Kenapa Portal-Islam.id dan Sejenisnya Tidak Layak Dijadikan Rujukan?

Kenapa Portal-Islam.id dan Sejenisnya Tidak Layak Dijadikan Rujukan?

Portal-islam.id dan sejenisnya tidak menggunakan prinsip jurnalisme dan menjual bombasme semata

Jika kita cermati pemberitaan media akhir-akhir ini, para politisi sudah mulai membuat sejumlah manuver. SBY misalnya, mantan presiden itu telah bertemu dengan Prabowo (Gerindra) dan Zulkifli Hasan (PAN). SBY juga mengatakan tidak akan berkoalisi dengan Jokowi. Sebelum SBY bertemu Prabowo, Jokowi telah menggelar acara makan malam bersama para ketua partai anggota koalisnya di Istana Bogor.

Sejumlah pertemuan itu mengindikasikan bahwa pesta demokrasi pemilihan presiden sudah semakin dekat. Naga-naganya hanya akan ada dua kubu di pilpres kali ini. Wajar jika sejumlah orang khawatir adanya polarisasi kekuatan politik seperti gelaran pilpres sebelumnya, yang berujung pada “kelahi tanpa henti” seperti yang sudah-sudah.

Tapi, kita berhak menjadi waras di tahun politik. Kewarasan kita jauh lebih penting dari sekadar gontok-gontokan tanpa juntrung. Mestinya kita bisa belajar dari pilpres 2014 dan pilgub DKI 2017. Sebetulnya, hal apa saja yang berpotensi mengusik kewarasan kita di tahun politik? Saya kira, salah satu jawabannya adalah cara kita mengonsumsi informasi. Lebih tepatnya cara kita berinteraksi dengan gawai.

Read More

Kita tahu, lebih dari separuh penduduk Indonesia telah terkoneksi internet. Adapun, sekitar 69% masyarakat Indonesia mengakses internet dengan menggunakan gawai (data WeAreSocial.net dan Hootsuite 2017). Artinya, akses masyarakat kita terhadap internet tidak bisa dibilang rendah dan pemanfaatan gawai cukup tinggi. Gawai (dengan koneksi internet) menjadi sumber informasi primer, ketika media-media jadul seperti koran dan televisi mulai ditinggalkan.

Di kelas, saya bertanya kepada mahasiswa semester dua (jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam) siapa yang masih membaca koran di pagi hari? Hanya satu dua orang mengangkat tangan. Lalu saya bertanya, adakah yang berlangganan koran? Tak seorang pun mengacungkan jari. Mereka bilang lebih baik buat beli kuota internet daripada langganan koran.

Lalu saya bertanya, dari mana mereka membaca berita? Beberapa mengaku dari Line Today, lalu dari Instagram, juga dari UC News. Sedikit yang menyebut portal-portal mapan seperti kompas dot com atau tempo dot co. Pemandangan dan jawaban yang kurang lebih sama saya temui di kelas-kelas lain.

Algooth Putranto menulis esai “Apakah Media Sosial Mendikte Kerja Jurnalisme?” di Remotivi. Ia menyampaikan: Riset konsumsi media terhadap 300 mahasiswa Gen-Z di 30 kampus se-Jakarta yang dilakukan pada Juni 2017 menemukan bahwa pola konsumsi berita didominasi melalui penggunaan aplikasi tukar pesan seperti WhatsApp dan Line, maupun news feed yang disediakan Facebook dan Line Today. Bila pola konsumsi Gen-Z di Jakarta dianggap sebagai representasi pola konsumsi pembaca berita daring di Indonesia, maka dapat dimaklumi jenis berita yang harus diproduksi media massa daring adalah berita ringan, cenderung remeh, dan sensasional.

Hasil riset Algooth Putranto tidak terlalu mengejutkan sebenarnya, mengingat apa yang kita amati sehari-hari menunjukkan kecenderungan yang sama. Ada yang berubah, ada yang bergeser, ada penyikapan-penyikapan. Maka, saya kira, untuk tetap menjadi waras di tahun politik, kita perlu menyiapkan sikap waspada, skeptis dan kritis.

Lazim kita jumpai di tahun politik ini sanak, kolega, kerabat atau kawan kita membagikan berita politik di grup-grup WA. Kalau kita ingin tetap menjaga kewarasan, kita bisa mengabaikan berita-berita bernuansa politis itu. Kalaupun kita ingin membacanya, pastikan berita itu dari portal-portal mapan, bukan abal-abal.

Kita juga bisa memilih untuk tidak membaca “berita” dari laman-laman partisan seperti portal-islam.id. Coba perhatikan bagaimana laman yang membawa-bawa Islam itu membuat judul: RESMI!!! MUI Sumatera Barat Tolak “Islam Nusantara”, HEBAT! Jokowi BERHASIL Menipu PBNU, NGENES! Megawati Memohon “Bantulah Saya!” Dibalas Kicauan Pedas Netizen: ORA SUDI.

Judul-judul yang provokatif-agresif, potensial memicu perpecahan dan nir etika serupa itu menjadikan portal-islam.id sebagai media yang tak layak baca dan dirujuk. Judul-judul serupa itu membuat kita terkenang masa kejayaan koran Lampu Merah dan kawan-kawannya. Judul mencolok mata dan merangsang nafsu pembaca untuk membacanya.

Sayangnya, yang membuat judul dan berita macam itu adalah laman dengan label Islam. Seolah itulah jurnalisme yang diajarkan oleh Islam atau kampus Islam. Padahal tidak begitu faktanya. Hal itu bertentangan sama sekali dengan kaidah umum jurnalisme.