Menghidupkan Walisongo di Masyarakat Urban

Menghidupkan Walisongo di Masyarakat Urban

Menghidupkan Walisongo di Masyarakat Urban

Nahdlatul Ulama (NU) selalu dikenal sebagai pewaris dan penerus ajaran dakwah Walisongo. Pewaris ini dalam artian metode dakwah yang dilakukan oleh Nahdlatul Ulama adalah mengadopsi bagaimana cara dakwah Walisongo yang ramah terhadap tradisi dan budaya masyarakat yang berkembang pada zaman itu.

Kini, ketika rentang jarak waktu yang sudah demikian jauh dengan zaman Walisongo, apakah NU masih menggunakan cara Walisongo dalam berdakwah?. Pertanyaan ini penting dan relevan untuk diajukan hari ini mengingat lanskap dunia yang sudah sangat berbeda dan laju perubahan yang luar biasa cepat.

Dalam beberapa kasus NU masih dianggap mampu dan berhasil melestarikan tradisi yang dibawa oleh Walisongo hingga kini. Misal, kita bisa lihat dan mendengar tembang Lil Ilir gubahan Sunan Kalijogo atau tembang Tombo Ati karya Sunan Bonang masih eksis sampai hari ini dan bahkan didaur ulang dengan aransemen yang lebih kekinian. Tradisi budaya lokal masyarakat yang bernuansa keagamaan diberbagai tempat di Indonesia juga masih lestari dan dipraktekkan oleh masyarakat kita.

Tapi apakah itu cukup dan lantas membuat kita berpuas diri?. Melestarikan tradisi yang dibawa Walisongo itu baik, bahkan sangat baik, Tapi menurut saya itu tidak cukup, kita perlu melihat dari sudut pandang lain.

Pertama, Walisongo dalam berdakwah tidak sekedar menggunakan kaca mata kuda, mereka dibekali dengan “data-data” pemetaan sosial ekonomi politik tempat mereka berdakwah. Kedua, Walisongo secara cerdas menggunakan strategi dakwah dengan melakukan pendekatan tradisi dan budaya yang sedang berkembang diwilayah tersebut.

Dengan demikian sudah seharusnya jika NU dianggap mewarisi tradisi dakwah Walisongo, yang diambil bukan sekadar melestarikan produk akhir tradisi tersebut, tapi yang lebih penting adalah NU patut meniru metode/manhaj dakwah Walisongo.

Hal ini menjadi sangat relevan bila dikaitkan dengan konteks hari ini ketika masyarakat Indonesia semakin banyak yang tinggal didaerah urban. Menurut data BPS, 60.0 % penduduk Indonesia sudah tinggal didaerah urban tahun 2025, bahkan menurut estimasi Bappenas tahun 2045 penduduk Indonesia yang tinggal di Urban mencapai 72.8%. Belum lagi kita lihat penetrasi digital kita sudah mencapai 85%. Disisi lain kita tahu bahwa tradisi yang berkembang di zaman Walisongo adalah tradisi masyarakat Rural.

Lalu bagaimana menggunakan metode dakwah Walisongo di perkotaan? Pertama, tentu kita harus memiliki  pemahaman yang memadai terkait peta kondisi sosial budaya masyarakat urban. Sebagai Gambaran, untuk memudahkan analisis, saya membagi masyarakat urban berdasarkan asal usul masyarakat urban tersebut. Mereka adalah:

  1. Keluarga “asli” Kota, mereka keluarga yang lahir dan besar di kota dan nenek moyangnya adalah sudah tinggal di perkotaan, boleh dikata mereka warga/suku asli kota. Misal, keluarga suku Betawi di Jakarta, Suku Sunda di Bandung, atau suku Melayu di Medan.
  2. Keluarga Pendatang, Mereka adalah warga pendatang yang sudah berkeluarga, mereka sudah berkeluarga dan memiliki anak. Sebagian besar mereka ber-migrasi dari desa ke kota sekitar tahun 80/90an atau awal tahun 2000an.
  3. Individu Pendatang, Individu yang baru bermigrasi untuk berbagai kepentingan baik untuk keperluan belajar/kuliah atau bekerja.

Bila dikaitkan dengan posisi NU maka ketiga segmen tersebut bisa dibagi menjadi dua bagian, yaitu mereka yang berlatar belakang tradisi NU dan mereka yang tidak berlatar belakang tradisi NU. Secara lebih lengkap ilustrasi tipologi masyarakat urban diatas bisa dilihat dalam grafik dibawah ini.

Tipologi Masyarakat Urban

Dengan memiliki gambaran tentang tipologi masyarakat urban ini, langkah untuk melakukan pendekatan ke masyarakat urban akan lebih terarah. Pendekatan terhadap masing-masing tipologi tentu akan sangat berbeda.

Bagi NU tantangan terbesar di perkotaan adalah bagaimana menjaga keluarga pendatang tetap memelihara tradisi ritual keagamaan NU terutama bagi anak-anaknya, karena di perkotaan lingkungan sekitar sering kali tidak terlalu ”bersahabat” dengan berbagai tradisi dan praktek keagamaan NU.

Langkah Kedua adalah penting untuk memahami karakteristik masyarakat urban agar program dan pendekatan terhadap masyarakat urban lebih tepat sasaran. secara umum karakteristik masyarakat uban bisa digambarkan sebagai berikut?

Karakteristik Masyarakat Urban

Bila kita membaca secara seksama karakteristik masyarakat urban diatas maka kita bisa melihat karakteristik masyarakat urban sangat berbeda dengan masyarakat rural. Perbedaan paling mencolok tentu saja pada aspek nilai-nilai, pola pikir, perilaku, dan gaya hidup.

Kembali pada pokok pembahasan diawal, untuk menerapkan pendekatan metode dakwah Walisongo untuk masyarakat Urban ada beberapa prinsip yang harus dilakukan. Pertama, Pendekatan dakwah berbasis gaya hidup masyarakat urban, baik terkait seni musik, film, atau olahraga, juga pendekatan ke komunitas-komunitas baik komunitas dilingkungan tempat tinggal, perkantoran maupun komunitas berbasis hobi.

Kedua, dakwah menggunakan media digital adalah sebuah keharusan terutama media sosial berbasis visual, seperti Youtube, Tiktok, dan Instagram. Konten dakwah ringan dan praktis sangat cocok untuk masyarakat urban. Ketiga, Kajian atau halaqah tematik berbasis problematika masyarakat urban seperti manajemen stres, mindfulness dalam Islam, atau mencari berkah ditengah kehidupan yang penuh dengan kesibukan.

Keempat, NU juga bisa terlibat dalam membantu problematika ekonomi masyarakat urban, memberikan pelatihan kewirausahaan, pelatihan bisnis UMKM, dan pelatihan kemampuan digital. KelimaLast but not least, berbagai layanan NU baik keagamaan, kesehatan, dan pendidikan harus semakin dekat dengan dimana masyarakat urban beraktifitas, layanan-layana tersebut harus semakin mudah dijangkau masyarakat urban.

Masyarakat urban memang sangat dinamis dan heterogen, sehingga dakwah NU harus lebih kreatif, fleksibel, tapi tetap berlandaskan nilai-nilai Islam yang penuh hikmah. Akhirnya upaya yang dilakukan oleh NU ini adalah ikhtiar untuk menghidupkan Walisongo di masyarakat urban.

Wallahu A’alam