Islam dan Kontrol Kekuasaan

Islam dan Kontrol Kekuasaan

Substansi demokrasi ialah bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat : dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Dengan sistem demokrasi setiap orang bisa memilih pemimpin yg disukai baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga dapat mengamalkan pesan Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

خيار أئمتكم الذين تحبونهم ويحبونكم ، وتصلون عليهم ويصلون عليكم…. رواه مسلم
Sebaik-baik pemimpinmu adalah pemimpin yang kamu mencintai mereka dan mereka mencintai kamu, serta kamu mendo’akan mereka dan mereka mendo’akan kamu. (HR. Muslim)

Dengan sistem demokrasi seiap orang bisa mengevaluasi, menasihati dan mengkritisi pemimpinnya bila terlihat melakukan kesalahan. Di pihak lain pemimpin harus siap menerima kritik, nasihat dan saran dari rakyatnya, seperti diteladankan oleh khalifah pertama dan khalifah kedua.

Read More

Salah satu isi pidato pertama khalifah Abu Bakar ash-shiddiq beberapa saat setelah diangkat menjadi khalifah berbunyi:
يا أيها الناس، اني وليت عليكم ولست بخيركم، فان رأيتموني على حق فأعينوني، وان رأيتموني على باطل فسددوني…. اطيعوني ما اطعت الله فيكم، فان عصيته فلا طاعة لي عليكم.
Wahai manusia, sesungguhnya aku telah diangkat menjadi pemimpinmu, sementara aku bukanlah org yang terbaik di antara kamu. Jika kamu melihat aku ada di jalan yg benar maka bantulah aku, tapi jika kamu melihat aku ada di jalan yang salah maka tunjukkanlah aku ke jalan yang benar… Taatlah kamu kepadaku selagi aku taat kepada Allah. Jika aku durhaka kepada-Nya maka kamu tidak punya kewajiban taat kepadaku.

Sementara khalifah kedua, Umar ibnul Khattab dengan lebih lantang menyatakan:

يا ايها الناس، من رأى فيٌ اعوجاجا فليقوٌمني
Barangsiapa melihat aku bengkok maka wajiblah dia meluruskan aku.

Pernyataan Umar tersebut langsung direspon oleh salah satu hadirin dengan mengatakan:

والله يا ابن الخطاب، لو راينا فيك اعوجاجا لقوٌمناه بحد سيوفنا.
Demi Allah, wahai Ibnul Khatthab, jika kami melihat anda bengkok pastilah kami meluruskan anda dengan tajamnya pedang kami.

Dengan sistem demokrasi, rakyat punya hak mengkritik dan mengingatkan, bahkan dalam kondisi tertentu rakyat dibenarkan melengserkan pemimpin yang mereka pilih. Dan tanpa keadilan dan kontrol rakyat atas kekuasaan, demokrasi bisa berubah menjadi bisnis demokrasi. []