Kisah Syekh Abdul Qadir al-Jailani dan Dua Teman Alimnya

Kisah Syekh Abdul Qadir al-Jailani dan Dua Teman Alimnya

Saat masih kecil, Abdul Qadir al-Jailani beserta kedua teman alimnya pernah mendatangi seorang wali, bagaimana kisahnya?

Kisah Syekh Abdul Qadir al-Jailani dan Dua Teman Alimnya

Diceritakan, semasa Syeh Abdul Qadir menimba ilmu, ia berteman dengan dua orang cerdas, Ibnu Syaqa’ dan Ibnu Abi Isyrun. Pertemanan mereka sangat erat hingga berlanjut sampai di rumah masing-masing.

Setelah lama tak bertemu gurunya, Syeh Abdul Qodir berinisiatif mengajak kedua teman lamanya untuk sowan kepada sang guru. Tanpa berpikir panjang, kedua teman dekat Syekh Abdul Qadir langsung setuju.

Alhasil, sebelum ketiganya berangkat, masing-masing dari mereka menceritakan hajat yang akan diutarakan kepada sang guru. “Aku akan membawa pertanyaan sangat sulit hingga guru kita susah menjawab,” kata Ibnu Syaqa’.

Tak mau kalah, Ibnu Abi Isyrun juga ingin menanyakan satu hal. “Aku akan bertanya tentang masalah masa kini, hingga aku dapatkan referensinya,” tuturnya.

Berbeda dengan kedua temannya, Syekh Abdul Qadir hanya ingin curhat tentang satu hajat yang sederhana. “Aku hanya ingin meminta doa kepada guru,” jelasnya.

Setelah sampai di ndalem kiai mereka, maksud dan tujuan masing disampaikan. Ada satu hal yang tak disangka, sebelum Syekh Abdul Qadir dan kedua temannya berkata, guru mereka sudah mengetahui segala hal yang ingin mereka sampaikan.

Pertama, Ibnu Syaqa’, ia langsung mendapat jawaban keras beserta teguran dari sang guru. “Wahai Ibnu Syaqa’, sesungguhnya terlihat kesombongan dan kekufuran dalam hatimu, apa yang ingin kau tanyakan telah aku siapkan jawabannya, bergegaslah pulang sekarang juga” tegas sang guru.

Nasib yang tak jauh berbeda juga dialami Ibnu Abi Isyrun. Setelah mendapat teguran dari sang guru. Ia juga langsung mendapat jawaban sebelum masalah ia tanyakan, ia juga mendapatkan keterangan lengkap beserta referensinya. Setali tiga uang, Ibnu Abi Isyrun disuruh segera kembali ke rumah atas perintah gurunya.

Berbeda dengan Syekh Abdul Qodir, ia mendapat perlakuan baik dari sang guru. Doa yang ingin ia sampaikan terpenuhi. Setelah didoakan, gurunya berkata,”Kau akan jadi pemimpin para waliyullah wahai Abdul Qadir”. Ia mengamini  dan minta restu kepada gurunya.

Abdul Qadir muda, meskipun dia pandai, ketika berhadapan dengan guru, ia tetap memposisikan dirinya sendiri sebagai murid yang selalu tampil rendah hati, tidak terbersit sedikitpun dalam hatinya untuk menguji gurunya.

Dan benar, di kemudian hari, karena ketawadluan Abdul Qadir dan atas doa serta restu gurunya, ia menjadi wali agung yang mendapat posisi mulia di antara wali-wali yang lain.

Wallahua’lam.

Cerita ini disampaikan oleh KH Saefudin dalam acara pengajian rutin Kamis Kliwon di Pesantren Sirojuth Tholibin, Brabo Tanggungharjo Grobogan