Perusakan Mushola di Minahasa dan Otokritik Kepada Umat Islam

Perusakan Mushola di Minahasa dan Otokritik Kepada Umat Islam

Ini otokrik penting ketika kejiadian Mushola di Agape, Minahasa.

Perusakan Mushola di Minahasa dan Otokritik Kepada Umat Islam
Masjid atau musholla adalah rumah umat Islam (Andir Erik/ISLAMIDOTCO)

Kejadian sejumlah orang merusak ruangan yang disebut sebagai musala di Perumahan Griya Agape Desa Tumaluntung, Kauditan, Minahasa Utara, Sulawesi Utara (Sulut) kemarin adalah sebuah cermin buruk bagi kita semua. Bukan mushola seperti ramai diberitakan, namun balai pertemuan umat Muslim di perumahan Griya Agape yang dijadikan tempat ibadah. Bentrok terjadi karena ada perdebatan soal tidak adanya surat izin banguan tersebut untuk dijadikan sebagai tempat ibadah, dan yang paling penting adalah, kejadian ini sudah ditangani kepolisian, sudah kondusif, rapat antara Forkopimda Minahasa Utara dan Sulut pun sudah digelar untuk menemukan kesepakatan-kesepakatan.

Hal ini menyadarkan kita semua, bahwa toleransi adalah yang bisa menjawab berbagai permasalahan sejenis di atas, berdasar riset Tirto.id, selama lima tahun belakangan ini, ada 32 gereja yang ditutup karena provokasi dan izin. Soal provokasi dan izin tempat ibadah memang menjadi masalah besar bagi toleransi di Indonesia.

Kita harus sadar benar bahwa mayoritas di suatu tempat, tentu saja akan menjadi minoritas di tempat lain dan ini yang harus diingat. Jika kemudian mayoritas di suatu wilayah bertindak Intoleran, maka di wilayah lain, yang menjadi mayoritas bisa jadi akan bertindak sedemikian juga. Ketika Islam menjadi mayoritas di Pulau jawa misalnya, akan menjadi minoritas di Indonesia timur. Lalu, ketikakemudian umat muslim di Jawa bertindak intoleran, maka tidak akan menutup kemungkinan umat kristiani di Indonesia timur akan melakukan hal yang serupa.

Kita pun kerap bertanya, sebagai ulama, kenapa Gus Dur memerintahkan Banser untuk ikut menjaga Gereja dalam tiap perayaan Natal? Salah satu alasan yang mendasarinya adalah, menjaga saudara kita umat muslim di wilayah yang menjadi minoritas. Jika kemudian toleransi itu dirajut, muslim mayoritas di Jawa misalnyabisa jadi pengayom minoritas, maka hukum alam akan berlaku sebaliknya, Muslim dimana menjadi minoritas akan mendapat perlakuan yang sama.

Egoisme beragama dan intoleransi akan menular. Ketika saudara saya di sana disakiti, karena jadi minoritas, maka kami di sini akan berlaku sama sebab di tempat kami jadi mayoritas. Narasi seperti ini bisa sangat  sangat mengkhawatirkan terjadi di tengah keberagaman iman di Indonesia.

Ini menjadi otokritik pada kita semua, umat muslim khususnya, terlebih khusus pada kelompok-kelompok muslim konservatif yang sering melakukan tindakan-tindakan provokasi kepada saudara kita yang berlainan agama.  Pemerintah harus bertindak tegas, atas nama hukum, bukan sungkan pada mayoritas minoritas atas semua provokasi dan perusakan atas nama agama.  Harapan kita kepada penegak hukum dan para pemuka agama.

Kita semua masih percaya bahwa pemuka agama dari semua agama akan sepakat pada semangat-semangat toleransi yang menjadi payung teduh bagi kebhinekaan bangsa ini. Namun yang sangat disayangkan, ada tokoh agama, dan kelompok-kelompok kecil muslim yang selalu membuat narasi provokasi, egois dalam beragama, ini sangat menyedihkan. Kita ambil contoh kecil, cuitan dari Tengku Zulkarnain, Wasekjen MUI yang cuitan di akun Twitternya sangat provokatif,

“ Haru melihat kaum Muslimin berduyun datang ke lokasi Musholla al Hidayah yg dirusak 50an Org di Minahasa Utara.

“segera kumpulkan dana dan bangun masjid indah di lokasi itu”

Mari kita lihat siapa yg berani merusak lagi. Tuan Syafii Maarif, mana kata “biadab” kenapa tdk keluar?”.

Beginikah tanggapan dari yang dianggap pemuka agama? bukankah ulama ialah orang berilmu yang teduh tutur katanya? kenapa menjadi terbalik? menjadi corong provokasi yang bisa memicu perpecahan antar umat beragama di Indonesia?

Siapapun kita, mayoritas atau minoritas di wilayah kita, jika ada aksi-aksi intoleransi beragama, jangan diam. Mari suarakan, beri contoh toleransi yang indah. Tugas kita menjaga  tenun indah ini jangan sampai robek. Khusus kita sebagai umat muslim, kita masih percaya bahwa kita adalah muslim yang moderat, muslim yang toleran.

Jangan biarkan kelompok-kelompok Islam intoleran itu membajak dan memonopoli agama hanya untuk kepentingannya sendiri yang sangat berbahaya bagi kerukunan dan kedamaian bangsa ini.