‘Islam Yes Kafir No’ itu Mabuk Agama, Bukan Dakwah

‘Islam Yes Kafir No’ itu Mabuk Agama, Bukan Dakwah

Bagaimana bisa kita mencekoki anak-anak kita dengan model seperti itu?

‘Islam Yes Kafir No’ itu Mabuk Agama, Bukan Dakwah

Orang tua pasti senang ketika mengetahui anaknya aktif dalam kegiatan keagamaan di sekolah. Hati orang tua tidak lagi was-was di tengah banyaknya berita tawuran anak-anak sekolahan. Kegiatan keagamaan di sekolah seperti sebuah garansi bahwa anaknya tidak akan menjadi anak nakal. Izin kegiatan keagamaan di sekolah seakan memberi jaminan kepada orang tua bahwa si anak akan diajari agama, yang itu juga berarti dididik dalam hal etika.

Akan tetapi, kepercayaan bulat-bulat orang tua itu saat ini bisa menjadi naif. Masalahnya bukan terletak pada agamanya, tapi pandangan keagamaan apa yang didikkkan kepada putra-putri kita di sekolahan. Pertanyaan ini bukan tanpa alasan jika kita menilik dua kasus yang saat ini tengah menarik perhatian banyak pihak. Kedua kasus itu adalah teror anggota rohis di salah satu satu SLTA kepada siswi yang tidak pakai jilbab dan yel-yel rasis oleh seorang pembina pramuka di salah satu SD di Jawa tengah.

Kedua kasus tersebut memberi memberi pelajaran bahwa orang tua tidak boleh melepaskan anaknya begitu saja berkegiatan di sekolah, sekalipun kegiatan itu bernama kegiatan keagamaan. Justru kegiatan keagamaan perlu mendapatkan pengawasan yang ketat oleh semua pihak. Salah satu alasannya adalah karakter keabsolutan keberan agama. Berbeda dengan kebenaran ilmu, sekalipun ilmu pasti/eksakta, agama selalu mengklaim kebenaran absolut. Membantah kebenaran agama dianggap sama dengan membantah kebenaran itu sendiri.

Bayangkan, jika agama yang berkarakter seperti ini di tangan manusia-manusia yang dangkal ilmunya, sempit cara berpikirnya, hatinya dipenuhi kebencian, dadanya disesaki kobaran permusuhan, agama jenis apa yang akan diajarakan kepada anak-anak kita?

Di tangan manusia yang dangkal ilmunya, agama bisa berubah menjadi doktrin yang menghina akal sehat, sehingga hoaks dipuja sebagai kebenaran. Di tangan manusia yang berpikir sempit, agama akan digunakan sebagai alat untuk membungkan kritisisme. Setiap pertanyaan kepada seorang guru agama selalu disergah sebagai peraguan terhadap wahyu Allah. Setiap perbedaan pendapat diperlakukan sebagai kesesatan yang harus disingkirkan.

Di tangan manusia yang hatinya dipenuhi kebencian, agama akan menjadi senjata untuk mengobarkan fitnah dan permusuhan. Agama dihadirkan tidak dengan kesantunan, tapi selalu menyalahkan dan melenyapkan siapa saja yang dianggap berlawanan. Atas nama agama, bahasa yang terlontar selalu adalah ancaman. Kebenaran agama selalu dihadirkan dengan menaklukkan orang lain yang tidak sepaham.

***
Jika kisah di atas dianggap sebagai berdakwah, cara dakwah siapakah yang sedang mereka contoh dan pertontonkan. Tidak sulit untuk menemukan ayat maupun hadits yang menyuruh kita sebagai Muslim untuk berdakwah, misalnya: ud’u ila sabili rabbika (ajaklah mereka ke jalan Tuhanmu); qul al-haqq walaw kana murran (sampaikan kebenaran sekalipun itu menyakitkan); atau ballighu anniy walaw ayah (sampaikan dariku sekalipun hanya satu ayat).

Sekalipun sangat jelas ayat atau hadits tentang dakwah, namun semua itu tidak boleh dijalankan tanpa etika. Dakwah harus dilakukan secara bijaksana, dengan tutur kata yang baik, dengan tindakan yang bermartabat. Jika ada aktivitas dakwah yang berubah menjadi teror, maka jelas itu bukan dakwah. Karena itu pula, seorang yang melakukan aktivitas dakwah harus memiliki kedewasaan bersikap, keluasan pandangan, dan kesantunan pekerti.

Dakwah yang dilakukan oleh orang yang hanya berbekal pengetahuan agama pas-pasan, tanpa memiliki keluasan pandangan dan etika, dakwah itu ramah berubah menjadi penyebaran ancaman dan ketakutan.

***

Jika anak-anak kita di sekolah didik agama yang dibalut dengan rasa kebencian, dia akan beragama dengan semangat pemusuhan. Jangan heran jika anak-anak kita semakin belajar agama, sikapnya semakin intoleran, karena agama yang diajarkan kepadanya adalah agama intoleran. Jangan heran jika anak-anak kita semakin belajar agama, semakin mudah tersulut amarah, karena agama yang ditanam di dadanya adalah agama kebencian.
Apakah mengherankan jika ada aktivis rohis yang meneror siswi yang tak pakai jilbab? Apakah mengherankan jika pembina pramuka mengajari yel-yel rasis pada anak didiknya? Mereka sesungguhnya adalah korban dari pendidikan agama yang intoleran itu juga.

Bisa dipastikan, para aktivis rohis itu dididik mentornya agar berdakwa sekuat tenaga agar semua siswa muslim di sekolahnya berperilaku syar’i (salah satuinya, berjilbab bagi siswi Muslimah). Jika masih ada yang tidak berjilbab, para aktivis rohis itu dianggap gagal membuktikan dirinya sebagai mujahid. Dari situlah kisah teror WA itu bermula.

Begitu juga dengan si pembina Pramuka, hampir bisa dipastikan dia adalah alumni dari pendidikan yang setiap hari keislamannya digelorakan melalui yel-yel “Islam Islam yes, kafir kafir no” itu. Saking seringnya otaknya dijejali slogan itu, sampai tidak ada kesempatan baginya untuk bertanya siapa yang disebut kafir dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Pun dia sampai tidak sempat untuk bertanya pada diri sendiri, apa dampak yel-yel itu dalam kehidupan kebersamaan anak-anak SD yang sedang tumbuh itu.

Mereka tidak sempat, bahkan mungkin merasa tidak perlu bertanya, karena semua itu dianggap sebagai kebenaran agama yang tidak perlu dipertanyakan. Meneror orang dianggap sebagai panggilan jihad, bersikap intoleran diyakini sebagai tiket masuk surga. Meminjam istilah Gus Mus, “Mereka itu dicekoki apa kok bisa mendem (mabok) agama seperti itu?”[]