Merayakan Maulid Nabi Bersama Bung Karno

Merayakan Maulid Nabi Bersama Bung Karno

Bentuk perayaan maulid nabi yang pernah dilakukan Bung Karno adalah dengan melakukan reaktualisasi, kontekstualisasi, dan reinterpretasi ajaran Rasulullah SAW.

Satu waktu, Nabi Muhammad tidak duduk di tempat biasa menerima tamu, melainkan bersandar pada sebatang pohon Kurma yang tidak jauh dari rumahnya. Hawa sedang panas. Terik Matahari pun begitu menyengat. Tidak ada kipas angin, apalagi AC untuk menyejukan ruangan. Pun, tidak ada air es untuk menyegarkan kerongkongan.

Lalu, datanglah tamu-tamu Nabi, baik orang-orang Madinah atau dari luar Madinah, maupun yang sudah atau yang akan masuk Islam. Mereka semua sederhana dan membawa sifat zamannya. Ada yang sudah sopan, ada yang belum. Ada yang datang membawa Unta, ada yang jalan kaki saja.

Mereka sowan kepada Nabi dengan membawa bejibun persoalan. Sebagian minta keterangan ihwal agama, sebagian yang lain minta petunjuk tentang berbagai masalah keseharian. Ada yang tanya soal perburuan, ada pula yang minta keadilan perihal pencurian kambing ternak.

Read More

Tapi satu hal yang pasti, tidak seorang pun menanyakan boleh tidaknya masuk bioskop, boleh tidaknya mendirikan Bank, atau boleh tidaknya seorang gadis menjadi dokter.

Senarai siluet yang jenaka namun genius itu saya adaptasi dari sentilan Ir. Soekarno dalam sebuah artikel berjudul Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara. Dalam pengakuan Bung Karno, artikel itu ia tulis menyambut Maulid Nabi untuk sebuah majalah saat itu, Panji Islam.

Terus terang, entah berapa kali saya membaca artikel yang terhimpun dalam buku Islam Sontoloyo itu. Bukan karena sulit dipahami, melainkan apa yang ditulis oleh Presiden pertama kita itu tidak hanya segar dan berkobar, tetapi sekaligus menuntut perenungan yang serius.

Mula-mula, Bung Karno membagi linimasa sang Nabi ke dalam dua bagian yang, saya duga, konsepsinya merujuk pada periode pewahyuan dalam disipllin ilmu ulumul quran: sebelum hijrah, dan selepas hijrah.

Periode Mekah, umpamnya, disebut oleh Bung Karno sebagai persediaan masyarakat, sedang Madinah merupakan pelaksanaan masyarakat itu. Di Mekah turun ayat-ayat iman, di Madinah ayat-ayat yang turun bicara tentang bagaimana mengamalkan iman. Di Mekah, pengikut Nabi dijanjikan kemenangan, dan di Madinah dibuktikan kemenangan orang beriman.

Di Mekah pula orang-orang yang dididik oleh Nabi dengan ayat-ayat serta sunah dan tauladannya menjadi orang-orang yang tahan uji, menjadi orang-orang yang gemilang iman serta akhlaknya laksana dinamit di masa berjuang.

Kelak, dari orang-orang itulah tercipta material pokok bagi Muhammad untuk menyusun masyarakat di Madinah sebagai titik pijak menyebarkan Islam ke seantero jagad. Karenanya sangatlah pantas jika Nabi Muhammad, demikian bacaan Bung Karno, disebut sebagai seorang pembangun masyarakat yang maha-hebat.

Bahkan, dengan sangat epik Bung Karno mengutip perkataan pujangga Eropa Timur, Thomas Carlyle:

Pasir di padang-padang pasir Arabia yang terik dan luas itu, yang beribu-ribu tahun diam dan sekan mati, sekonyong-konyong menjadilah ledakan mesiu yang kilatan ledakannya menyinari seluruh dunia”.

Kutipan itu kira-kira dimaksudkan untuk mengilustrasikan betapa kobaran “api Islam” terhujam betul dalam dada kaum Muhajirin, Anshar, serta umat Islam generasi awal lainnya. Dan, itu semua terjadi di tengah tebalnya kabut jahiliyah yang purbakala.

Sekarang, situasinya jelas berbeda dengan zaman Nabi. Peradaban terus bergerak, sementara ayat-ayat suci, demikian dengan sabda Nabi, diam adanya. Satu kesempatan, Sayyidina Ali—karamallahu wajhah—pernah menyitir jika teks pada dasarnya adalah mati, dan menjadi tugas manusia untuk menghidupkannya.

Di lain pihak, kegagapan umat Islam dalam mengunyah teks yang diproduksi sekiranya lima belas abad yang lalu, bagi Bung Karno, adalah sebuah problem serius.

Atau, kalau mengutip istilah Ahmad Wahib, andaisaja Nabi Muhammad datang lagi ke dunia sekarang, lalu menyaksikan bagian-bagian modern serta melihat pikiran-pikiran manusia yang ada, pastilah banyak di antara sabda-sabda beliau yang sekarang ini dipahami secara apa adanya akan dicabut dari peredaran.

“Api Islam”, inilah titik kritis Bung Karno menyikapi wacana keislaman kita yang skripturalis-artifisial. Dan, agar “kobaran” itu tetap memancar dalam perjalanan panjang kehidupan kita, ia haruslah tidak boleh padam.

Dengan begitu, tidak heran jika sejak awal Bung Karno selalu mengkritik mereka yang terjebak dalam nostalgia masa lalu dan tidak memiliki semangat inovatif. Bahkan, sebagai seorang tokoh penting bangsa ini, tanpa tedeng aling-aling ia melancarkan kritik tajam kepada para tokoh dan umat Muslim di masanya yang sulit diajak maju.

Pasalnya, Islam is progress, begitu kata Bung Karno. Sementara, progress mengandaikan adanya kemajuan atau pembaharuan yang tentu saja lebih tinggi derajatnya dari barang terdahulu.

Salah satu kritik Bung Karno, misalnya:

“….segala hal itu boleh, asal tidak nyata dilarang… Dalam politik Islam pun orang tidak boleh meng-copy saja barang-barang lama, tidak boleh mau mengulangi saja segala sistem-sistemnya zaman khilafah-khilafah yang besar”.

Dan di titik ini, saya kira, umat Islam Indonesia sangatlah beruntung. Pasalnya, dengan segala kearifan dan kebijaksanaannya, para founders bangsa ini memutuskan untuk mendirikan negara-bangsa dan bukan berbasis agama. Sebab dengannya, sunatullah berupa keragaman dan kemajukan menjadi terakomodasi, bukan hanya antar mazhab, tetapi juga agama, budaya, dan lain sebagainya.

Lebih jauh, umat Muslim, dengan demikian, sebetulnya patut bersyukur karena marwah Islam tidak menjadi pertaruhan manakala terjadi banyak aib nasional: kesenjangan, pembungkaman, korupsi, diskriminasi, monopoli, genosida, nepotisme, dan segudang skandal lainnya.

Akhirnya, seperti ditegaskan oleh Bung Karno, “mari kita camkan di dalam pikiran bilamana Indonesia kiwari bukanlah masyarakat onta, tetapi kapal udara”. Reaktualisasi, kontekstualisasi, dan reinterpretasi ajaran merupakan upaya yang memungkinkan kita lakukan, mengingat rentang waktu yang tidak pendek antara masa kini dengan zaman Nabi.

Kiranya, hanya dengan itulah kita dapat menangkap inti dari warta Nabi yang kelahirannya kita rayakan setiap tahun. Dan, hanya dengan begitulah kita dapat mengaku sebagai umat Muhammad secara elegan serta menghormatinya dengan sebenar-benarnya penghormatan.

Shollu ala Nabi!!!