Kisah Kertas Bertuliskan Bismillah yang Mengubah Segalanya

Kisah Kertas Bertuliskan Bismillah yang Mengubah Segalanya

Kertas ini mengubah segalanya, termasuk cinta

Bisyr bin Abu Naser sedang berpesta dengan rekan-rekannya. Tiba-tiba ada orang mengetuk pintu rumahnya. Kemudian Bisyr menyuruh pembantunya membukakan pintu.

Dari luar rumah si pengetuk pintu bertanya,” Apakah pemilik rumah ini orang merdeka atau hamba sahaya?” pembantunyapun menjawab dan menjelaskan bahwa yang mempunyai rumah adalah orang merdeka dan bukan hamba sahaya.

Lalu si penetuk pintu berkata lagi,” Pantaslah demikian jika sekiranya pemilik rumah ini mengaku hamba tentu tidak akan berbuat pekerjaan yang sia-sia ini karena takut kepada Allah.”

Read More

Pembantu rumah memberi tahu kepada Bisyr tentang tamu tersebut, dan mengatakan kembali apa yang diujarkan oleh si pengetuk pintu. Mendengar perkataan pembantunya, Bisyr langsung melompat dan meninggalkan sandalnya untuk mengejra si pengetuk pintu.

Pada saat melompat ia tidak memakai sandal. Peristiwa “nyekernya” Bisyr itu kemudian ditambahkan pada namanya yang terkenal dengan sebutan Bisyr al Hafi (orang yang tidak bersandal). Hingga hayatnya nama tersebut terus melekat. Ada pula yang menyebutkan bahwa semenjak menjadi seorang sufi Bisyr tidak pernah memakai sandal.

Bisyr al Hafi dikenal sebagai ahli tasawuf dan sufi terkenal.Nama lengkapnya Abu Nashr Bisyr bin Harits . Ia sezaman dan berkawan dengan sufi masyhur, Fudhail bin Iyad. Ia juga dikenal sebagai ahli ilu shul dan furu’, hingga akhirnya dijuluki dengan Amirul Mukminin daalam hadis. Sufi kelahiran Merv, Iraq 150 H/767 M juga sezaman dengan Imam Ahmad bin Hanbal.

Secarik Kertas Yang Mengubah Segalanya

Kehidupan Bisyr penuh gemerlap. Datang ke pesta menjadi kebiasaanya sehari-hari.  Namun gaya hidup tidak membuatnya bahagia. Di tengah gundah gulana, ia berjalan mencari kebenaran. Pada suatu hari, ia menemukan secarik kertas yang bertuliskan Bismillahhirahmannirrahim. Diambilnya kertas tersebut dan ditempatkannya pada sesuatu yang mulia. Konon dalam riwayatnya kertas tersebut diberi wewangian.

Dalam kitab Tadzkirul Awliya karya Fariduddin Ath-Thar disebutkan,” Suatu hari Bisyr dalam keadaan mabuk. Langkahnya sampai terhuyung. Namun tiba-tiba ia temukan secarik kertas bertuliskan: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Kemudian Bisyr membeli minyak mawar untuk memerciki kertas tersebut.”

Dari sinilah tonggak perubahan Bisyr. Apa yang dilakukan ternyata membuat seorang soleh pergi menemuinya. Ia mengatakan bahwa ia bermimpi diperintahkan menemui Bisyir untuk menyampaikan sesuatu ungkapan yang harus disampaikan kepada Bisyr. Ungkapan tersebut adalah,” Engkau telah mengharumkan nama-Ku, maka Aku pun telah mengharumkan dirimu. Engkau telah memuliakan nama-Ku, maka Aku pun telah memuliakan dirimu. Engkau telah mensucikan nama-Ku, maka Aku pun telah mensucikan dirimu. Demi kebesaran-Ku, niscaya Ku-harumkan namamu, baik di dunia maupun di akhirat nanti”.

Pada awalnya orang soleh tersebut tidak percaya. Namun mimpi itu datang berulang-ulang. Akhirnya bertemulah dengan Bisyr yang sedang berpesta. Apa yang disampaikan oleh orang soleh itu, sontak membuat Bisyr tercenung. Kepada kawan-kawannya ia kemudian pamit, dan berkata,”Sahabat aku telah dipanggil Allahm oleh karena itu aku harus meninggalkan tempat ini. Kalian nanti tidak akan melihatku seperti ini lagi.”

Tasawuf adalah zuhud

Bisyr Al Hafi berpandangan bahwa ilmu dan amal adalah satu kesatuan. Sempurnanya batin adalah kerja keras amal saleh. Oleh sebab itu Bisyr selalu mengaitkan keberhasilan seorang peruluk (pejalan spiritual) dengan kehidupan zuhud. Dalam pendapatnya tidak mungkin tasawuf dibina tanpa zuhud. Tasawuf al Hafi dimulai dari dengan ilmu dan amal yang membentuk makrifat. Kemudian memancarlah cahaya kehidupan sufi. Oleh karenanya amal dan ilmu menjadi syarat mutalak bagi pesuluk.

Disebutkan bahwa tasawuf bagi Al Hafi diartikan sebagai kebersihan dan kebeningan hati kepada Allah SWT. Menurutnya ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam tasawuf. Pertama, jangan sampai Irfan seseorang memadamkan kewaraannya. Kedua, jangan sampai mengatakan sesuatu yang hakiki bertentangan dengan Al Quran dan sunnah Nabi. Ketiga, jangan sampai kekeramatan menjadi jalan yang diharamkan oleh Allah SWT.

Pendapat maupun ajaran Bisyr Al Hafi banyak dikutip oleh para hali tasawuf sesudahnya. Ulama besar seperti Abu Hamid Al Ghazali, Imam Al Qusyairi, As ya’rani dan lain sebagainya banyak mengutip gagasan dan pemikiran tasawuf al Hafi. Tokoh ini wafat pada tahun 277 H/841 M di Bagdad, Irak.