Penguatan Moderasi Beragama di Jerman [Bag-1]

Penguatan Moderasi Beragama di Jerman [Bag-1]

Program ‘Penguatan Moderasi Beragama’ telah dilaksanakan oleh Kementerian Agama RI kurang lebih sejak tiga tahun yang lalu dan akan terus dilakukan pada tahun-tahun yang akan datang.

Penguatan Moderasi Beragama di Jerman [Bag-1]
Delegasi program penguatan moderasi beragama [poto diambil dari Kastara.id]

Program ‘Penguatan Moderasi Beragama’ telah dilaksanakan oleh Kementerian Agama RI kurang lebih sejak tiga tahun yang lalu dan akan terus dilakukan pada tahun-tahun yang akan datang. Tujuan utama  dari program ini adalah terciptanya masyarakat yang hidup bersama secara harmonis dan penuh kedamaian, meskipun berbeda-beda dalam hal agama, suku, bahasa dan tradisinya. Bentuk kegiatan pada program ini beragam, mulai dari sosialisasi hingga training of trainers (TOT) di lingkungan Kemenag, baik di pusat maupun daerah, dan baik di kantor-kantor maupun di perguruan-perguran tinggi keagamaan.

Dengan terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) No. 58 Tahun 2023 tentang ‘Penguatan Moderasi Beragama’, program ini akan diadakan juga di kementerian-kementerian yang lain. Pada tahun 2024 program ini mulai dikembangkan oleh Kementerian Agama bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) di tingkat internasional. Agar lebih mudah dalam pelaksanaannya, Kementerian Agama cq Direktorat Pendidikan Diniah dan Pondok Pesantren bekerja sama dengan dua perguruan tinggi di Jerman, yakni Marburg University and Goethe University of Frankfurt. Menteri Agama, H. Yaqut Cholil Qoumas, dalam sambutannya mengatakan,

Kita memilih Negara Jerman sebagai mitra pertama dalam hal ini dengan beberapa alasan, sebagai berikut. Pertama, di Jerman terdapat banyak universitas yang menawarkan Religious Studies, di mana relasi antarumat beragama yang harmonis sangat ditekankan. Kedua, Jerman juga memiliki beberapa Institutes of Islamic Theology yang berfungsi mencetak lulusan-lulusan yang dapat mengajarkan Islam di sekolah-sekolah di Jerman. Ketiga, Jerman juga memiliki komunitas-komunitas keagamaan yang beragam dan pemuka-pemuka agamanya dapat berdialog tentang isu-isu sosial keagamaan bersama. Keempat, situs-situs keagamaan sangat menarik untuk dikunjungi dalam rangka menambah wawasan tentang keberagaman dan persatuan antarumat.

Beberapa kyai dan nyai muda dari beberapa pondok pesantren dikirim untuk mengikuti program ini dalam dua gelombang. Gelombang pertama diberangkatkan pada tanggal 22 Januari sampai dengan 2 Februari dan gelombang kedua pada tanggal 28 Februari sampai dengan 9 Maret. Pada gelombang pertama para peserta mengikuti workshop dan perkuliahan informal di dua perguruan tinggi tersebut bersama Prof. Arndt Graf, Prof. Albrecht Fuess, Prof. Edith Franke dan Dr. Sussanne Rodermeier, serta mengunjungi tempat-tempat ibadah agama Yahudi, Kristen dan Islam di Jerman. Mereka diajak juga untuk melihat dan merasakan kehidupan beragama di negara tersebut. Selain itu, mereka menyampaikan materi-materi tentang moderasi beragama kepada masyarakat Indonesia yang saat ini berada di Jerman.

Semua ini dilakukan dalam rangka mempertahankan dan menguatkan sikap moderat bangsa Indonesia yang bercirikan dengan toleransi, menghindari kekerasan, menghormati budaya lokal dan memiliki komitmen yang kuat dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Pancasila dan UUD 1945. Pola pikir, sikap dan perilaku semacam ini harus terus tetap ada, sehingga bangsa Indonesia mampu menggapai cita-cita luhurnya, yakni menciptakan Indonesia Emas, pada tahun 2024, di mana bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju dalam bidang sains dan teknologi dan dalam yang bersamaan memiliki spiritualitas keagamaan yang berorientasi pada kehidupan yang damai dan bersatu meskipun berbeda-beda dalam hal agama, suku dan tradisi.

Program ini bukan hanya dipandang baik oleh Kementerian Agama RI, tetapi juga mendapatkan apresiasi yang sangat besar dari Jerman. Salah satu apresiasi ini adalah diterimanya para peserta dari Indonesia oleh Kepala Pemerintahan (Oberbuergermeister), Dr. Thomas Spies. Dalam pertemuan dengannya, para peserta berdialog dengannya dan salah satu yang dibicarakan adalah seberapa jauh peran agama-agama dalam kehidupan orang-orang Jerman dan seberapa besar perhatian pemerintah pada peran kaum wanita dalam berbagai aspek kehidupan  Dengan dialog semacam ini, para peserta dari Indonesia mendapat pengetahuan dan pengalaman tentang bagaimana keberagaman agama di Jerman, Indonesier erleben religioese Vielfalt in Marburg (Delegasi Indonesia merasakan keberagaman agama di Marburg).