Kisah Dua Sahabat yang Beda Agama tetapi Saling Canda

Kisah Dua Sahabat yang Beda Agama tetapi Saling Canda

Kisah Dua Sahabat yang Beda Agama tetapi Saling Canda
Rumah Ibadah Non-Muslim dalam Pandangan Fikih

Mata Jamal sudah merah menahan kantuk, tapi teman-temannya masih mengejarnya.

“Mal-mal, ndang syahadat meneh! Koe ki wes kafir… (Mal-mal, buruan syahadat lagi! Kamu tuh udah kafir…)”, celetuk seorang kawan pondok yang baru saja satu forum Bahsulmasail bersama Jamal.

Ditengarai, Jamal sering kehujanan ‘umpatan’ dari rekan seperguruannya saat masih di pesantren, hanya karena ia punya argumen yang bersumber dari diskursus anti-mainstream.

“Iya, aku sering kasih argumen-argumen yang dianggap menyimpang kalo pas lagi bahsulmasail. Biasanya seputar isu-isu keakidahan yang sebenernya menurutku bisa diliat dari perspektif lain. Yoo sering di pondok aku dikafir-kafirin sama temen-temen satu gengku, malah sering juga di-syahadat-kan ulang,” kenangnya.

Lima tahun berselang, Jamal kini melanjutkan studi agama di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia cukup aktif di kegiatan lintas iman, Youth Interfaith Peacemaker Community (YIPC), dan pengalaman-pengalamannya dulu di pesantren terefleksikan ulang dalam pergumulannya dengan orang-orang baru dari berbagai spektrum agama.

“Menarik aja sih, karena dulu di pondok aku terbiasa sama lingkungan yang semuanya Islam. Agama lain, beserta pandangan-pandangannya kerasa asing banget. Asing dalam arti, sangat berjarak. Meskipun ya namanya dipondok, sebenernya wajar-wajar aja karena ngapain juga kamu di pondok tapi belajar seluk-beluk trinitas. Bukan tempatnya,” kata Jamal.

“Tapi poinnya bukan itu. Menurutku, kita mungkin boleh berjarak dengan agama lain secara teologis atau secara kultur, tapi apa iya harus berjarak juga secara persahabatan antar sesama manusia? Karenanya, platform seperti komunitas lintas iman kukira penting sebenernya buat memberi eksposur yang lebih plural ke kehidupan anak-anak muda,” lanjutnya.

Meski begitu, ada beberapa catatan dari Jamal soal kegiatan lintas iman. Misalnya, scriptual reasoning (SR). Biasanya beberapa minggu sekali, para anggota beserta pengurus komunitas lintas-iman yang ia ikuti tersebut berkumpul. Tujuan utamanya adalah untuk saling mengakrabkan diri satu sama lain.

Untuk diketahui, scriptual reasoning adalah upaya untuk menciptakan keakraban lebih dalam dari sisi pengalaman membaca isi kitab suci agama lain secara langsung. Scriptual reasoning didesain supaya masing-masing dari peserta bisa saling-kenal lanskap dan kontur ajaran agama lain itu gimana.

Harapannya, kita bisa ngerti kenapa umat lain ngelakuin ritual A, B, C, dan bisa ngerti titik persamaan satu sama lain serta letak perbedaan mana yang gak boleh jadi bahan bercandaan. Sebagai medium perkenalan atau dialog, Jamal mengakui jika scriptual reasoning ini bagus dan bisa jadi refleksi pribadi masing-masing. Umumnya kita tahu agama lain kan bukan dari sumbernya langsung.

“Hanya saja, di SR itu kita kan diajak baca sekumpulan ayat dari kitab suci masing-masing dengan tema spesifik. Kita nanti suruh bacain dan maknain ayat itu gimana artinya dan penghayatannya, boleh berdasarkan pandangan pribadi, dan juga boleh berdasarkan anggepan umumnya umat.”

“Di situ, otomatis dialog dengan wacana yang lebih dalem pasti terjadi. Tapi masalahnya, walaupun di scriptual reasoning ini kita dibimbing sama seorang fasilitator, tapi sebenernya perlu ketelitian dan kontrol tafsir tertentu supaya memitigasi pandangan ataupun pemaknaan yang misslead secara metode tafsir, karena di SC ini kita berurusan sama ranah teologis, sementara tiap-tiap individu punya pemaknaan dan kesadaran metodologis yang beda-beda,” ujar Jamal.

Bagi Jamal, kegiatan-kegiatan di YIPC merupakan salah satu jalan yang membantu seseorang untuk memahami sesama umat beragama di luar dirinya. Jalan yang utama, sebenarnya, terletak pada jejaring pertemanan dan guyonan antar anggota sehari-hari. Kelakar-kelakar yang dilontarkan satu sama lain sering kali berasal atau bisa juga berakhir dari sebuah diskusi.

“Aku ya punya teman. Namanya Miko, orangnya koplak. Kita ketemu pas acara training fasilitator komunitas lintas iman tingkat provinsi. Dia calon pastor. Dulu kita pernah berpolemik di medsos, bales-balesan meme.”

“Pernah juga aku dibikinin grup. Isinya ya orang-orang koplak semua, termasuk aku, hehe… Ada yang dari Kristen Katolik, Protestan, dan lain-lain. Pokoknya yang muslim cuma aku doang. Nama grupnya: ‘Murtadkan Jamal’. Tapi aku ga tersinggung sama sekali, karena mungkin, kita udah deket. Dan, dari grup itu juga sering kita diskusi macem-macem, teologi, ini dan itu dan lain-lain,” tutur Jamal.

Rupanya, Miko membenarkan penuturan Jamal. Dia mengaku sering membercandai Jamal soal baptis membaptis, padahal jelas-jelas Jamal adalah seorang penganut Islam.

“Dulu biasanya, ‘he… he… sini mal tak baptis’. Tapi ga segampang itu baptis orang, ga cukup diciprat-cipratin air terus dia langsung jadi Kristen,” kelakar Miko.

Jamal (kanan) & Miko (Kiri) (sumber: Jamal)

Soal guyonan keudanya yang mungkin agak berbeda dengan guyonan pada umumnya, Miko memandang bahwa humor sebetulnya bukan sesuatu yang ‘proaktif’, tetapi ‘reaktif’. Bagi Miko, humor merupakan sebuah respon atas kondisi status-quo tertentu. Spektrum humor tertentu adalah reaksi atas tingkat kedalaman konservatisme tertentu.

“Tentu aku juga liat-liat dulu dong siapa yang aku ajak bercanda. Kalau sama orang yang baru kenal, aku akan hati-hati. Di seminar atau di forum diskusi, aku tentu akan serius. Agak ga enak kalau di tempat resmi terus aku lempar jokes.”

“Tapi, soal jokes-jokes keagamaan, spektrumnya kan beragam. Yang moderat misalnya akun-akun garislucu. Yang agak sarkas biasanya ada di akun meme atau jokes-jokesnya gen-Z. Spektrum moderat ataupun sarkas, dua-duanya sama-sama merespon konservatisme. Semakin tinggi tingkat konservatisme, semakin gelap spektrum guyonan yang meresponnya. Orang lelah dengan cara beragama yang kaku, akhirnya mereka ada yang membuka diri, atau ada juga yang menginisiasi jokes-jokes gelap,” jelas Miko.

“Betul, betul, betul. Orang tuh udah capek dikejar utang atau cicilan, lha kok terus dikasih ceramah-ceramah yang gitu-gitu, kaku. Orang juga males dengerinnya. Menurutku, orang lebih suka (dengerin) kalau ceramahnya ada humor-humornya. Tapi ya jangan [humor] yang sengaja untuk menjatuhkan kelompok tertentu, seperti pernah ada guyon yang, apa Mik yang dulu itu?” timpal Jamal.

“Oh itu, soal ‘kalo lu [Yesus] anak Tuhan, bidannya siape?'” tukas Miko.

Miko mengaku tersinggung atas jokes, kalu boleh disebut jokes, yang diniatkan untuk merendahkan semacam itu. Di forum terbuka dan serah pula. Meski begitu, Miko menyebut bahwa respon atas guyonan seperti itu tidak memberi manfaat apa-apa.

Tanggapan Miko menyiratkan keteguhan yang sepenuhnya berbeda dengan imajinasi ‘loyalitas keagamaan’ yang umumnya kita (muslim Indonesia) bayangkan.

“Aku sebenernya tersinggung. Tapi posisinya kan aku ini minoritas, jadi mikir-mikir lagi (buat mempermasalahkan). Gak tau tuh kalau seandainya kita tuker posisi kaya di Amerika: Kristen agama mayoritas. Apakah mungkin kita bakal berani mempermasalahkan hal-hal seperti itu sebagaimana umat Islam di Indonesia sebagai kaum mayor sekarang ini, kita ga tau. Tapi dari dulu juga sebenernya orang-orang Kristen udah terbiasa ditindas. Dari jaman nabi sampe jaman sekarang. Jadi yaudah aja lah,” gerutu Miko.

Miko mengatakan kalau humor idealnya mengandung empati: memikirkan perasaan umat lain yang jadi objek humornya. Humor memang kontekstual. Miko menyadari ini. Oleh karena itu, menurutnya, “agama dengan guyon itu boleh. Yang gak boleh itu beragama dengan guyon.”

“Beragama dengan guyon tu misalnya, kamu ga mungkin minta anggur perjamuan berkali-kali. Udah dapet satu, terus ikut antri lagi. Itu bercanda [yang pejoratif] namanya. Atau kalau di Islam, mungkin, waktunya shalat tapi malah sembahyang ke gereja padahal jelas-jelas ada Masjid,” tambah Miko.

Apa yang dikatakan Miko itu menggarisbawahi perbedaan antara bercanda pada ranah simbolik dan bercanda pada ranah substantif. Ketika mengguyoni Jamal dengan jokes pembaptisan, kedekatan hubungan pertemanan menjadi token yang dapat mengubah jokes simbolik dari potensi ketersinggungan menjadi nuansa keakraban. Ketika mencontohkan anggur perjamuan, Miko sedang membahas tentang jokes subtantif yang berpeluang membuat ritual beragama kehilangan kesakralannya.

Sebagai umat dari dua agama yang berbeda, Jamal dan Miko punya pengalaman yang berbeda pula soal respon dari orang sekitar terhadap jokes ataupun pandangan mereka soal hal-hal sensitif tertentu. Jamal katanya sering mendapat stigma atau tatapan  kurang menyenangkan dari umat sesamanya atas jokes ataupun pandangan yang dikemukakan Jamal. Kenangan Bahsulmasail di awal tulisan tadi, mungkin adalah salah satu contohnya.

Sementara itu, Miko menceritakan pengalaman yang berbeda dengan Jamal:

“Kalo aku sih jarang ya. Di temen-temen [Kristiani sekitar], mereka nurut-nurut aja ketika aku bilang apa. Pernah ku tanya, ‘kok kalian nurut-nurut aja sih kalo aku bilang apa?’ ‘kamu kayaknya lebih tau Mik (soal wacana jokes ataupun pandangan tertentu). Kita males aja debat-debat. Percaya aja sih kita sama kamu: kamu deket sama kajian-kajian keagamaan.'”

Pengalaman Jamal dan Miko menyiratkan bahwa ada sikap yang berbeda antara umat Islam dan umat Kristiani ketika mereka bertemu dengan sosok berwawasan keagamaan. Nasib yang dialami Jamal sepertinya koinsiden dengan gagalnya arus Islam liberal yang kini kalah telak oleh Islam konservatif. Nafas kekalahan ini agaknya merebak dengan tingkat kedalaman yang berbeda di komunitas muslim yang berbeda pula. Apakah koinsiden ini dapat menjawab mengapa Jamal mendapat respon yang lebih agresif dari teman-teman muslimnya atau tidak, mungkin bisa diuji dengan penelusuran lebih jauh.

Kembali ke Miko. Apa yang diceritakan Miko menggambarkan sikap umat Kristiani yang cenderung lebih terbuka dan menerima bila bertemu dengan orang berwawasan keagamaan. Tetapi, baik Jamal ataupun Miko, faktor konteks dan prinsip tetap menentukan preposisi humor mereka.

“Semakin mengerikan sebuah humor, sebenarnya menunjukkan tingkat konservatisme yang juga mengerikan,” tutup Miko

“Iya, di lain sisi, humor pun baiknya jangan digunakan hanya untuk ‘menyenangkan’ satu kelompok, tapi menyinggung kelompok lain. Sarkas yang seperti itu sama saja kita berada pada konservatisme di sisi yang berbeda,” timpal Jamal.

FYI, hingga tulisan ini dibuat, Jamal tetap Muslim dan Miko pun tetap Kristen. Keduanya tetap berbagi ruang canda tanpa perlu resah bahwa imannya akan tergadai.

 

*) Artikel ini adalah hasil kerja sama islami.co  dan Biro Humas, Data, dan Informasi Kementerian Agama RI.