Kasus Ratna Sarumpaet dan Teknik Firehose of Falsehood (Bag. 2 Habis)

Faktor Psikologis apa yang melatarbelangi Ratna Sarumpaet berbuat bohong? (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

Kasus Ratna Sarumpaet dan Teknik Firehose of Falsehood (Bag. 2 Habis)

Teknik Firehose untuk membangun Konservativisme

Pengelompokan masyarakat sebagai konservatif ataupun progresif ini bukanlah pembagian yang binary (hanya terbatas pada angka 0 atau 1). Namun, koservatif dan progresif ini adalah dua kutub dari sebuah spectrum. Mayoritas masyarakat kebanyakan berada diantara dua kutub tersebut, dengan amygdala dan insula yang hampir sama tebalnya. Tentu saja dengan banyak variasi apakah dia lebih condong ke kutub progresif atau kutub konservatif dari spectrumtersebut.

Teknik firehose of falsehoods ini memang dirancang untuk membangun ketidakpercayaan terhadap informasi. Termasuk ketidak percayaan pada media masa mainstream. Dalam kasus Donald Trump dikenal sebagai tuduhan fake news. Dengan demikian, masyarakat akan merasa ketakutan secara terus-menerus. Sehingga, kondisi ini tentu saja akan membuat amygdala masyarakat aktif secara terus menerus pula.

Amygdala adalah bagian otak yg tergolong primitive, karena berhubungan dengan kemampuan kita bertahan (survival instinct). Ketika amygdala kita aktif, tingkat kewaspadaan kita meningkat. Semua panca indra kita akan bekerja lebih baik. Sehingga kita bisa hati-hati terhadap kemungkinan adanya predator. Maka dengan kondisi ini, kita dapat memahami jika mayoritas orang akan lebih mudah diaktifkan amygdala-nya. Sementara, dibutuhkan tingkat kecerdasan tertentu bagi sesorang agar insula-nya lebih aktif. Karena empati muncul belakangan dalam proses evolusi kita.

Read More

Propaganda Firehose of Falsehood dan Kemenangan Trump di Pilpres AS 2016

Kemenangan Donald Trump begitu mengejutkan di Pilpres Amerika Serikat pada tahun 2016 yang lalu. Padahal sebelumnya banyak yang memprediksi, Hillary Clinton akan mendapatkan kemenangan yang mudah. Terlebih lagi Trump sering sekali melakukan kesalahan dengan melontarkan data-data palsu bahkan beberapa kali ia dengan sengaja berbohong.

Anehnya lagi, Trump dengan mudah mengakui kalau ia berbohong atau telah menggunakan data yang salah. Disaat yang sama, team kampanye Trump juga melakukan propaganda bahwa teamnya Clinton dengan dibantu oleh President Obama yang satu partai dengannya juga melakukan kebohongan-kebohongan. Meskipun pada saat itu banyak politisi Partai Repubilc, partainya Donald Trump, membelot mendukung Hillary Clinton, Trump tetap memperoleh kemenangan.

Setelah semua terjadi barulah mata banyak orang terbuka mengenai model propaganda firehose of falsehood yang digunakan oleh Trump ini. Banyak kalangan akhirnya menyesali karena tidak melakukan pencegahan dari awal. Termasuk Presiden Obama sendiri.

Presiden Obama sebenarnya memiliki peluang untuk menggunakan kekuasaannya untuk mencegah model propaganda hoax yang dilakukan oleh team kampanye Trump pada waktu itu. Namun, pada waktu itu mungkin saja Obama berpikir jika cara yang dilakukan oleh Trump tersebut mustahil berhasil, karena terlalu konyol. Atau mungkin saja Obama khawatir jika Trump dan team-nya ditindak karena menyebarkan hoax akan menjadi back-fired bagi dirinya dan Hillary. Sebagai presiden dari partai berkuasa, Obama bisa dituduh memberikan keuntungan bagi Hillary yang juga dari partai Democrat.

Kemungkinan lainnya adalah, Obama ber-positif-thinking kalau di dalam Partai Republic, partainya Trump, ada banyak orang-orang berintegritas seperti John McCain, lawan tandingnya pada pilpres pertamanya di 2008. Seperti yang tercatat oleh sejarah, John McCain bisa dengan mudah mengalahkan Obama jika mau menggunakan isu Rasis pada pilpres 2008 yang lalu, misalnya isu yang santer diawal yang mengatakan kalau Barack Husein Obama adalah seorang muslim. Hal ini tidak dilakukan oleh McCain, karena McCain tidak ingin Amerika menjadi negara yang rasis.

Teknik Firehose of Falsehood di Pilpres Indonesia

Data Cambridge Analytica (CA) menunjukan, kelompok pemilih konservatif memang cenderung akan memilih Prabowo-Sandi, mereka juga punya sikap tidak suka terhadap figure Jokowi. Sementara kelompok progresif lebih favourable atau bersikap mendukung ke pemerintahan Jokowi. Sementara, karena tidak adanya data pasti yang berasal dari data MRI Scan seperti ketika Trump akan melakukan kampanye pilpres 2016 silam, bisa diasumsikan sebagian besar karakter pemilih Indonesia juga berada ditengah.

Jika benar kasus RS sebagai salah satu bagian dari teknik firehose of falsehood. Maka kasus ini jelas menyasar segmen pemilih konservatif moderat sebagai kelompok yang ditengah dari dua kutub spectrum progresif dan konservatif ini. Memicu aktivasi amygdala ini akan berfungsi utk membuat bimbang kelompok yg ada ditengah. Dimana, selain insula-nya aktif, amygdala-nya masih sedikit lebih dominan.

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, konservatif menyukai pemimpin yang tegas, kuat dan berwibawa. Karakter ini sangat bisa dengan mudah ditemukan pada figur Prabowo. Sementara, karakter pemimpin yang simpatik, merakyat dan rendah hati sebagaimana yang disukai oleh kubu progresif, akan dengan mudah ditemukan pada figur Jokowi. Sehingga, aktivasi amygdala ini hanya akan menguntungkan Prabowo dalam kontestasi Pilpres kali ini.

Dalam kondisi ketakutan, kelompok yang ditengah akan bergerak menjadi lebih konservatif. Sehingga, mereka akan mencari kriteria pemimpin yang kuat, tegas dan berwibawa. Karena di dalam alam bawah sadar manusia-manusia yang ketakutan ini, pemimpin dengan kriteria itulah yang bisa menjadi solusi untuk menegakkan ketertiban dan keteraturan. Dengan kata lainnya, karakter tersebut dalam kontestasi pilpres 2019 ini hanya akan dapat ditemukan pada figur Prabowo.

Jadi, jika asumsi diawal benar, maka kasus RS ini bisa dikatakan sebagai salah satu teknik firehose yang jitu. Karena bisa dibayangkan, kasus ini bahkan mengalahkan exposure dari bencana sebesar Palu-Donggala yang seharusnya mendapatkan perhatian lebih dari media. Publik justru lebih tertarik untuk mengikuti kasus RS ini.

Maka, tidak perlu heran setelah kasus ini terbongkar, semuanya serentak memohon maaf. Tidak kalah menariknya adalah, proses permintaan maaf ini juga disertai dengan lemparan tuduhan, kalau pemerintah juga sering berbohong. Maka tidak heran jika kita akan tetap mendengar beberapa pembelaan yang terdengarnya absurd seperti ”dibohongi oleh satu emak-emak saja sakit, apalagi dibohongi oleh satu rezim dan cebongnya” atau “emak-emak ini lebih jantan mengakui kebohongannya sementara rezim ini masih sibuk ngeles dengan kebohongannya” dan lain sebagainya.

Menganggap remeh rangkaian kejadian ini bukanlah langkah bijak bagi kubu Jokowi. Ini adalah strategi yang sangat terukur dan pernah terbukti berhasil memenangkan Donald Trump di 2016 yang lalu. Jika memang ini adalah penerapan teknik firehose of falsehood, semua pembelaan ini bertujuan menyampaikan pesan, kubu Prabowo memang melakukan kebohongan, tetapi kubu Jokowi juga melakukan kebohongan dan kubu Prabowo lebih kesatria dalam menghadapinya.

Karena pada dasarnya, pesan paling penting dari teknik propaganda firehose of falsehood ini adalah, semua orang berbohong, jadi kebenaran tidaklah penting. Yang paling penting adalah opini, dan opini mereka lah yang paling layak untuk dipercaya. Karena mereka adalah pemimpin yang lebih kuat dan berwibawa. Demikian lah kenapa era setelah kemenangan Trump ini juga sering dinamakan sebagai era post-truth atau era pasca kebenaran.

sumber:

  1. Laporan Rand Corporation mengenai Teknik Firehose of Falsehood https://www.rand.org/content/dam/rand/pubs/perspectives/PE100/PE198/RAND_PE198.pdf
  2. Lecture Rose McDermott mengenai Genetic of Politic https://www.youtube.com/watch?v=THILuP582iw

Artikel ini sebelumnya pernah dimuat di Ahmadmfirdaus.com