Lini Masa Gelombang Terorisme dalam Bingkai Media

Lini Masa Gelombang Terorisme dalam Bingkai Media

Media massa sering kali memberitakan perjuangan kemerdekaan dengan sudut pandang yang bervariasi. Sementara beberapa media barat menyebut para pejuang kemerdekaan sebagai aksi “terorisme”, media lokal sering kali melihat mereka sebagai “pejuang kemerdekaan”.

Lini Masa Gelombang Terorisme dalam Bingkai Media

Terorisme merupakan konsep yang cukup kompleks dan sering kali menimbulkan perdebatan dalam upaya mendefinisikannya. 

Leonard Weinberg dalam artikelnya, The Challenges of Conceptualizing Terrorism, memberikan pandangan bagaimana istilah terorisme berkembang dan bagaimana media massa mempengaruhi persepsi publik terhadap terorisme. 

Penelitian saya mengumpulkan sekitar 110 artikel yang relevan, dengan 73 definisi terorisme yang berbeda berdasarkan 22 elemen definisi,” tulis Weinberg. 

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah negara asal membuat perbedaan definisi atau tidak.

“Untuk menjawab pertanyaan penting ini, kami memeriksa frekuensi elemen definisi terorisme menurut wilayah penulis,” Weinberg menjelaskan . 

 

Frekuensi unsur definisi terorisme menurut wilayah

Melihat gambar tersebut, kita dapat melihat bahwa negara asal memiliki peran penting dalam cara para peneliti di jurnal profesional mendefinisikan istilah terorisme. 

“Misalnya saja, para peneliti dari Timur Tengah tidak pernah menyebutkan (0%) unsur “warga sipil”. Sebaliknya, para peneliti dari Eropa Barat dan Amerika Utara lebih sering menyebutkan unsur ini (masing-masing 40% dan 21%),” terang Weinberg.  

Sebaliknya, setengah dari cendekiawan di Timur Tengah menyebutkan unsur “ketakutan” dalam definisi mereka terhadap istilah tersebut. Sementara itu, kurang dari seperempat cendekiawan dari Eropa Barat dan Amerika Utara yang menggunakannya. 

Namun, meskipun terdapat perbedaan dalam elemen definisi yang digunakan oleh para penulis, seperti yang ditunjukkan pada gambar di atas, elemen yang paling populer di antara semua kelompok etnis adalah kekerasan

Gelombang Terorisme, Anti-Kolonial (1920-an hingga 1960-an)

Gelombang ini terjadi pada periode antara perang dunia dan berfokus pada gerakan anti-kolonial, dimulai pada tahun 1920an dan mencapai puncaknya pada tahun 1960an. 

Banyak negara di Asia, Afrika, dan Timur Tengah yang saat itu berjuang mendapat kemerdekaan dari kekuasaan kolonial Eropa. 

Media massa pada masa ini sering kali memberitakan perjuangan kemerdekaan dengan sudut pandang yang bervariasi. Sementara beberapa media barat menyebut para pejuang kemerdekaan sebagai “teroris”, media lokal sering kali melihat mereka sebagai “pejuang kemerdekaan”. 

“Perbedaan perspektif ini memperlihatkan bagaimana media dapat membingkai kejadian yang sama dengan cara yang sangat berbeda, tergantung pada kepentingan politik dan ideologisnya​, tulis Weinberg

Revolusi Kiri Baru (1960-an hingga 1980-an)

Arus selanjutnya dikenal sebagai gelombang revolusi kiri baru yang dipicu oleh pergerakan mahasiswa dan revolusi budaya di seluruh dunia. Kelompok-kelompok seperti Tupamaros di Uruguay, Brigade Merah di Italia, dan Tentara Merah Jepang muncul dan menggunakan taktik ‘teror’ (kalau bisa disebut demikian) untuk mencapai tujuan politik mereka.

Media massa pada masa ini sangat tertarik pada kisah-kisah penculikan, pembajakan, dan serangan teroris lainnya yang dilakukan oleh kelompok-kelompok ini. Misalnya, penculikan dan pembunuhan Aldo Moro oleh Brigade Merah pada tahun 1978, mendapatkan liputan luas dari media. Potret terhadap peristiwa mantan Perdana Menteri Italia ini bahkan menimbulkan debat tentang peran media dalam meliput kejadian terorisme. 

Media massa, pada gilirannya, sering kali dituduh memberikan panggung bagi para teroris untuk menyebarkan pesan mereka​​.

Terorisme pada gelombang ketiga ini juga memunculkan diskusi luas tentang  fenomena-fenomena seperti “sindrom Stockholm”, pencucian otak, proses negosiasi penyanderaan, dan peran media massa dalam melaporkan peristiwa-peristiwa yang kemudian diberi label terorisme. 

Singkatnya, akhir tahun 1960-an hingga awal tahun 1980-an merupakan masa di mana terorisme tampaknya memunculkan diskusi mengenai isu-isu psikologis. Oleh karena itu, kita tidak perlu terkejut bahwa unsur-unsur seperti ”ketakutan dan teror” serta ”efek psikologis dan reaksi yang diantisipasi” sering muncul dalam wacana publik.

Terorisme Berbasis Agama (1979 hingga sekarang)

Gelombang yang terakhir ini dimulai ketika Revolusi Iran pecah pada tahun 1979. Terorisme dalam gelombang ini didominasi oleh motif-motif agama, terutama Islamisme. Kelompok-kelompok seperti Al-Qaeda dan ISIS menjadi aktor utama yang menggunakan teror untuk mencapai tujuan ideologis mereka.

Peran media massa dalam gelombang ini sangat signifikan, apalagi setelah serangan 11 September 2001. Media global berfokus secara intens pada ancaman terorisme yang dianggap bersumber dari Islamisme (bedakan antara Islam dengan Islamisme)

Juga, liputan media barat sering kali menimbulkan “rasa takut” yang meluas di kalangan publik. Rasa takut itu bahkan pada kadar tertentu mempengaruhi kebijakan pemerintah dalam menangani terorisme. Sebagai dampaknya, media pada akhirnya juga terjebak dalam upaya menyebarkan propaganda teroris melalui platform online. 

Dalam kapasitas itu pula, Hammas (yang saat ini sedang memperjuangkan kemerdekaan Palestina) dibingkai oleh media barat sebagai kelompok penebar teror. PBB beserta Uni Eropa, Amerika Serikat (AS), Kanada, Jepang, Australia, Paraguay, Organisasi Negara-Negara Amerika, dan Mesir bahkan tetap memasukkan Hamas ke dalam daftar organisasi teroris. Sementara, negara-negara lain seperti Swiss, Norwegia, Rusia, Brasil, Turki, dan Cina, tidak memasukkannya.

“Walaupun di tahun 2014, Pengadilan Uni Eropa sempat menghapus Hamas dari daftar teroris, akhirnya diputuskan pada tahun 2019 bahwa Hamas harus tetap berada dalam daftar. Ini membuat dana hamas terus dibekukan ketika terdeteksi,” tulis Sergio García Magariño dalam sebuah artikel.