Ketika Guru Jadi Lini Depan Moderasi Beragama di kota Banjarmasin

Ketika Guru Jadi Lini Depan Moderasi Beragama di kota Banjarmasin

Ketika Guru Jadi Lini Depan Moderasi Beragama di kota Banjarmasin

Bagaimana jika seorang guru non-muslim, tidak berkerudung–seperti lazimnya pengajar di daearah itu–mengajar di kelas yang seluruh muridnya beragama Islam? Mingkin bagi sebagian orang adalah pemandangan biasa. Namun, perjumpaan tersebut adalah pengalaman yang tak terlupakan bagi para siswa MAN (Madrasah Aliyah Negeri) 2 Banjarmasin.

“Perjumpaan itu memang disengaja” kata Abdul Hadi, kepala sekolah MAN 2 Banjarmasin.

Hadi ingin siswa bisa mendapatkan pengalaman langsung akan perbedaan agama di Indonesia bukan hal yang tabu. Meskipun, guru non-Muslim tersebut hanya mahasiswa yang sedang menjalani proses praktik mengajar di sekolahnya.

Bagi Abdul Hadi, berjumpa dan berinteraksi dengan seorang non-Muslim adalah pengalaman mahal bagi siswanya. Sebab, mayoritas penduduk kota Banjarmasin beragama Islam dan sekolah yang dia kelola adalah institusi pendidikan Islam, di mana masyarakat non-Muslim mungkin saja segan jika masuk ke wilayah sekolah.

“Saya merasa ini akan jadi pengalaman hebat bagi para siswa, karena kesempatan mereka untuk bertemu orang non-Muslim dalam proses belajar-mengajar sangatlah tipis” tandas Hadi.

Untuk itu dia berinisiatif untuk memasukkan guru non-Muslim dari program mahasiswa magang di sekolahnya.

***

“Guru adalah lini depan penanaman nilai moderasi beragama bagi siswa” sebut Hadi.

Tentu hal ini terjadi karena proses belajar-mengajar yang dijadikan fondasi utama dalam penyebaran moderasi beragama di sekolah. Untuk itu, proses in harus disokong oleh peran guru yang mumpuni.

Ketika program moderasi beragama digenjot oleh Kementerian Agama, para guru mata pelajaran Agama memiliki tugas untuk menjelaskan dan mendedahkan nilai-nilai utama dalam moderasi beragama kepada para siswa.

“Mereka membekali diri dengan mengunduh buku saku Moderasi Beragama dan beberapa kali mendapatkan pembekalan dari kementerian” papar Hadi.

Walaupun, pembahasan nilai-nilai dalam moderasi beragama masih belum diulas secara mendalam di setiap Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

“MGMP belum mendalami atau menjadi wadah berbagi bagaiman mengajarkan nilai-nilai moderasi beragama kepada para siswa di tempat masing-masing” ujar Rufaidah, salah satu guru MAN 2 Banjarmasin.

Untuk itu, para guru biasanya berkreasi dalam penyampaian materi moderasi beragama kepada para siswa. Sokongan dari Kementerian Agama terkait model pembelajaran efektif dan kreatif sebenarnya sangat diharapkan oleh para guru. “Kami biasanya menyiapkan materi-materi yang kami kreasikan yang kami dapatkan di Youtube atau internet” sebut Rufaidah.

“Saya sering sebelum memulai pelajaran dengan mengajukan beragam kejadian terkait intoleransi” kata Latifah, guru mata kuliah Fikih di MAN 1 Banjarmasin. Latifah menyebutkan hal ini dia lakukan karena dia sadar bahwa para guru adalah faktor kunci, dalam menyiapkan siswa dalam menghadapi dunia pendidikan mandiri, dalam hal ini kampus.

Pengalaman Latifah yang berinteraksi dengan beragam pandangan intoleran saat berkuliah di kampus, menjadi modalnya dalam mempersiakan pelajaran yang ramah pada perbedaan. Mata pelajaran Fikih yang dia asuh juga menghadirkan tulisan-tulisan pembanding yang dia peroleh dari situs-situs yang terpercaya, guna menjelaskan tema-tema rentan yang menggiring pemikiran siswa kepada aksi ekstrimisme berbasis kekerasan.

“Kami juga memberikan penjelasan terkait gegar budaya yang akan dihadapi siswa dalam menghadapi guru non-Muslim” sebut Hadi kala saya bertanya soal bagaimana respon murid dalam menghadapi guru yang berbeda. Murid pun senang sekali bisa belajar dengan guru non-Muslim, walaupun tidak ada narasi soal agama yang dibahas dalam perjumpan mereka dengan guru tersebut.

***

Pendidikan adalah unsur paling strategis sebagai instrumen dalam desiminasi nilai nilai moderasi beragama di kalangan anak-anak muda. Walaupun, di sisi lain, pendidikan seakan harus “berlomba” dengan informasi yang dengan sangat mudah diperoleh oleh anak-anak muda lewat internet.

“Kadang ada siswa yang bertanya terkait informas-informasi yang dia terima di internet” kata Latifah. Dia menjelaskan keingintahuan para siswa atas narasi intoleransi sering selaras dengan beragam kasus kekerasan yang terjadi di wilayah sekitar hingga belahan dunia lain. Menurut Latifah, hal ini sebenarnya wajar sebab kita sendiri sebagai orang dewasa saja masih sering tergoda dengan pemikiran ekstrimisme.

Persoalan waktu belajar juga dikeluhkan oleh guru. Dengan target materi yang diberikan oleh Dinas Pendidikan atau Kementerian Agama, moderasi beragama seringkali harus dikorbankan. Di satu sisi, para guru dituntut untuk menyelesaikan target pembelajaran, namun di sisi lain, mereka diberikan tambahan materi berupa moderasi beragama kepada siswa.

Oleh sebab itu, hingga saat ini, para guru masih belum bisa dinilai efektif atau tidak seluruh pembelajaran atau pendedahan nilai-nilai moderasi beragama. “Kami tidak pernah melakukan evaluasi atas pembelajaran moderasi beragama” ujar Latifah. Meskipun, mereka menginginkan nilai-nilai tersebut bisa tertanam dengan baik di kalangan siswa, guna menjadi modal para siswa ke perguruan tinggi.

Sebagai lini depan, guru sebenarnya sadar peran mereka dalam mendedahkan moderasi beragama di tengah siswa. Namun, di sebagian guru juga masih terdapat keraguan hingga resistensi atas narasi moderasi beragama, di antara alasan mereka adalah kecurigaan mereka atas moderasi beragama sebagai alat melemahkan umat Islam. Pekerjaan rumah dalam pendedahan moderasi beragama pada para siswa jelas masih banyak dan perlu kerja keras dan kerjasama semua pihak untuk menghadirkan siswa yang moderat, toleran, ramah atas tradisi lokal, dan berpihak kepada kebangsaan.

 

Fatahallahu alaina futuh al-Arifin