SHARE

Tak terhitung sudah berapa banyak tempat salat yang saya kunjungi, mulai dari musholla sampai masjid agung. Hampir di setiap pinggir jalan kita menemukan bangunan dan pembangunan masjid, pantas kiranya Negara kita disebut Negara sejuta masjid. Tidak hanya itu, bangunan masjid juga dihiasi dengan ornamen-ornamen yang beragam dari arsitek ternama.

Sampai di sebuah masjid, saya terfikir, begitu banyaknya masjid-masjid yang indah, namun ada rasa yang mengganjal. Bagaimana tidak, hati saya bertanya-tanya “bagaimana ya orang yang berkursi roda, buta, orang tua, singkatnya orang difabel bisa menikmati masjid seindah ini?”

Perasaan itu mengingatkan saya akan cerita antara sahabat yang difabel (contohnya Ummi Maktum) dengan Nabi saw yang terekam dalam berbagai kitab hadis di antaranya sebagai berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : ” أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، رَجُلٌ أَعْمَى ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ ، فَرَخَّصَ لَهُ ، فَلَمَّا وَلَّى ، دَعَاهُ ، فَقَالَ : ” هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ ؟ قَالَ : نَعَمْ ، قَالَ : فَأَجِبْ “

Artinya: Abu Hurairah menceritakan ada seorang laki-laki buta datang kepada Rasulullah saw, lalu ia mengadu kepada Rasulullah saw kalau dia tidak bisa datang ke masjid karena tidak ada orang yang bisa menuntunnya. Rasulullah saw memberinya keringanan untuk solat di rumahnya. Namun ketika ia hendak pulang, Rasulullah memanggilnya, “apakah kamu dengar azan? Ia menjawab “ia ya Rasul”, Rasulullah mengatakan “kalau begitu datanglah ke masjid.” (Muslim: 1050)

Hadis lain menceritakan tentang pengaduan Ummi Maktum:

وعَنْ ابْنِ أُمِّ مَكْتُومٍ أَنَّهُ سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي رَجُلٌ ضَرِيرُ الْبَصَرِ شَاسِعُ الدَّارِ وَلِي قَائِدٌ لَا يُلَائِمُنِي فَهَلْ لِي رُخْصَةٌ أَنْ أُصَلِّيَ فِي بَيْتِي ؟ قَالَ :. هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ ؟ ,قَالَ : نَعَمْ ، قَالَ ; لَا أَجِدُ لَكَ رُخْصَةً

Artinya: Ummi Maktum bertanya kepada Nabi saw, “ Wahai Rasulullullah saw mata saya buta dan aku tidak punya orang yang bisa menuntunku ke masjid, bisakah aku mendapat rukhshoh (keringanan) salat di rumah? Rasulullah kemudian bertanya, “kamu dengar azan?”, Ia menjawab “dengar.” Lantas Rasulullah saw berkata “tidak ada rukhsoh bagimu. (Abu Daud: 552 | Ibnu Majah: 792)

Dari dua peristiwa di atas, Rasulullah sangat menekankan pentingnya datang ke masjid. Bahkan ketika ada uzur syar’i sekalipun, seperti Ummi Maktum. Lantas apa hubungannya hadis tersebut dengan bangunan masjid?

Bangunan dan penggunanya adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Begitupula dengan masjid. Ketika membangun masjid tidak hanya fasilitas wudhu’, sholat, atau kantor takmir yang perlu diperhatikan. Penting pula untuk diperhatikan keramahan bangunan masjid terhadap orang-orang berkebutuhan khusus seperti orang tua, orang buta, orang cacat dan lain sebagainya juga perlu diperhatikan. Mulai dari akses kamar mandi sampai dengan tempat solatnya.

Masjid harus kita gambarkan sebagai simbol dari kesetaraan. Di dalam masjid tidak ada pemisahan antara orang kaya dengan orang miskin, pejabat dengan rakyat, semuanya diperlakukan sama. Bahkan, ketika masuk masjid orang yang paling berhak di shaf paling depan adalah orang yang pertama kali datang ke masjid.

Jangan sampai masjid tidak ramah terhadap orang-orang difabel, karena orang yang berkebutuhan khusus juga memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan orang normal lainnya. Untuk itu, mereka harus diberikan fasilitas yang memberikan kemudahan untuk mengakses masjid sama seperti halnya seperti orang pada umumnya.

Sebab, orang difabel lemah bukan karna keterbatasan mereka tapi karena fasilitaslah yang tidak mendukung mereka. Seperti halnya seperti orang normal, ketika fasilitas tidak memberikan kemudahan, maka mereka pun akan terlihat lemah. Itulah mengapa arsitektur masjid perlu mempertimbangkan aspek-aspek keislaman dan kemanusiaan. []

Abdul Karim Munthe, Peneliti El Bukhori Insititute.