SHARE
islam
islam

d]Secara harfiyah, Islam pertama-tama bermakna ‘kepasrahan’ dan ‘ketundukan’ kepada Tuhan Yang Maha Esa, kepada siapa semua ciptaan-Nya mengabdikan atau menghambakan diri. Tuhan Allah yang dipercaya kaum muslimin adalah Tuhan bagi semua ciptaan-Nya. Dialah ‘rabb al-‘alamin‘. Islam hadir untuk semua makhluk Tuhan; manusia dan alam semesta, kapan saja dan di mana saja. dengan begitu di hadapan-Nya semua makhluk, tanpa melihat aneka latar belakang sosial-budaya berada dalam posisi yang sama dan setara sebagai hamba Tuhan.

Islam juga berarti ‘keselamatan’ dan ‘kedamaian’ (salam). Nabi mengatakan; “al-Islam man salima al-muslimin min lisanihi wa yadihi” (orang Islam adalah orang yang kehadirannya membuat rasa aman bagi orang lain baik dari ucapan maupun tangannya).

Nabi Muhammad Saw. selalu menganjurkan umatnya untuk menyampaikan salam dengan ucapan: ‘Assalamu’alaikum” (Keselamatan atau kedamaian atas kalian semua) ketika saling bertemu. diantara kewajiban seorang muslim adalah menyebarkan ‘salam’. Membaca salam pada akhir shalat juga dinyatakan sebagai kewajiban.

Ajaran Islam ini tidak hanya dibicarakan atau diwacanakan, tetapi juga menjadi cara hidup Nabi Muhammad Saw. dalam kehidupan sehari-hari. Demikian juga cara hidup al-Khulafa al-rasyidun (para pengganti Nabi yang memperoleh petunjuk) dan para sahabat yang lain. Mereka hidup bersama orang lain yang berbeda agama tanpa membedakan, bersama orang miskin tanpa meminggirkan, bersama perempuan tanpa merendahkan, bersaama orang awam tanpa membodohi, bersama orang kecil dan orang kulit hitam tanpa mengurangi hak-haknya dan seterusnya.

Sayyed Hossen Nasr, salah seorang musim kontemporer terkemuka, kelahiran Iran, mengemukakan pandangannya secara lebih jauh tentang inti Islam ini. Katanya: “Jantung atau Inti Islam adalah Penyaksian keesaan Tuhan, universalitas kebenaran, kemutlakkan untuk tunduk kepada kehendak Tuhan, pemenuhan segala tanggung jawab manusia dan penghargaan kepada hak-hak seluruh makhluk hidup. Jantung atau inti Islam mengisyaratkan kepada kita untuk bangun dari mimpi yang melalaikan, ingat tentang siapa diri kita dan mengapa kita ada di sini, dan untuk mengenal serta menghargai agama-agama lain.”

“Islam beranggapan bahwa semua agama benar didasarkan kepada ketundukan mutlak kepada Tuhan. Nama Islam tidak hanya berarti agama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad melalui al-Qur’an tetapi juga seluruh agama yang autentik”. (Baca: Sayyed Hossen Nasr, The Heart of Islam).

Sumber; K.H. Husein Muhammad, Spiritualitas Manusia perspektif Islam Pesantren, hal. 7-9, Pustaka Rihlah, Jogjakarta, 2006.

NB: Artikel ini hasil kerjasama islami.co dan INFID<