masa depan ini biasanya mendapatkan julukan “The Next Messi.”

Entah standar apa yang dimiliki seseorang untuk bisa dijuluki “The Next Messi” tersebut. Rasanya sulit menemukan tokoh atau organisasi yang otoritatif untuk benar-benar bisa merumuskan atau menyematkan julukan tersebut kepada seorang pesepakbola. Menariknya, kita juga sering menjumpai pesepakbola gagal memenuhi takdirnya sebagai seorang “dewa” di sepak bola seperti sosok Messi.

Apa yang kita bisa pelajari dari kisah julukan Messi masa depan di atas? Di antaranya, pencitraan yang didapatkan oleh seorang pesepakbola yang mendapatkan julukan tersebut, maka “biasanya” pencitraan yang menjadi komoditas utama untuk menentukan nilai transfer sang pemain tersebut. Walaupun, tidak ada jaminan kualitasnya akan sama dengan julukannya.

Di tengah kontestasi politik, pencitraan lumrah. Bahkan, melalui kampanye dan manajemen persepsi, realitas sosok seorang kandidat berusaha untuk “digelembungkan” sebagai citra unggul, yang dipertarungkan untuk merebut “perhatian” pemilih dan berharap terpilih dari hasil penggunaan hak pilih mereka.

Politisi memiliki beragam strategi, baik disengaja atau tidak, dalam mencitrakan diri mereka, di antaranya menggunakan personifikasi tokoh penting dalam sejarah, termasuk dalam agama. sosok penting dalam linimasa sejarah kita seringkali “sengaja” dipinjam oleh politisi untuk menarik simpati dan atensi publik.

***

Khofifah Indar Parawansa (Khofifah), gubernur aktif prov. Jawa Timur, menyebut bahwa pasangan calon (Paslon) Prabowo-Gibran sama dengan sahabat Nabi Muhammad Saw. Sosok Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib adalah personifikasi kedua calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut dua tersebut. Pernyataan keluar waktu beliau diwawancara awak media pasca Debat Cawapres kemarin.

Imaji apa yang ingin dibangun dari pernyataan ibu Khofifah? Pertanyaan ini menggelantung di benak saya kala melihat konten yang merekam pernyataan tersebut. Mungkin, kita bisa saja menebak usaha ibu Khofifah jelas mengguatkan representasi kesalehan pada sosok Prabowo-Gibran. Walaupun asumsi ini belum bisa dibuktikan, kita sebenarnya masih bisa menangkap apa yang terselip dalam usaha ibu Khofifah tersebut.

Ilustrasi ibu Khofifah pada sosok sahabat Abu Bakar kepada Prabowo sebagai sosok yang mewakili generasi tua, dan Ali bin Abu Thalib kepada Gibran sebagai representasi anak muda tidak hanyak untuk meraup dukungan dari muslim. Namun, di saat bersamaan, kesalehan sahabat Nabi Muhammad dipakai untuk mencitrakan kedua sosok tersebut dengan beragam atribusi positif, seperti jujur dan anak muda yang terlibat dalam politik.

Apa yang dilakukan oleh ibu Khofifah, menurut saya, adalah hal yang berlebihan. Selain ketidakselarasan antara Probowo-Gibran dengan Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib, sahabat Nabi Muhammad, memori masyarakat kita atas kedua sosok tersebut juga masih terbilang sulit menerima pencitraan yang coba dikonstruksi oleh ibu Khofifah. Kenapa?

Pertama, sosok dan pribadi kedua sahabat Nabi tersebut sulit disamai oleh Prabowo-Gibran. Kedua, profil Prabowo-Gibran yang memiliki sejarah cukup kompleks dan rumit, jika tidak ingin menyebutnya “bermasalah,” tentu tidak bijak untuk mempersonifikasikannya. Ketiga, pencitraan yang bermasalah tentu akan memberikan “beban” kepada paslon tersebut untuk mencapai titik equilbrium (keseimbangan), antara citra yang dibangun dengan realitas yang ada.

Selain itu, ibu Khofifah “memaksa” menghadirkan narasi dan memori agama dengan “meminjam” personifikasi sosok sahabat Nabi Muhammad yang mulia. Apa yang dilakukan oleh ibu Khofifah tersebut cukup berbahaya. Sebab, kehadiran narasi agama bisa jadi membawa perdebatan teologis yang panjang dan melelahkan, dan tak jarang berakhir pada stigma negatif pada mereka yang tidak sepakat.

Ibu Khofifah seharusnya bisa belajar dari citra “Gemoy” yang sepertinya runtuh dengan beragam sikap dan perkataan Prabowo sendiri, yang gagal memenuhi ekspektasi atau titik equilbrium antara citra dan realitas. Selain itu, ibu Khofifah seharusnya bisa lebih bijak lagi dan menimbang sebelum melempar pencitraan tersebut ke publik

***

Herry Priyono di Rubrik Bentara Kompas 5 April 2002 memunculkan istilah baru, yakni Leviathan yang menghibur. Di ranah filsafat, istilah Leviathan digunakan oleh Thomas Hobbes merujuk pada fenomena di mana negara menjadi ekspresi terluhur dari kekuatan negara yang demikian besar. Padahal, Leviathan dalam Injil adalah sesosok monster laut raksasa.

Hobbes dan Priyono memakai gambaran Leviathan yang menghibur hari ini, untuk mengilustrasikan bagaimana perubahan ekspansi kapitalisme global tidak lagi terasa “mengisap” atau tidak “menjajah” karena ia hadir tidak dengan wajah yang keras, namun dengan wajah yang menghibur, membuat kita tertawa, kagum, mengidolakan, dan berbagai pencitraan positif lainnya.

“Gemoy” hingga “Abu Bakar-Ali” yang disematkan kepada Probowo-Gibran sepertinya menggunakan strategi yang sama dengan fenomena Leviathan di atas. Penggambaran sosok Prabowo yang selama ini keras dan cenderung tempramen diubah menjadi sosok lucu dan menggemaskan.

Agamanya pun tak ketinggalan. Ibu Khofifah menghadirkan penggambaran Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib untuk Prabowo-Gibran. Sebelumnya, sosok Anies Baswedan juga pernah dipersonifikasikan sebagai Imam Mahdi. Sebaiknya, kita jangan lagi memakai narasi agama untuk pencitraan dalam kontestasi politik.

Wajah politik kita yang meminjam profil para tokoh-tokoh agama, tidak hanya mengubah semakin saleh, namun juga menempatkan kita pada posisi rentan pada klaim-klaim kebenaran. Bisa kita bayangkan, bagaimana lanskap politik kita, dengan bantuan media, malah berubah menjadi kisah-kisah hagiografis menghadirkan sosok politisi saleh, sebagai jaminan kemajuan dan kejujuran dalam menjalankan amanah.

Padahal, kondisi tersebut cenderung“memaksa” kita untuk patuh total dan membela kalau ada yang kritik. Karna agama jelas menuntut kepatuhan dan ketaatan. Di titik inilah, personifikasi berbalut narasi agama malah bisa membuat kita tergelincir untuk melakukan hal-hal negatif, khususnya di media sosial. Ditambah, warganet kita dikenal cukup berisik dan aksi cancel culture yang tak kenal ampun.

Agama di ranah politik (seharusnya) hadir dalam wajah yang lebih positif, seperti tabayyun atas informasi yang kita terima atau pembelaan atas hak warga yang tersingkir akibat pembangunan. Sehingga, kita tidak akan kehilangan nalar kritis untuk tetap menjaga politik kita tetap menjadi medium menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Agama jangan sampai menjadi “mesin produksi” Leviathan yang menyenangkan sebagaimana kisah Priyono dan Hobbes.

Fatahallahu alaina futuh al-arifin