Memetik Inspirasi dari Daeng Saga: Guru Ngaji Penyandang Disabilitas dari Gowa

Memetik Inspirasi dari Daeng Saga: Guru Ngaji Penyandang Disabilitas dari Gowa

Daeng Saga adalah mutiara langka di antara ribuan mutiara di laut lepas. Keikhlasannya kokoh bagaikan gunung Bawakareng. Tak goyah hanya karena angin kencang atau badai. 

Memetik Inspirasi dari Daeng Saga: Guru Ngaji Penyandang Disabilitas dari Gowa

Pria yang kini berada di depan saya ini sekarang sudah memasuki usia kepala lima, namun raut wajahnya masih sama seperti 30 tahun lalu saat pertama kali mengabdikan diri mengajar ngaji anak-anak tetangganya. Sepertinya dia menolak untuk tua atau mungkin karena berkah keikhlasannya berbagi ilmu juga menghidupkan masjid dengan suara adzannya sehingga bisa awet muda.

Dia lah Sukirman, dalam kesehariannya biasa disapa Daeng Saga. Seorang pria penyandang disabilitas yang sudah 30 tahun mengabdi untuk mencerdaskan anak-anak tetangganya agar mereka melek huruf hijaiyah.

Kekurangan Fisik sebagai Berkah

Bermula pada tahun 1995 di sebuah rumah kayu panggung sederhana, berdinding anyaman bambu dan itu pun bukan rumahnya sendiri, Daeng Saga menembus batas dan sekat masyarakat pada waktu itu. Seorang pria yang sejak lahir nampak berbeda dengan teman seusianya, ia fasih berbicara, mendengar, pandangannya tajam namun untuk menggapai benda-benda di sekitarnya ia harus merangkak. Terlahir tanpa jari jemari di kedua tangannya, betis kanannya terlipat naik ke paha, betis  kirinya mungil hanya menyisakan dua jari kaki yang besar. Itulah takdir Allah SWT yang dianugrahkan kepadanya.

Namun takdir itu tidak untuk direnungi maupun ditangisi. Takdir itu ia jadikan kendaraan menjemput berkah dan ridha Allah SWT melalui bacaan Al-Qur’an. Ternyata ketika remaja Daeng Saga belajar Al-Qur’an dari imam masjid di lingkungannya dengan cepat.

Mengajar Al-Qur’an dengan Metode Lapalang

Ia tidak mengenal metode iqra seperti yang kita pelajari. Di pedesaan pelosok nun jauh dari kota tak dikenal metode itu. Daeng Saga belajar metode Lapalang dan kini menggunakannya sebagai metode pengajaran kepada anak-anak untuk belajar Al-Qur’an.

Lapalang adalah metode belajar mengaji yang berkembang pada masyarakat desa masa lalu jauh sebelum ada buku panduan seperti Iqra. Para orang tua belajar metode ini dengan sistem ingatan. Huruf-huruf hijaiyah dibaca dengan langgam Makassar:

Lepu’ (alif), ba (Ba), ta (Ta), sa (Tsa), Jing (Jim), ha (Ha), ha (Kha), dalang (Dal), salang (Dzal), rei (Ra), sing (Za), Sino’ (Sin), Soa’ (Sya), soa’ (Sha), doa’ (Dha), toa’ (Tha), loasa (Zha), aeng (‘Ain),  goeng (Gha), pa (Fa), kapu’ (Kaf), kepa’ (Qaf), lang (Lam), ming (Mim), nung (Nun), wau (Waw), hamansa (Hamzah), la (Lam Alif), a (A), ya (Ya)

Adapun cara mempraktekkan bacaan seperti ini: “A ratena A, Ba rawana Bi, Ta dapanna Tu”  (Alif baris atas namanya A, Ba baris bawah namanya Bu, Ta dhamma namanya Tu), “Ba rawana Bi Muno sing, Ming rawana Mi” (Ba baris bawah namanya Bi bertemu Syin mati dilanjutkan Mim baris bawah namanya Mi ” Jadilah bacaan “Bismi”)

Kiprah Daeng Saga

Daeng Saga lahir di Dusun Ompoa, Desa Bontotangnga, Kecamatan Bontolempangan, Gowa pada 01 Januari Tahun1974. Dulunya pada jaman orba, Bontotangnga hanyalah sebuah dusun kecil bernama Gantarang sebelum akhirnya dimekarkan menjadi desa mandiri pada tahun 2003.

Saat itu orang yang mau mengajar mengaji terbilang ‘langka’, apalagi jika dikaitkan dengan kesejahteraan para guru ngaji. Daeng Saga juga selalu menjadi peserta MTQ tingkat kecamatan untuk kategori dewasa disabilitas. Ia pernah juara sebagai Runner Up. 

Atas kiprahnya menjadi guru mengaji, pada tahun 2008 beliau diberi penghargaan sebagai Guru Mengaji Teladan oleh Bupati Gowa periode 2005-2015, Bapak Ichsan Yasin Limpo (almarhum). Daeng Saga menerima kado manis dari orang nomor satu di Gowa saat itu tepatnya di Lapangan Syekh Yusuf Sungguminasa.

Hal itu membuatnya semakin ‘langka’. Mungkin di antara guru mengaji di Kabupaten Gowa hanya beliau yang berkebutuhan khusus. Ia juga tidak pernah mengenyam pendidikan formal di bangku Sekolah Dasar. Meskipun demikian, ia mampu calistung (membaca, menulis dan berhitung).

Anak-anak yang telah diajar oleh Daeng Saga saat ini sudah banyak yang menjadi sarjana. Bahkan sudah berkeluarga dan punya anak. Meski beliau masih berstatus ‘lajang’.

Saat ini lokasi mengajar mengaji sudah di fokuskan di Masjid. Muthmainnah adalah nama masjid sekaligus nama TKA/TPA yang dibina beliau. Setiap harinya ia berjalan merangkak ke masjid. Setiap waktu salat beliaulah yang menjadi muadzinnya. Bakda Maghrib hingga masuk waktu Isya adalah waktunya untuk mengajar.

Selama kurang lebih 1 dekade rumah panggung miliknya telah menjadi saksi banyaknya santri yang sudah di wisudah TKA/TPA oleh Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) tingkat kecamatan.

Daeng Saga bukanlah tipe orang yang pasrah dengan realitas hidupnya yang mungkin bagi orang lain itu bukan keberuntungan. Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, ia pernah menggembala beberapa ekor kambing, pergi ke kebun yang jaraknya kurang lebih 400 meter dengan merangkak. Ia juga pandai membuat pagar bambu tanpa dibantu orang lain. Terkadang ia harus memanjat pohon nangka untuk mengambil beberapa tangkai dedaunan demi memberi makan kambingnya.

Tak Mencari Rupiah

Pernah beberapa tahun Daeng Saga menerapkan iuran kepada santrinya sebanyak 5 ribu rupiah. Namun karena banyak orang tua yang terkendala akhirnya iuran itu pun dihapus. Padahal sebenarnya iuran itu bisa untuk membantu sedikit dari ekonomi keluarganya. Hingga kini, ia masih serumah dengan ibunya yang sudah renta, saudara perempuannya dan beberapa orang kemenakannya.

Berbicara masalah kesejahteraan sebagai guru ngaji bisa dikatakan sangat jauh dari kata layak. Ia mendapatkan honor sebanyak 600 ribu perempat bulan dari ADD Desa. Hanya ‘secuil’ jika dibandingkan dengan anggaran desa saat ini yang menyentuh angka miliaran rupiah.

Di tengah keterbatasannya yang jelas tidak bisa membajak sawah ataupun mengelola kebun tentu ia semestinya mendapat perhatian lebih dari pemerintah. Namun ternyata ia sepertinya ‘disamakan’ dengan guru ngaji lain yang sempurna fisiknya dan bisa mencari pundi-pundi rupiah.

Namun Daeng Saga adalah seorang pejuang. Ia tak berharap banyak imbalan rupiah dari santrinya ataupun pemerintah. Baginya mengajar adalah “jalan ninja” untuk mencari ridha Allah swt dan menanam pahala untuk dituai di hari kemudian.

Keikhlasan Yang Tak Lekang: Cukup jadi ASM (Aparatul Sipil Masjid)

Mengajar mengaji sejak tahun 1995 hingga saat ini ia telah banyak mencicipi menu kehidupan dan menyandang status sosial yang berbeda. Tidak ada jalan ia akan menjadi ASN (aparatur sipil negara) baik PNS ataupun PPPK. Ia tidak butuh itu. Ia cukupkan diri menjadi ASM (Aparatul Sipil Masjid)

Daeng Saga adalah mutiara langka di antara ribuan mutiara di laut lepas. Keikhlasannya kokoh bagaikan gunung Bawakareng. Tak goyah hanya karena angin kencang atau badai. Ini terbukti dari pengabdiannya selama tiga dekade mencerdaskan anak-anak di lingkungannya agar menjadi generasi yang cinta Al-Qur’an. Ketika tempat mengaji yang lain silih berganti tempat dan pembinanya, ia tetap mengajar sesuai panggilan nuraninya. Ia juga tak peduli yang datang menimba ilmu dengannya hanya satu ataupun dua orang. Ia lebih mementingkan kualitas daripada kuantitas.

Daeng Saga juga tidak ketinggalan di dunia maya. Ia mengoperasikan gadget di tengah keterbatasannya. Gadget digunakannya untuk menambah ilmu keislaman. Agar tersambung dengan banyak orang ia juga menggunakan sosial media Facebook. Anda bisa menyapanya lewat akun @SUkhyrmank.

Semoga saja Allah swt selalu melapangkan hatinya dan menyehatkan raganya.

(AN)