Kajian Psikologis Ini Menjelaskan Kenapa Kita Gemar Berprasangka?

Ilustrasi: Alvin/islamidotco

Kajian Psikologis Ini Menjelaskan Kenapa Kita Gemar Berprasangka?

Kok ya kita gemar berprasangka, kenapa ya?

Pernahkah kita berprasangka? Jawabannya pasti sering. Prasangka pada dasarnya bisa mengarah pada hal baik dan juga bisa mengarah pada hal buruk. Prasangka yang arahnya kepada gambaran kebaikan disebut dengan prasanga baik. Contoh dari prasangka baik adalah berpikir positif pada sesuatu hal meskipun kita belum mengetahui sebenarnya. Kebalikannya adalah prasangka buruk, yang mengutamakan pemikiran yang buruk pada seseorang atau kejadian.

Prasangka ini kemudian menyempit hanya pada prasangka buruk. Hal ini ditunjukkan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang mengartikan prasangka sebagai pendapat (anggapan) yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui (menyaksikan, menyelidiki) sendiri. Selain itu, dalam perspektif psikologi sosial, Baron & Byrne (2003) dalam bukunya yang berjudul Social Psychology mendefinisikan prasangka sebagai sebagai sikap (bisa berupa pemikiran) yang bersifat negatif terhadap individu sebagai representasi dari kelompok sosial tertentu.

Prasangka bisa terjadi di berbagai bidang kehidupan. Salah duanya adalah bidang politik dan agama. Terlebih lagi, kedua segmen tersebut sedang mengalami dinamika yang tinggi di Indonesia. Tahun 2019 merupakan tahun politik, tak lama lagi Indonesia akan memilih presiden dan wakil presiden untuk periode 2019 sampai 2024. Berbagai cara dilakukan guna meraih dukungan dan menjatuhkan kompetitor politik. Salah satunya dengan prasangka.

Read More

Banyak prasangka yang terjadi, misalkan Presiden Joko Widodo dianggap sebagai keturunan komunis, kelompok yang dekat dengan pemerintah dianggap penjilat dan boleh diperangi, organisasi yang mendukung pemerintah dianggap telah keluar dari aturan agama sehingga harus dilawan, dan prasangka lain. Pertanyaannya, mengapa prasangka gemar dilakukan oleh banyak orang?

Prasangka bisa terbentuk karena adanya skema. Menurut Wyer & Srull (1994) dalam Handbook of Social Cognition menyebutkan bahwa skema adalah proses berpikir yang akan mengantarkan seseorang pada suatu kesimpulan dan prasangka yang didasarkan atas mengkaitkan seseorang dengan komponen lain. Di sisi lain, Steele, Spencer, & Lynch (1993) dalam jurnalnya yang berjudul Self-image Resilience and Dissonance: The Role of Affirmational Resources menuliskan bahwa orang menggemari prasangka karena dengan prasangka seseorang akan meningkatkan citra diri mereka di hadapan orang lain. Hal ini bisa dipahami, mengingat prasangka bertujuan merendahkan dan menciptakan gambaran buruk tentang orang lain atau kelompok lain.

Pada dunia politik misalnya, Presiden Joko Widodo seringkali diprasangka buruk. Tujuannya untuk memperburuk citra Presiden Joko Widodo. Di saat yang bersamaan, pendukung Prabowo Subianto selalu menciptakan gambaran baik tentang dirinya. Pada bidang agama misalnya, karena pemerintah sudah dicitrakan buruk, maka kelompok agama yang dekat dengan pemerintah juga akan diprasangka buruk. Selanjutnya, kelompok agama yang dekat dengan pemerintah akan dicitrakan buruk. Di saat yang bersamaan, mereka yang mencitrakan kelompok agama yang dekat dengan pemerintah adalah buruk berupaya menciptakan gambaran baik untuk diri mereka sendiri.

Bodenhausen (1993) dalam tulisannya yang berjudul Emotion, Arousal, and Stereotypic Judgement: A Heuristic Model of Affect and Stereotyping mengungkapkan faktor lain mengapa prasangka rentan dilakukan. Keyakinan terhadap prasangka berpotensi dilakukan oleh banyak orang karena dengan meyakini prasangka, orang tidak perlu lagi bersusah payah mencari kebenaran informasi. Orang rentan mempercayai informasi bahwa Presiden Joko Widodo keturunan komunis sehingga berprasangka demikian daripada repot-repot mencari silsilah Presiden Joko Widodo.

Fenomena lainnya berupa banyak orang yang dibunuh karena prasangka, salah satunya adalah Muhammad Said Ramadhan al-Buthi. Beliau adalah ulama Sunni terkemuka yang diakui kapasitas dan kredibilitasnya. Akan tetapi, hanya karena beliau tidak berada dalam satu barisan dengan kelompok pemberontak Suriah, maka beliau dianggap dekat dengan pemerintah Bashar al-Assad dan dianggap boleh diperangi. Kelompok pemberontak lebih mengedepankan prasangkanya daripada meminta klarifikasi dari beliau. Dampak dari prasangka ini adalah beliau dibunuh dengan dibom pada 21 Maret 2013 di Damaskus Suriah.

Pada masa perkembangan Wahabisme, banyak ratusan orang dibunuh karena diprasangka syirik dan sesat tanpa meminta penjelasan dari sikap peribadatan yang dianggap syirik dan sesat tersebut. Habib Muhamamd Luthfi bin Yahya, seorang ulama tarekat yang kapasitas keagamaannya tidak diragukan lagi, diprasangka buruk akibat dekat dengan pemerintah, dan kelompok yang memprasangka tidak meminta penjelasan dari sikap tersebut.

Contoh lain dari prasangka dipilih karena menghindarkan diri dari proses berpikir yang panjang adalah sikap Amerika Serikat yang menyerang Saddam Husein karena dianggap memiliki senjata pemusnah massal, yang sampai sekarang pun tidak ditemukan (karena memang tidak ada).

Hal yang perlu diwaspadai bahwa prasangka bisa terjadi akibat proses belajar sosial. Artinya, ketika seseorang mengajarkan prasangka pada orang lain, maka orang lain akan menganut prasangka tersebut dan menyebarkan prasangka tersebut. Ditambah lagi, dampak negatif dari prasangka adalah sikap diskriminasi.

Diskriminasi ini pada akhirnya akan bisa melahirkan perilaku agresi atau menyerang, baik agresi verbal maupun agresi fisik (menyakiti fisik, menyerang fisik, sampai membunuh).
Berdasarkan fakta sejarah, prasangka selalu melahirkan kegaduhan, bahkan sampai mengganggu stabilitas negara.

Oleh karena itu, sebagai orang yang beradab dan beragama, prasangka sebisa mungkin dihindari dengan berbagai cara. Misalkan, mengadakan kontak langsung dengan individu dan kelompok yang diprasangka, meminta kejelasan informasi oleh individu atau kelompok yang diprasangka, bersikap asertif terhadap orang yang berprasangka (menegur orang yang berprasangka dan memberikan informasi yang sebenarnya), mengandaikan diri sebagai sasaran prasangka sehingga memunculkan perasaan yang bisa menahan dirinya untuk berprasangka, serta melakukan terapi kognitif.

Pertanyaan mendasarnya adalah, bersediakah kita untuk menghentikan prasangka?