Mana yang lebih baik, Orang Fakir yang Sabar atau Orang Kaya yang Bersyukur?

Ilustrasi: Pixabay

Mana yang lebih baik, Orang Fakir yang Sabar atau Orang Kaya yang Bersyukur?

Antara fakir yang bersabar dan kaya yang bersyukur, mana yang lebih baik menurut Syekh Abdul Qadir al-Jailani?

Dalam kitab Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Nurul Burhani, bab ke-5 disana disebutkan, mana yang lebih baik antara orang Fakir yang sabar dengan orang kaya yang bersyukur?

Syekh Abdul Qadir al-Jailani ternyata tidak hanya menjelaskan mana yang terbaik antara dua hal tersebut, lebih dari itu, Syekh Abdul Qadir juga menjelaskan tingkatan yang paling mulia antara keduanya.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani menyatakan,

Read More

 اْلفَقِيْرُ الصَّابِرُ أَفْضَلُ مِنَ اْلغَنِىِّ الشَّاكِرِ  وَاْلفَقِيْرُ الشَّاكِرُ أَفْضَلُ مِنْهُمَا  وَاْلفَقِيْرُ الصَّابِرُ الشَّاكِرُ أَفْضَلُ مِنَ اْلكُلِّ

“Seorang fakir yang mau sabar lebih utama dari orang kaya yang bersyukur, dan orang fakir yang bersyukur, lebih utama dari keduanya dan orang fakir yang mau bersabar dan bersyukur lebih utama dari semuanya.”

Dari pernyataan Syekh di atas dapat disimpulkan bahwa yang terbaik di antara orang fakir yang sabar, orang fakir yang bersyukur, dan orang kaya yang bersyukur ialah orang fakir yang mau bersabar dan bersyukur.

Hal ini dinilai melalui kadar kesukaran antara ketiganya. Menjadi orang kaya yang bersyukur lebih mudah dari pada menjadi orang yang fakir bersyukur. Begitu juga menjadi fakir yang bersyukur dan bersabar menempati yang paling utama karena kadar kesukarannya paling tinggi.

Disisi lain dari maqalah (ucapan) tersebut juga menjelaskan bahwa orang yang fakir dekat sekali dengan kekufuran dan bisa-bisa sampai kekafiran. Banyak contoh di masyarakat, karena harta, orang rela keluar dari Islam supaya mendapat finansial yang mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.

Ungkapan tingginya derajat orang fakir tersebut sangat erat kaitannya dengan perilaku Syekh Abdul Qadir yang tidak malu untuk menghormati fakir miskin, bahkan menemani duduk untuk kajian keilmuan.

Ini lah yang menjadi ciri khas ulama pada zaman dahulu tidak hanya ingin duduk dengan raja atau pun orang kaya saja, tapi juga berbaur dan mengabdi kepada para fakir dan miskin.

Wallahu A’lam.