Ini Pengertian Itikaf Menurut Empat Mazhab

Ini Pengertian Itikaf Menurut Empat Mazhab

Sepuluh terakhir pada bulan Ramadhan adalah hari-hari yang didalamnya penuh dengan keberkahan, karena di antara sepuluh malam tersebut ada malam yang lebih utama dari seribu bulan yaitu malam Lailatul Qodar. Sehingga pada sepuluh terakhir Ramadhan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah dan salah satunya adalah Itikaf.

Lalu apa pengertian Itikaf itu sendiri? Secara etimologi Itikaf bermakna berdiam diri, menetap dan menjalani secara terus menerus atas satu perbuatan baik. Atau pada umumnya dimaknai sebagai sebuah ritual berdiam diri di masjid selama sepulu terakhir bulan Ramadhan.

Adapun secara terminology atau secara istilah, para imam madzhab mulai dari Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, Imam Hanbali. Mempunyai pengertian sebagai berikut;

Read More

Pertama I’tikaf menurut Madzhab Hanafiyah, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Fathul Qodir juz 2 halaman 106. Pengertian I’tikaf adalah sebagai berikut;

هو اللبث في المسجد الذي تقام فيه الجماعة، مع الصوم، ونية الاعتكاف، فاللبث ركنه؛ لأنه ينبئ عنه، فكان وجوده به، والصوم في الاعتكاف المنذور والنية من شروطه.

Dari teks di atas, itikaf adalah berdiam diri di dalam masjid yang dipakai untuk shalat berjamaah dengan disertai puasa dan niat, oleh karena itu berdiam diri adalah rukun di dalam itikaf, tidak ada itikaf kecuali tanpa beberapa hal tersebut dan puasa dalam itikaf yang dinadzari dan niat adalah syarat-syaratnya itikaf.

Ini adalah pengertian Itikaf menurut Madzhab Hanafiyah, sedangkan menurut Madzhab Malikiyah sebagaimana dijelaskan dalam salah satu kitab rujukan Madzhab Maliki yaitu Syarh Kabir dalam juz 1 halaman 541. Pengertian Itikaf adalah sebagai berikut;

 هو لزوم مسلم مميز مسجداً مباحاً لكل الناس، بصوم، كافاً عن الجماع ومقدماته، يوماً وليلة فأكثر، للعبادة، بنية. فلا يصح من كافر، ولا من غير مميز، ولا في مسجد البيت المحجور عن الناس، ولا بغير صوم، أي صوم كان: فرض أو نفل، من رمضان أو غيره، ويبطل بالجماع ومقدماته ليلاً أو نهاراً، وأقله يوم وليلة ولا حد لأكثره، بقصد العبادة بنية، إذ هو عبادة، وكل عبادة تفتقر للنية.

Sebagaimana dijelaskan teks di atas, menurut Madzhab Maliki Itikaf adalah menetapnya seorang muslim yang telah tamyiz untuk menjalani ibadah dalam masjid yang diperkenankan untuk setiap orang dengan disertai puasa, kemudian mencegah diri dari senggama dan foreplaynya dalam waktu sehari semalam dan masa lebih banyak, dengan disertai niat.

Maka itikaf tidak sah dari orang non muslim, belum tamyiz, dalam masjid rumah yang bersifat pribadi, tanpa puasa baik puasa fardhu atau sunah, puasa ramadhan atau lainnya, dan batal akibat senggama serta ‘pemanasan’-nya. Dan paling minimal waktunya adalah sehari semalam dan tidak ada batasan untuk masa paling banyak, dengan tujuan beribadah. Dengan niat karena i’tikaf adalah ibadah dan setiap ibadah butuh terhadap niat.

Sedangkan menurut Madzhab Syafi’I, Itikaf sebagaimana dijelaskan dalam kitab Mughil Muhtaj juz 1 halaman 449;

هو اللبث في المسجد من شخص مخصوص بنية

“Yaitu berdiam diri dalam masjid yang dilakukan oleh seseorang dengan dibarengi niat.”

Adapun menurut Madzhab Hanbali, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Kasyaful Qina’ dalam juz 2  halaman 404;

هو لزوم المسجد لطاعة الله ، على صفة مخصوصة، من مسلم عاقل ولو مميزاً ، طاهر مما يوجب غسلاً، وأقله ساعة، فلا يصح من كافر ولو مرتداً، ولا من مجنون ولا طفل، لعدم النية، ولا من جنب ونحوه ولو متوضئاً، ولا يكفي العبور، وإنما أقله لحظة.

Dalam hal ini dijelaskan bahwa; Itikaf adalah menetap atau berdiam diri di masjid untuk taat kepada Allah swt dengan bentuk tertentu, yang dilakukan oleh seorang muslim yang berakal meski ia tamyiz, suci dari hal yang mewajibkan mandi dan paling sedikit masanya adalah sesaat (Sesaat dalam teks ini adalah terjemahan atau makna dari kata sa’ah. Di mana bahasa arab modern sa’ah berarti 60 menit atau jam, akan tetapi di sini dimaknai sesaat sesuai dengan pemaknaan ulama-ulama terdahulu atau sesuai maksud dalam kitab).

Maka tidak sah dilakukan oleh orang non muslim meski orang murtad, orang gila, belum tamyiz, karena tidak adanya niat dari mereka, tidak sah juga dilakukan oleh orang yang sedang junub meskipun ia berwudhu, tidak cukup hanya dengan melewati masjid dan masa paling pendeknya sekejap mata.

Dari pengertian di atas, bahwasanya Itikaf harus dilakukan di masjid atau sebuah ibadah yang dilakukan dengan cara berdiam diri di masjid, jadi ketika keluar dari masjid Itikaf tersebut batal dan harus niat Itikaf kembali. Walaupun dalam  hal ini ada perbedaan pendapat  apakah masjid tersebut harus masjid yang besar sering digunakan sholat 5 waktu, atau bisa sebatas musholla.

Wallahu A’lam.