Pluralisme yang Berjalan Alamiah dari Desa Mbawa, Donggo Bima

Pluralisme yang Berjalan Alamiah dari Desa Mbawa, Donggo Bima

Pluralisme yang Berjalan Alamiah dari Desa Mbawa, Donggo Bima

Ketika Tuhan menciptakan sesuatu dengan berbeda-beda, niscaya perbedaan itu telah menjadi fitrah kehidupan. Perbedaan memang seringkali sulit untuk diterima, apalagi menyangkut keyakinan beragama. Tak sedikit konflik terjadi karena adanya perbedaan keyakinan. Namun, bukankah harusnya kita sebagai umat manusia untuk tetap bersama dengan segala perbedaan yang ada? Yang perlu dilakukan dalam kehidupan ini adalah mencari titik persamaan diantara segala perbedaan yang ada.

Kecuali kita menginginkan kehancuran dengan selalu mengungkit perbedaan dan sikap eksklusif, maka yang ada hanya berujung intimidasi dan kehancuran semata.

Kehidupan yang harmonis memang sangat diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat. Bahkan di beberapa daerah menjadi filosofi dalam kehidupan sebagaimana yang terjadi di desa Mbawa Kecamatan Donggo di Kabupaten Bima. Terdapat filosofi Mori Sama yang memiliki arti hidup bersama, ini terlihat jika ada Rawi Rasa (acara desa) yang dimulai dari diadakannya Mbolo Weki (rapat bersama), dimana seluruh masyarakat desa Mbawa yang terdiri dari tiga agama besar yaitu Islam, Katolik, Protestan dan satu kepercayaan lokal yaitu Parafu.

Sebagai contoh, masyarakat desa Mbawa mengadakan doa bersama saat musim tanam terjadi, ini disebut sebagai ritual Raju dimana seluruh masyarakat berkumpul untuk melaksanakan ritual dengan memanjatkan doa menurut keyakinan masing-masing agama. Ritual ini dilakukan tanpa ada persinggungan dengan agama lain, hal ini diikat oleh filosofi mori sama tadi (baca: Praktik Budaya Raju dalam Pluralitas Dou Mbawa di Bima, Nusa Tenggara Barat, 2016).

Ditengah kabar tidak mengenakkan seputar kehidupan beragama yang menguat di beberapa tahun terakhir, kehidupan sosial masyarakat Mbawa dengan segala perbedaan keyakinannya menebarkan kabar menyejukkan. Mereka diikat oleh filosofi hidup bersama yang telah berlangsung selama puluhan tahun tanpa terjadi perpecahan sekalipun di antara umat beragama.

credit photo: https://fahrurizki19.wordpress.com/

Harmoni antar umat beragama ini tidak hanya saat ritual musim tanam saja, hari-hari besar agama masing-masing pun makin meriah dengan tradisi masyarakat setempat yang saling memberi apresiasi dengan banyak kegiatan. Saling mengunjungi rumah warga, berjabat tangan dengan erat, sampai membantu persiapan acara seperti Hari Raya Idul Fitri ataupun saat Hari Natal berlangsung secara alamiah. Jika mengunjungi daerah Bima, tentu wajib lah pembaca sekalian mengunjungi desa Mbawa ini karena nuansa keharmonisan masyarakat sangat tampak dan alami. Kita diperlihatkan sebuah contoh kehidupan yang harmonis diantara sekian perbedaan yang dimiliki masing-masing agama.

Jauh sebelum itu, masa kesultanan juga memberi contoh menghargai segala perbedaan yang dimiliki oleh masyarakatnya. Antara lain tampak dalam kebijakan Sultan yang menarik pajak sama rata kepada siapapun tanpa memandang agama serta memberikan izin pendirian rumah ibadah agama lain (baca: Bo Sangaji Kai). Membuktikan pluralisme bukan wacana orang modern atau akademis saja, melainkan telah ada sejak zaman dahulu. Kesemuanya berjalan alamiah, bukan terbentuk secara instan. Ada dialog antar agama, budaya dan masyarakat serta hal itu semua diikat dalam filosofi hidup bersama.

Kunci lain yang dimiliki oleh masyarakat desa Mbawa ini adalah saling terbuka antar satu dengan yang lainnya untuk membuka hal yang lebih intim yaitu saling menghargai dan menghormati satu dengan yang lainnya.

Bahkan dalam satu tulisan di rubrik opini Geotimes oleh Mawardin Sidik, berpendapat bahwa Mbawa merupakan Desa Wisata Pluralisme Agama, dilihat dari judulnya saja yaitu “Merasakan Wisata Pluralisme Di Desa Mbawa-Donggo, Bima”, merupakan hasil dari pengalaman ikut merasakan keharmonisan hidup masyarakan Mbawa. Tidak salah jika ada yang menyebut bahwa Mbawa adalah contoh desa Pluralisme Agama yang memang seharusnya terus disuarakan agar menjadi contoh bagi daerah lain.

Keharmonisan ini tampak dalam setiap gerak-gerik masyarakat Mbawa, saling memberi senyum saat bertemu, saling sapa serta meluangkan waktu beberapa menit untuk saling berbincang satu sama lain. Dalam pendirian atau kegiatan renovasi rumah ibadah juga tampak bahwa penduduk saling gotong royong juga tampak kehangatan itu diacara besar atau kecil seperti pernikahan, sunatan, syukuran panen dan kenduri.

Di tengah ancaman sentimen kebencian atas penganut agama lain dan sengkarut intoleransi agama di Indonesia, desa Mbawa ini layak dijadikan rujukan serta contoh tidak langsung bagi mereka yang tidak menghargai perbedaan, tidak menghargai satu sama lain dan bahkan cenderung mengintimidasi. Kiranya perlu bagi meraka yang sulit menerima perbedaan – karena kurang piknik – untuk diajak piknik ke desa Mbawa ini. Saya siap mengantar menjadi tour guide nya, sekalian saya pulang kampung, menjauh dari kota untuk isolasi diri dari Covid-19 dengan sukarela.

Baca juga: Jaringan Ulama dan Islamisasi di Indonesia Timur