Kronologi Masuk Islamnya Utsman bin Affan

Kronologi Masuk Islamnya Utsman bin Affan

Mayoritas sahabat Rasulullah menjadi muallaf setelah berumur dewasa, bahkan ada beberapa yang sudah berusia senja, melalui serangkaian peristiwa yang berbeda-beda. Hanya Ali bin Abi Thalib yang sejak kecil telah menjadi Muslim. Karena memang beliau berada dalam asuhan Nabi Muhammad. Di antara sahabat adalah Utsman bin Affan. Ada dua versi tentang kronologi masuk Islamnya Utsman bin Affan.

Versi pertama, suatu hari, Utsman bin Affan memimpin kafilah dagang yang menempuh perjalanan ke Mekkah dari Syam. Utsman mewarisi kafilah itu dari ayahnya yang sering melakukan perjalanan niaga dengan menelusuri lembah-lembah di wilayah Mekkah, Syam dan Irak. Cuaca saat itu sangat panas, sehingga Utsman pun memerintahkan kafilah menghentikan perjalanan dan beristirahat.

Utsman beristirahat di bawah pohon. Keteduhannya membuatnya mengantuk dan tertidur. Beliau mendengar suara bahwa Muhammad telah menjadi Nabi. Setelah terjaga, beliau teringat bibinya, Su’da binti Kuraiz, seorang paranormal yang pernah meramal bahwa kelak akan datang seorang Nabi di Mekkah.

Read More

Hati Utsman berbisik, tak diragukan lagi bahwa Muhammad adalah Nabi yang diramalkan oleh Su’da. Beliau lalu menceritakan hal itu kepada Thalhah bin Ubaidillah yang juga sedang berteduh di sampingnya. Kedua orang itu tampak gembira.

Kafilah kembali melanjutkan perjalanan. Setibanya di Mekkah, mereka disambut sanak keluarga masing-masing, kemudian bertawaf di Ka’bah sebagai ungkapan syukur atas keselamatan rombongan dan keuntungan berniaga.

Setelah itu, Utsman langsung menemui Abu Bakar dan menceritakan apa yang beliau dengar. Abu Bakar mengatakan itu kabar gembira bahwa Muhammad telah menjadi Nabi yang menyerukan tauhid. Setelah itu, Utsman segera menemui Rasulullah SAW dan menyatakan diri masuk Islam.

Versi kedua. berawal ketika Utsman sedang berada di halaman Ka’bah. Ketika itu, beliau mendapat kabar bahwa Nabi Muhammad SAW telah menikahkan Ruqayyah, putrinya yang sangat cantik dengan Utbah bin Abu Lahab.

Mendengar kabar itu, Ustman menyesal karena telah didului Utbah. Utsman pun kembali pulang ke rumah. Di rumah, beliau mendapati bibinya Su’da binti Kuraiz sedang duduk-duduk bersama keluarganya. Su’da adalah seorang paranormal untuk kaumnya. Setelah melihat Utsman, Su’da berkata:

Berbahagialah, engkau akan mendapatkan kemuliaan tiga kali berturut-turut

Kemudian tiga kali, dan tiga lagi

Kemudian tiga lagi, sampai sempurna sepuluh

Engkau akan mendapat kebaikan, dan dijaga dari kejahatan

Demi Allah, engkau akan menikahi gadis suci nan cantik

Engkau masih jejaka dan menemukan perawan

’Utsman heran mendengar kata-kata bibinya, sehingga beliau pun bertanya, ”Bibi, apa yang baru saja anda ucapkan?”. Bibinya menjawab:

’Utsman, ’Utsman, ’Utsman

Engkau orang bijak dan fasih

Ia adalah seorang nabi dengan beberap bukti

Ia diutus membawa agama yang haq

Ia datang membawa al-Tanzil dan al-Furqan

Ikutilah dia, janganlah kamu menyembah berhala

Su’da berkata lagi, “Muhammad bin ’Abdullah adalah utusan Allah yang datang membawa Al-Qur’an untuk mengajakmu menyembah Allah. Pusatnya lentera, ucapannya benar, agamanya membawa keberuntungan, perintahnya menjadi keselamatan, tanduknya menyerunduk, semua musuh akan tunduk padanya, teriakan karena terluka oleh tombak tidaklah guna, batu akan hancur, dan tombak-tombak akan terpasang.”

Setelah itu, Su’da pergi, sementara mendengar perkataan bibinya itu, Utsman segera memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh bibinya tadi. Selasa pagi, Utsman menemui Abu Bakar untuk berkonsultasi mengenai apa yang telah diberitahukan bibinya tentang Muhammad. Melihat Utsman seakan sedang memikirkan sesuatu, Abu Bakar pun mulai bertanya.

Segera Utsman memberitahu kabar dari bibinya itu. Mendengar cerita dari Ustman, Abu Bakar berkata, ”Celaka engkau Utsman! Demi Allah, engkau adalah seorang yang bijak yang mampu membedakan antara kebenaran dan kebathilan. Berhala-berhala yang disembah oleh kaummu bukankah terbuat dari batu yang tuli, tidak bisa mendengar dan melihat, juga tidak bisa memberi madharat dan manfaat?”

‘Utsman pun menjawab, “Benar, demi Allah seperti itulah keadaannya.” Abu Bakar berkata, “Demi Allah, apa yang telah dikatakan bibimu benar. Dia adalah Muhammad bin ‘Abdullah. Allah telah mengirimnya sebagai utusan untuk semua makhluk. Apa engkau ingin mendatanginya dan mendengarkan sesuatu darinya?” Utsman menjawab, “Baiklah,” mereka pun berangkat untuk menemui Nabi Muhammad SAW.

Saat itu, Nabi sedang lewat bersama dengan Ali bin Abi Thalib yang membawakan baju beliau. Melihat Nabi, Abu Bakar segera mendekat lalu berbisik ke telinga beliau. Maka, beliau kemudian duduk dan menyambut Utsman.

Rasulullah SAW langsung bersabda, “Utsman, sambutlah Allah untuk mendapatkan surga-Nya. Aku adalah utusan Allah yang dikirim kepadamu dan kepada semua makhluk-Nya.” Utsman berkata, “Demi Allah, begitu aku mendengarkan sabda beliau, maka aku segera memeluk Islam dan bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.”

Wallahu a’lam.

Referensi:

Ibnu Hajar, Al-Ishabah fi Tamyiz Al-Shahabah (Kairo: Markaz Hijr li Al-Buhuts wa Al-Dirasat Al-‘Arabiyyah wa Al-Islamiyyah, 2008)

Fathi fawzi Abd Al-Mu’hti, Detik-Detik Penulisan Wahyu, terj. M. Taufiq Damas (Jakarta: Zaman, 2009.