Kisah-kisah Para Perempuan Kepala Keluarga nan Tangguh

Kisah-kisah Para Perempuan Kepala Keluarga nan Tangguh

Aisah, Rusdiana, dan Nova adalah contoh kecil para perempuan kepala keluarga yang tangguh di Aceh.

Kisah-kisah Para Perempuan Kepala Keluarga nan Tangguh
Ilustrasi: Perempuan bekerja menjadi peternak (Foto: Freepik)

“Tamat SD, saya mau masuk pesantren di Banda Aceh,” begitu harapan seorang anak perempuan kelas enam kepada sejumlah petugas Baitul Mal Banda Aceh yang menyambanginya dengan berbinar ceria.

Ketika diberikan beberapa pertanyaan oleh tim petugas, ia bahkan tak sungkan menjawab dengan lugas mewakili kakak dan ibunya yang lebih irit bicara. Anak perempuan tersebut merupakan putri kedua dari Aisah (bukan nama sebenarnya), seorang janda dua anak yang mantan suaminya tersangkut kasus pidana dan hingga kini masih mendekam di penjara.

Aisah bercerita bahwa ia bersyukur dikaruniai dua putri yang cerdas. Keduanya tak pernah membuat ibunya repot, bahkan mereka lah yang membuat Aisah senantiasa kuat menjalani hari-hari berat, terutama sejak ia memutuskan berpisah dari sang suami.

Ia menyadari bahwa nasib telah membawanya untuk menanggung seluruh beban keluarga. Namun, dari hari ke hari ia kian menyadari bahwa roda kehidupan tak pernah selamanya buruk. Ia terus menerus meyakinkan diri bahwa ia dapat membawa kedua putrinya lepas dari lingkaran kemiskinan. Meski kini jalan yang mereka tempuh amatlah terjal dan beberapa kali diiringi badai.

Terlebih, ia memiliki banyak hutang akibat hasil kerjanya dari menjadi buruh cuci lepas tak selamanya menutupi kebutuhan keluarga kecilnya. Sehingga, sampai kini masih terus memutar otak agar kedua putrinya dapat mengenyam pendidikan dasar dan mampu memperoleh nasib yang jauh lebih baik dari dirinya.

Dari pagi-pagi buta, ia biasanya telah bangun untuk shalat subuh dan kemudian membereskan rumah. Tak lupa, ia bangunkan kedua putrinya untuk bergegas membuka mata dan mempersiapkan diri ke sekolah. Sembari menunggu kedua putrinya bersiap, Aisah akan mempersiapkan sarapan seadanya untuk mereka bertiga. Kadang hanya ubi rebus atau nasi sisa semalam yang masih bisa dimakan dengan kerupuk dan ikan asin.

“Yang penting, ada bekal di pagi hari,” cerita Aisah mencoba tersenyum mengingat kesehariannya sebagai perempuan kepala keluarga.

Walau ia masih berjuang melunasi hutang-hutang, dari cicilan motor hingga pinjaman untuk biaya sekolah anaknya, Aisah tak pernah mengeluh. Ia percaya bahwa kesulitan yang ia hadapi hanyalah sementara. Kuncinya bertahan hidup bagi Aisah amatlah sederhana: yakin pada Allah bahwa suatu saat kesabaran akan dibayar dengan lunas oleh kebaikan-kebaikan yang kita tanam. Sehingga, Aisah tak pernah menyerah meski kehidupannya tak semulus jalan tol.

Bantuan Tidak Memihak kepada Perempuan Kepala Keluarga

Perjuangan Aisah dalam membesarkan dua putrinya merupakan kepingan kecil dari beragam dinamika yang dialami oleh perempuan kepala keluarga di Indonesia. Data terakhir dari Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik pada 2020, menunjukkan bahwa beban perempuan kepala keluarga seperti Aisah semakin berat terutama saat pandemi.

Mereka juga merupakan kelompok yang rentan baik secara sosial maupun ekonomi. Hal ini dikarenakan sebagian besar dari mereka atau sekitar 95% perempuan kepala keluarga bekerja pada sektor informal seperti pedagang, buruh, atau petani yang tingkat pendapatannya tak menentu. Kondisi tersebut diperparah dengan pembatasan kegiatan masyarakat yang semakin mempersulit mereka untuk dapat menambah pundi-pundi keuangan keluarga.

Belum lagi persoalan akses bantuan yang masih memarjinalkan perempuan kepala keluarga yang justru tidak mengurangi permasalahan kemiskinan di kalangan mereka. Dua orang perempuan keluarga lain yang juga berasal dari Banda Aceh, Rosdiana dan Nova mengaku bahwa mereka tak mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah ketika pandemi berlangsung. Nova sendiri bahkan sempat memprotes kenapa janda kurang mampu seperti dirinya tak diprioritaskan, justru yang mendapat bantuan hanyalah keluarga dekat dari kepala desa saja.

Ketika mencurahkan kondisinya kepada saudaranya, ternyata persoalan sejenis juga ia dapat. Banyak sekali perempuan keluarga yang tak masuk daftar bantuan. Mereka yang sebagian besar tidak memiliki pekerjaan tetap mengeluhkan bahwa bantuan sering kali saalah sasaran. Mereka yang seorang diri mengurus keluarga, justru kerap kali dikucilkan karena statusnya sebagai perempuan. Padahal, selama ini mereka menanggung beban dua kali lipat lebih berat dibandingkan ketika suami mereka masih hidup atau menanggung nafkah.

Kondisi itu kemudian mendorong Nova, yang juga memimpin Aliansi Inong Aceh (organisasi yang fokus pada perempuan) untuk melakukan advokasi memperjuangkan hak-hak dirinya dan perempuan yang bernasib sama. Syukurlah, atas gerakan yang solid dan efektif. Akhirnya, Nova dan beberapa perempuan keluarga kurang mampu lain berhasil mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah.

Berbeda dengan Nova dan koleganya yang terbantu dengan subsidi pemerintah semasa pandemi, Maryam (bukan nama sebenarnya) mengaku bahwa subsidi yang ia terima tidak sebanding dengan kebutuhan diri dan ketiga anaknya.

Selama ini, ia yang bekerja sebagai buruh bakar arang batok kelapa menceritakan bahwa penghasilan yang ia peroleh acap kali tak cukup membiayai makan sehari-hari, bahkan untuk tempat tinggal. Karena tidak ada biaya mengontrak rumah yang layak, ibu dan ketiga anaknya tersebut menumpang tinggal di rumah pesuruh sekolah.

Dengan kondisi ini, ia harus berhemat sekuat mungkin agar ia sekeluarga tak kelaparan. Asset yang bisa dijual pun tak lagi dimiliki. Sehingga, harapan satu-satunya adalah ia harus terus bekerja keras hingga pendidikan dasar ketiga anaknya terpenuhi.

Walau semua perempuan tadi memikul tanggungjawab yang besar, namun pilihan mereka sebagai perempuan bekerja tak pernah mereka sesali. Mereka menyadari bahwa putra-putri mereka berhak mendapatkan masa depan yang lebih baik. Oleh karenanya, tiap kali bekerja mereka selalu meniatkan diri untuk beribadah agar cita-cita generasi penerus yang mereka rawat dengan penuh cinta dan kasih sayang dapat terwujud di masa mendatang. (AN)

 

*Artikel merupakan hasil kerja sama dengan Rumah KitaB atas dukungan investing in women dalam mendukung perempuan bekerja