Pola Hatespin yang Menimpa Gus Muwafiq

Pola Hatespin yang Menimpa Gus Muwafiq

Hatespin (pelintiran kebencian) tampaknya mulai digunakan untuk Gus Muwafiq

Gus Muwafiq dirisak karena ceramahnya tentang masa kecil Nabi Muhammad yang beliau ceritakan sebagai sosok yang lahir dengan biasa saja dan rembes (bahasa jawa: dekil, compang-camping, miskin, kotor) untuk itu ia ikut kakeknya Abdul Muthalib. Sontak, ceramah itu dianggap menistakan agama dan kabarnya FPI melaporkannya menggunakan pasal karet Penodaan Agama.

Di media sosial kita dengan mudah melihat pelbagai video—tentu saja potongan yang tampaknya disengaja, meme, makian dan serangan di media sosial pun meruyak dan ditujukan untuk menyebar kebencian kepada sosok Gus Muwafiq. Narasi yang berkembang pun sudah kian liar, dari mulai merendahkan Nabi hingga persoalan identitas Gus Muwafiq sebagai sosok yang merendahkan Islam. Kita layak bertanya, apakah ini terkait politik identitas?

Kita bisa mendebat, tapi politisasi identitas saat ini menjadi  dinamika yang terus diperbincangkan, apalagi jika dikaitkan dengan politik. Kontestasi pemilu 2014 yang brutal dan seolah terus menanjak pada 2019 lalu antara kubu Jokowi-Prabowi dianggap menjadi salah satu faktor terbesar terbentuknya politisasi identitas yang kian mengental. Belakangan, kita mengenal istilah Kampret-Cebong hingga framing peyoratif seperti buzzerRP-Kadrun dan tentu saja membuat masyarakat kian terbelah dengan pelbagai isu.

Read More

Dunia global sedang mengalami hal serupa. Di Eropa kita melihat kelompok sayap kanan yang konservatif ini mulai berani mengambil ruang-ruang publik dan menggalang kekuatan melalui pelbagai platform underground di internet dan tentu saja di media sosial. Begitu halnya di Amerika dengan kian menguatnya kelompok ultra konservatif yang kerap memakai sentimen identitas agama dan kesukuan. Kekuatan ini bahkan dianggap menyusup

Politisasi identitas—saya lebih senang menyebutnya begitu—ini fenomena global dan tidak hanya dominasi satu negara belaka apalagi ketika dunia sudah kian menciut secara teknologi, meminjam istilah sejarawan dan novelis, Tariq Ali dalam a letter to young moslem, kelak dan ini sekarang terjadi kemungkinan akan terjadinya clash of fundamentalism atau pertarungan antar masyarakat berbasis sentimen agama maupun suku yang cenderung puritan. Dan, lebih dari itu, puritanisme ini juga dianggap menyumbang penebalan identitas kelompok dan menganggap yang di luar dirinya lebih buruk.

Dalam laporan The Global Risk 2019 yang dikeluarkan World Economic Forum baru-baru ini juga menegaskan fakta demikian. Politik identitas ini merupakan penyumbang faktor risiko bagi negara-negara di dunia nomor dua kedua setelah perubahan iklim. Jika tidak ditangani serius, maka krisis hanyalah persoalan waktu belaka.

Politik identitas ini juga seakan memakai pola nyaris sama: sentimen kebencian yang bergumul dengan RAS, agama dan teknologi serta dibalut dengan politik elektoral. Fakta belakangan ini memang cukup menarik, para elit bisa dengan gampang gampang berjumpa dan mungkin berbagi kekuasaan, tapi politik identitas ternyata tidak surut juga.

Ahok = Meiliana = Gus Muwafiq à Hatespin?

Ketika semua orang tampaknya mulai membicarakan hatespeech, banyak yang lupa untuk mulai mendiskusikan hatespin atau pemelintiran kebencian. Padahal, keduanya, terkadang saling bertemu dan merupakan kelanjutan dari sebuah peristiwa yang terkadang tidak kita pikirkan efeknya: mulai dari teror, ancaman hingga di level tertentu terjadi proses dehumanisasi.

Kasus Meiliana di Tanjung Balai beberapa waktu lalu adalah salah satu contoh paling konkret bagaimana dinamika hatespeech dan hatespin saling bertemu, serta membuat kita hanya bisa mengelus dada. Meiliana yang hanya ingin berkomentar terhadap speaker masjid dibuat isu sedemikian rupa hingga timbul hoaks di masyarakat. Hoaks itu lalu kian membesar hingga timbul gelombang ketidaksukaan dan kebencian yang dibuat verbal dan tentu saja merasuki masyarakat (hatespeech).

Efeknya, terjadi eskalasi agitatif yang besar-besaran dan isu seolah berubah menjadi isu relasi antar agama dan suku (hatespin). Gelombang ini juga mengisi ruang-ruang digital yang ada di masyarakta tersebut melalui pelbagai platform. Hatespin pun bermula dari pola itu dan secara tidak sadar menjadi api yang membakar masyarakat dan menyumbang sentimen ketidaksukaan terhadap golongan yang dianggap berbeda dengan mayoritas.

Ujungnya adalah sejarah yang kita lihat hari ini. Meiliana pun ditahan atas dasar penodaan agama dan masyarakat sipil pun terbelah: pro dan kontra. Padahal, pangkal dari semua itu hanyalah ketidaktahuan masayarakat memahami pola terbentuknya hoaks yang berubah jadi hatespeech hingga munculnya gelombang hatespin di tengah masyarakat.

Hoaks, hatespeech dan hatespin ini seolah lingkaran yang tiada habisnya. Dan, tentu saja, bisa menimpa siapa saja. Belum lagi ditambah pelbagai bentuk undang-undang seperti UU ITE yang dianggap pasal karet dan memudahkan orang untuk melakukan apa saja hanya karena ketidaksukaan, entah itu karena sesuatu yang dianggap ujaran kebencian hingga pencemaran nama baik.

Di kasus Gus Muwafiq, pola ini pun  mewujud ketika seolah-olah satu kesalahan—kalau boleh dibilang begitu—dan ia telah meminta maaf secara terbuka terkait apa yang telah ia utarakan.

“Rembes itu dalam Bahasa Jawa artinya punya umbel, tidak ada lain. Bahasa saya rembes itu umbelan ini terkait juga dengan pernyataan biasanya apakah anak yang ikut dengan kakeknya ini bersih karena kakek biasanya saking cintanya sama anak, sama cucu sampe cucunya kadang apa-apa juga boleh, hal itu saja yang sebenarnya, ” kata Gus Muwafiq.

Gus Muwafiq juga menyangkal bahwa ia ingin menghina Rasulullah. Bagaimana mungkin ia menghina Nabi jika setiap hari ia ke mana-mana bicara tentang cinta Rasul, sholawatan dan berdakwah?

“Sekarang alhamdulillah saya diingatkan terima kasih dan demi Allah tidak ada sedikit pun saya menghina Rasulullah, saya dari kecil dididik untuk menghargai Rasulullah, ini bukan masalah keyakinan,” tutup Gus Muwafiq.

Pola yang terjadi dalam hatespin (pelintiran kebencian) di Gus Muwafiq ini salah satu cara yang kerap digunakan untuk delegitimasi dan membenci seseorang,  bisa jadi pola ini akan membesar. Pertanyaannya, apakah kita akan membiarkan pola ini ‘penista agama’ terhadap orang yang tiap hari bicara cinta terhadap Rasulullah?