Penyalahgunaan ISIS terhadap Hadis Imam Mahdi dan Keberkahan Syam

Penyalahgunaan ISIS terhadap Hadis Imam Mahdi dan Keberkahan Syam

Penggunaan hadis-hadis akhir zaman seringkali disalahgunakan oleh kelompok kekerasan, di antaranya mengenai kemunculan Imam Mahdi dan keberkahan Syam yang digunakan oleh Islamic State of Iraq dan Suriah (ISIS).

Penyalahgunaan ISIS terhadap Hadis Imam Mahdi dan Keberkahan Syam

Dalam catatan sejarah, penggunaan hadis-hadis akhir zaman seringkali disalahgunakan oleh kelompok kekerasan, di antaranya mengenai kemunculan Imam Mahdi dan keberkahan Syam yang digunakan oleh Islamic State of Iraq dan Suriah (ISIS). Menurut Doktor Muhammad Ahmad Ismail al-Muqaddam dalam al-Mahdi wa Fiqh Asyrath al-Sa‘ah, Muhammad bin Abdullah al-Qahthani pada tahun 1400 Hijriah atau sekitar 1979/1980 Masehi melakukan pemberontakan atas pemerintah Arab Saudi, dan berupaya mensabotase Tanah Suci Mekah dengan dilengkapi persenjataan lengkap. Saat waktu Subuh tiba, imam shalat di Masjidil Haram menuju masjid, salah satu pengikut Muhammad bin Abdullah al-Qahthani itu berteriak, “Allahu Akbar, Imam Mahdi telah datang.” Hal ini mereka dasarkan atas hadis-hadis Nabi dan klaim mimpi di kalangan mereka. Muhammad bin Abdullah al-Qahthani ini merupakan ipar dari Juhaiman al-Utaibi, tokoh yang memobilisasi sabotase Masjidil Haram.

Hal serupa pun terjadi 5 tahun belakangan di Irak dan Suriah. Kelompok yang dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi ini mengklaim sebagai pengikut Imam Mahdi yang seringkali membawa bendera atau panji berwarna hitam. Selain itu, kelompok ini juga memanfaatkan hadis-hadis keberkahan Syam untuk memobilisasi umat Islam dari segala penjuru dunia untuk bergabung dengan mereka. Jika mereka benar para pengikut Imam Mahdi, seharusnya mereka mendapatkan kemenangan dan mengalahkan orang-orang yang mereka anggap musuh Islam. Saat ini faktanya apa? ISIS bubar, dan tidak ada kabarnya lagi. Bahkan belakangan kabar dari para deportan yang ikut bergabung dengan ISIS, mereka mengalami kekerasan, pencabulan, dan penyiksaan. Padahal dalam hadis-hadis yang shahih, Imam Mahdi dan para pengikutnya itu mereka yang menebarkan kesetaraan dan keadilan.

Syekh Shalahuddin bin Ahmad al-Idlibi dalam Ahdits Fadhail al-Syam; Dirasah Naqdiyyah ‘Hadis-hadis Keutamaan Syam; Studi Kritis’ menyebutkan bahwa hadis mengenai kemunculan panji hitam itu dhaif dan tidak bisa dijadikan landasan. Doktor Abdul ‘Alim Abdul Azhim dalam al-Mausu‘ah fi Ahadits al-Mahdi al-Dha‘ifah wa al-Maudhu‘ah ‘Ensiklopedia hadis-hadis dhaif dan palsu seputar Imam Mahdi menyatakan bahwa hadis-hadis mengenai panji hitam itu dhaif. Selain hadis-hadis mengenai panji hitam yang dijadikan landasan oleh ISIS ini hanya bersifat informasi, bukan bentuk kewajiban syariat mendukung atau membentuk pasukan panji hitam, para ahli hadis pun sudah memastikan bahwa hadis-hadis tersebut tidak layak untuk dijadikan acuan.

Terkait hadis keberkahan Syam dan tempat umat Muslim berkumpul, ISIS kerap mengutip hadis yang mereka salah gunakan. Di antara hadis tersebut adalah hadis riwayat Abu Dzar berikut ini:

الشام أرض المحشر والمنشر

Artinya:

“Syam adalah bumi tempat berkumpul dan berpencar.” (HR. al-Bazzar)

Menurut Syekh Shalahuddin al-Idlibi, hadis ini diriwayatkan dalam tiga model periwayatan, yaitu marfu‘ (penisbatannya sampai pada Nabi), mauquf penisbatannya sampai hanya pada sahabat), dan juga mursal (penisbatannya hanya sampai pada tabiin). Dari semua model dan jalur periwayatan di atas, menurut Syekh al-Idlibi, tidak ditemukan satupun riwayat yang shahih. Dua model periwayatan terakhir, yaitu mauquf dan mursal, tidak bisa dikatakan sebagai hadis Nabi, karena bukan bersumber dari Nabi SAW. Dua model periwayatan terakhir disebut dengan atsar dan khabar.

Atas dasar paparan di atas, kami yakin bahwa hadis-hadis dhaif yang digunakan oleh ISIS mengenai pasukan panji hitam dan keberkahan Syam untuk memobilisasi massa di Suriah merupakan bentuk penyalahgunaan terhadap teks-teks syariat Islam, khususnya sabda-sabda Nabi. Oleh karena itu, umat Muslim perlu lebih teliti dan hati-hati bila ada kelompok yang mengatasnamakan Islam, namun justru tindakan-tindakan kekerasan yang ditampilkan oleh mereka, baik dari perkataan maupun tindakan.